Cerita ini dibuat berdasarkan realitas, alias mengikuti perkembangan zaman. Cerita ini juga mengandung kata-kata kasar, yang mungkin bisa membuat pembaca tidak nyaman.
Be a mature reader.
❦
Aldrian menghela napas panjang begitu melewati pintu utama rumah. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, dan akhirnya ia bisa pulang setelah rapat HIMA yang terasa tak ada habisnya.
Tangannya terangkat, mengusap tengkuknya yang terasa pegal, lalu ia melangkah santai ke lantai dua, menuju kamarnya.
Begitu membuka pintu…
Sial.
Langkah Aldrian terhenti seketika.
Di ranjang, Reina duduk bersandar pada kepala tempat tidur, tenggelam dalam fokus dengan laptopnya. Lampu kamar hanya menyala temaram, menciptakan suasana yang lebih intim dari seharusnya.
Tapi yang lebih membuat Aldrian terdiam adalah penampilannya.
Gadis itu mengenakan tank top putih ketat yang membentuk tubuh mungilnya dengan sempurna, serta celana training abu-abu longgar yang tampak nyaman. Rambutnya yang biasanya rapi kini sedikit berantakan, efek dari terlalu lama berkutat dengan tugasnya.
Aldrian langsung membuang muka, merasakan panas di tengkuknya.
Kenapa dia nggak pake hoodie kayak biasanya?!
Sambil menutup pintu di belakangnya, Aldrian menghela napas pelan, mencoba tetap tenang. Tapi sialnya, matanya masih saja melirik Reina tanpa sadar.
Gadis itu tampak begitu santai, seolah tidak sadar betapa… menggoda penampilannya di mata seorang pria yang baru pulang larut malam.
"Belum tidur?" suara Aldrian terdengar sedikit serak karena kelelahan.
Reina mengangkat kepala, baru menyadari kehadirannya. "Oh, Kak Aldrian udah pulang?" Ia mengusap matanya yang sedikit mengantuk, lalu tersenyum kecil. "Lagi ngerjain tugas… tinggal dikit lagi."
Aldrian mengangguk pelan. "Jangan begadang."
"Iya…" Reina kembali fokus ke layar laptopnya.
Aldrian berjalan menuju lemari, membuka jaketnya, dan menggantungnya di dalam. Tapi sesekali, matanya tetap melirik ke arah Reina yang masih asyik dengan pekerjaannya.
Sial. Kenapa rasanya sulit untuk tidak melihatnya?
Ia mengambil napas dalam-dalam, mencoba mengalihkan pikirannya, lalu berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Tapi satu hal yang pasti—tidur di kamar yang sama dengan Reina malam ini bakal terasa lebih sulit dari biasanya.
———
Aldrian keluar dari kamar mandi dengan handuk yang masih tergantung di lehernya, rambutnya basah berantakan setelah ia menyekanya asal. Ia mengenakan kaus hitam longgar dan celana pendek training, terlihat lebih santai dari biasanya.
Matanya langsung menangkap Reina yang baru saja menutup laptopnya, meregangkan tubuh mungilnya dengan santai.
Sial.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Blue
Teen FictionReina Arabella tak pernah menyangka hidupnya akan berubah drastis di usia 20 tahun. Ayahnya, sosok yang begitu protektif, tiba-tiba mengumumkan perjodohannya dengan Aldrian Devandra, pria yang terkenal dingin, tertutup, dan sulit didekati. Mereka be...
