Chapter 7

25 1 0
                                        

Cerita ini dibuat berdasarkan realitas, alias mengikuti perkembangan zaman. Cerita ini juga mengandung kata-kata kasar, yang mungkin bisa membuat pembaca tidak nyaman.

Be a mature reader.

Saat BMW X6 hitam itu memasuki area parkiran kampus, beberapa mahasiswa yang sedang berkumpul langsung menoleh.

"Eh, mobil siapa tuh? Keren banget!" bisik seorang mahasiswa dari sudut kantin yang kebetulan menghadap ke arah parkiran.

Ketika pintu terbuka dan Aldrian keluar lebih dulu, mengenakan kemeja hitam dengan tangan digulung, beberapa orang sudah mulai berbisik-bisik. Tapi ketika sisi penumpang terbuka dan Reina ikut turun, suasana langsung berubah.

"Gila... Itu Reina, kan?"

"Lo bercanda? Reina yang anak Sastra? Yang kemarin dideketin sama geng Aldrian?"

"Mereka beneran pacaran?!"

"Bukan pacaran, BEGO! Mereka nikah!"

Bisikan-bisikan makin menjadi ketika Aldrian berjalan santai dengan Reina di sampingnya. Meski tidak bergandengan tangan atau menunjukkan interaksi romantis, tetap saja ini menjadi kejadian langka. Aldrian Devandra—si Most Wanted Kampus—datang ke kampus dengan seorang gadis yang bukan bagian dari lingkaran sosialnya yang terkenal.

Reina merasakan tatapan tajam di sekelilingnya dan otomatis menundukkan kepala, merasa sedikit terintimidasi. Tangannya meremas tali tasnya erat-erat, berusaha tetap tenang.

Sementara itu, Aldrian sama sekali tidak peduli. Tatapan-tatapan itu bukan hal baru baginya. Dia tetap berjalan santai ke arah gedung fakultas tanpa menghiraukan keributan kecil yang mulai muncul di antara mahasiswa.

Bagas dan Rizal, yang kebetulan duduk di bangku dekat parkiran, langsung tertawa pelan melihat situasi ini.

"Udah gue bilang, bakal heboh!" ujar Rizal sambil menyenggol Bagas.

"Nih kampus kayak kekurangan gosip, anjir," Bagas terkekeh. "Fix, base kampus bakal rame lagi hari ini."

Sementara itu, Reina semakin merasa gugup. Ini baru pagi, dan dia sudah menjadi pusat perhatian. Apa seluruh kampus akan terus membicarakan mereka sepanjang hari...?

Begitu mereka melewati area parkiran yang penuh dengan tatapan penasaran, Reina langsung mempercepat langkahnya menuju gedung fakultas Sastra. Dia menundukkan kepala, berusaha menghindari kontak mata dengan siapapun. Jantungnya masih berdebar kencang.

"Kenapa mereka liatin aku terus...?" pikirnya cemas.

Telinganya masih bisa menangkap beberapa bisikan mahasiswa di sekitar lorong.

"Itu beneran Reina? Kok bisa sih dia sama Aldrian?"

"Mereka beneran nikah? Gue kira cuma gosip!"

Reina menghela napas, berusaha menenangkan diri. Dia tidak ingin terlalu memikirkan mereka. Dengan cepat, dia masuk ke gedung fakultas dan menuju kelasnya tanpa menoleh ke belakang.

Sementara itu, Aldrian sama sekali tidak terpengaruh dengan perhatian yang mereka dapatkan tadi. Seolah tak terjadi apa-apa, dia berjalan santai menuju kantin, memasukkan satu tangan ke saku celana dan membuka ponselnya dengan tangan yang lain.

Begitu sampai di kantin, dia langsung melihat teman-temannya yang sudah berkumpul di meja biasa mereka. Bagas, Rizal, Ilona, dan Thalia ada di sana. Seperti yang sudah dia duga, mereka semua menatapnya dengan ekspresi penuh arti.

My BlueTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang