Cerita ini dibuat berdasarkan realitas, alias mengikuti perkembangan zaman. Cerita ini juga mengandung kata-kata kasar, yang mungkin bisa membuat pembaca tidak nyaman.
Be a mature reader.
❦
Hari itu datang lebih cepat dari yang Reina dan Aldrian bayangkan.
Pernikahannya dengan Aldrian berlangsung dalam suasana yang hangat dan intim, hanya dihadiri oleh keluarga serta teman-teman dekat mereka. Tidak ada pesta besar, tidak ada sorotan media sosial, hanya sebuah upacara sederhana namun sah.
Reina mengenakan gaun putih sederhana dengan hiasan renda yang lembut. Rambutnya ditata rapi, dengan sedikit aksen bunga yang mempermanis penampilannya. Jantungnya berdebar sejak pagi, bukan karena bahagia, melainkan gugup—karena pernikahan ini bukanlah sesuatu yang dia inginkan dari awal.
Di sampingnya, Aldrian berdiri tegap dalam setelan jas hitamnya. Seperti biasa, ekspresinya datar, sulit ditebak apakah dia benar-benar peduli atau hanya mengikuti arus. Namun, di saat-saat tertentu, matanya sesekali melirik ke arah Reina, seakan memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja.
Di antara tamu yang hadir, teman-teman Aldrian paling berisik.
Rizal dan Bagas saling berbisik, mungkin bertaruh berapa lama Aldrian akan terbiasa dengan status barunya sebagai suami. Thalia dan Ilona sibuk mengambil foto diam-diam, sementara Shakila dan Gibran mengomentari setiap detail dekorasi dengan nada usil.
Saat prosesi ijab kabul berlangsung, suasana menjadi lebih khidmat. Aldrian mengucapkan akad dengan suara tegas, tanpa keraguan sedikit pun. Reina, yang sejak tadi menunduk, hanya bisa menggigit bibirnya, mencoba menahan campuran emosi yang berputar di dadanya.
Dan dalam hitungan menit, mereka resmi menjadi suami istri.
Seusai acara, teman-teman Aldrian langsung mengerubungi mereka berdua.
"Gila, bro. Lo beneran udah nikah sekarang," Rizal menepuk bahu Aldrian sambil tertawa.
Bagas menghela napas dramatis. "Hancur sudah status jomblo abadi lo."
Ilona menatap Reina dengan senyum menggoda. "Gimana rasanya jadi istri Aldrian? Serem gak?"
Reina hanya bisa tersenyum canggung. Dia belum tahu bagaimana kehidupannya setelah ini, tapi satu hal yang pasti—hidupnya tidak akan pernah sama lagi.
Setelah prosesi selesai, suasana sedikit mencair. Meskipun ini bukan pernikahan besar, tetap saja momen bahagia ini dirayakan dengan penuh kehangatan oleh keluarga mereka.
Tuan Gerald Devandra, ayah Aldrian, adalah orang pertama yang melangkah mendekat. Dengan senyum bangga, pria paruh baya itu menepuk bahu putranya sebelum menariknya ke dalam pelukan.
"Kau sekarang sudah menjadi suami, Aldrian. Aku harap kau bisa menjaga istrimu dengan baik," katanya dengan nada puas.
Aldrian tidak berkata banyak, hanya mengangguk kecil. Dia bukan tipe orang yang suka menunjukkan emosi, tapi dari sikapnya, dia tidak menolak pelukan ayahnya.
Di sisi lain, Ayah Reina juga mendekat, menatap putrinya dengan ekspresi haru. Setelah sekian lama mengatur dan mengontrol hidupnya, kini dia telah berhasil menikahkan Reina dengan pria yang dianggapnya "paling tepat."
Tanpa ragu, sang ayah menarik Reina ke dalam pelukan erat. "Ayah tahu ini yang terbaik untukmu, Nak. Kau akan hidup dengan baik bersama Aldrian," ucapnya penuh keyakinan.
Reina menggigit bibirnya. Dia tidak tahu harus berkata apa. Yang dia tahu, dia sekarang adalah istri Aldrian Devandra—dan hidupnya baru saja berubah selamanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Blue
Teen FictionReina Arabella tak pernah menyangka hidupnya akan berubah drastis di usia 20 tahun. Ayahnya, sosok yang begitu protektif, tiba-tiba mengumumkan perjodohannya dengan Aldrian Devandra, pria yang terkenal dingin, tertutup, dan sulit didekati. Mereka be...
