Cerita ini dibuat berdasarkan realitas, alias mengikuti perkembangan zaman. Cerita ini juga mengandung kata-kata kasar, yang mungkin bisa membuat pembaca tidak nyaman.
Be a mature reader.
❦
Sebulan Kemudian. Hari ini, acara event kampus diselenggarakan dengan besar-besaran. Dari pagi, kampus sudah dipenuhi mahasiswa, tamu undangan, dan berbagai tenant yang berjejer di area bazar. Bahkan beberapa saluran TV ikut meliput, menambah kesan megah dan meriah acara ini.
Di antara keramaian itu, Reina berjalan bersama teman-teman Aldrian. Mereka menyusuri area bazar makanan, mencicipi beberapa jajanan sambil menuju tenda belakang panggung.
"Acara tahun ini gila sih, sampai ada media segala," ujar Ilona sambil membawa minuman boba di tangannya.
"Ya iyalah, Aldrian sama timnya ngerjain event ini dari jauh-jauh hari," sahut Bagas yang berjalan di samping Reina.
Reina hanya tersenyum kecil mendengar mereka membahas Aldrian. Suaminya memang terlihat sibuk sejak tadi pagi, mengurus ini dan itu, memastikan semua berjalan lancar.
"Lo nggak capek, Reina?" tanya Gibran, meliriknya.
Reina menggeleng. "Enggak, seru malah. Aku baru pertama kali ikut event kampus sebesar ini."
"Bagus deh. Eh, lo harus lihat panggungnya, keren banget," ujar Rizal sambil menunjuk ke arah panggung utama yang dari kejauhan sudah terlihat gemerlap dengan tata cahaya yang spektakuler.
Mereka pun terus berjalan, menuju tenda belakang panggung, di mana Aldrian dan panitia lain sedang sibuk mengatur rundown acara. Reina sudah tak sabar untuk melihat bagaimana suaminya bekerja di tengah acara besar ini.
Sebelum bisa masuk ke area belakang panggung, mereka harus melewati pos pemeriksaan name tag. Setiap mahasiswa yang terlibat dalam acara ini wajib mengenakan name tag sebagai tanda identitas. Petugas panitia di depan memeriksa satu per satu sebelum mengizinkan mereka lewat.
Saat Reina sedang menunjukkan name tag-nya, Ilona tiba-tiba menarik tangannya pelan, menyenggol lengannya sambil berbisik, "Reina, lihat deh."
Reina mengikuti arah telunjuk Ilona dan langsung menemukan sosok Aldrian di antara kerumunan panitia. Pria itu berdiri sedikit menjauh, sibuk dengan walkie-talkie di tangan, ekspresinya serius.
"Halo, halo, yang di belakang panggung siapin setlist berikutnya. Sound system udah dicek belum? Gue nggak mau denger ada kendala di transisi lagu nanti!" suara Aldrian terdengar tegas, suaranya lebih berat dari biasanya, penuh ketegasan.
Dia tampak fokus, tangannya sibuk mengetik sesuatu di ponselnya sebelum kembali memberi instruksi pada panitia lain yang berdiri di sampingnya. Beberapa anggota BEM juga tampak berdiskusi dengan Aldrian, membicarakan rundown acara yang masih berjalan.
Reina tanpa sadar menggenggam name tag-nya lebih erat. Melihat Aldrian dalam mode "kerja" seperti ini... entah kenapa membuatnya sedikit terpesona. Berbeda dari biasanya yang santai dan sering menggoda, sekarang dia benar-benar terlihat seperti pemimpin yang kompeten dan dihormati.
"Aduh, gila sih. Cowok kalo lagi serius emang cakep," celetuk Ilona, terkikik.
Reina hanya bisa tersenyum kecil, menyadari kalau Ilona ada benarnya juga.
Reina dan teman-teman Aldrian masih asyik berfoto-foto di dekat panggung. Mereka bergantian mengambil pose, mengabadikan momen seru di acara besar ini. Cahaya lampu panggung yang terang menambah kesan dramatis pada hasil foto mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Blue
Novela JuvenilReina Arabella tak pernah menyangka hidupnya akan berubah drastis di usia 20 tahun. Ayahnya, sosok yang begitu protektif, tiba-tiba mengumumkan perjodohannya dengan Aldrian Devandra, pria yang terkenal dingin, tertutup, dan sulit didekati. Mereka be...
