Chapter 14

17 1 0
                                        

Cerita ini dibuat berdasarkan realitas, alias mengikuti perkembangan zaman. Cerita ini juga mengandung kata-kata kasar, yang mungkin bisa membuat pembaca tidak nyaman.

Be a mature reader.

Reina menyeret langkahnya perlahan, masih sedikit lelah setelah empat kelas berturut-turut di pagi hari. Tangannya tertarik oleh ponsel, mencoba mengalihkan diri dari rasa capek dan mual yang kadang muncul. Namun, notifikasi masuk dari Aldrian, dan sebelum sempat dibaca, suara dinginnya terdengar jelas.

“Makan?” Aldrian berdiri bersandar di tembok dekat pintu kelas, matanya tetap waspada, seolah membaca setiap gerak-gerik Reina.

Reina menatap jam di ponselnya sebentar, bibirnya berkerut ragu. “Tapi ngga terlalu laper…”

Aldrian melangkah lebih dekat, suaranya tetap tenang tapi tegas. “Ngemil. Ayo ke kantin.”

Tangan Aldrian sudah lebih dulu terulur. Tanpa bisa menolak, Reina menggenggam tangan suaminya. Mereka berjalan bergandengan melewati lorong kampus, langkah Reina pelan tapi mantap, menyesuaikan diri dengan Aldrian yang berjalan di sampingnya.

Banyak tatapan dari teman-teman dan mahasiswa lain yang mengikuti langkah mereka, sebagian penuh rasa penasaran, sebagian lagi hanya iseng mengamati. Tapi Aldrian sama sekali tak peduli. Fokusnya hanya pada Reina, memastikan istrinya aman, nyaman, dan setidaknya hari ini bisa menikmati sesuatu untuk dimakan, sekadar mengisi tenaga di tengah hari yang melelahkan.

Sesampainya di kantin, Aldrian menarik kursi untuk Reina dengan sigap, membiarkan dirinya duduk di samping. Tidak banyak bicara, hanya menatap Reina sambil menunggu dia memutuskan apa yang ingin dimakan. Ketenangannya membuat Reina sedikit tersenyum, merasa diperhatikan meski hari ini terasa melelahkan.

Reina melihat-lihat dahulu apa yang dia mau. Dia memutuskan sebentar, berpikir, kalau dia makan ini atau itu, apakah akan mual?

"Tempura boleh?" Tanya Reina pelan pada Aldrian.

"Gak."

"Katanya ngemil?" Reina cemberut kesal. Aldrian menggelengkan kepalanya, menolak.

"Ngemil yang sehat. Makan yang lain"

Reina mencari lagi, "Batagor? Siomay? Dimsum?"

"Boleh. Mau yang mana?"

"Dimsum aja deh" Aldrian mengangguk atas keinginan Reina.

Dia langsung berdiri, meninggalkan tas serta ponselnya diatas meja. Tapi, Reina menahan tangan Aldrian sebentar.

"Kak... Aku mau es teh juga, yang manis, es nya banyak, sedotan nya jangan warna ijo ya?"

Aldrian bertanya-tanya. "Kenapa kalo ijo?"

"Dede nya ngga suka"

Ini membuat Aldrian lebih bertanya-tanya lagi. Kenapa anak mereka tidak mau sedotan warna hijau? Tapi, Aldrige tetap mengangguk, pokoknya es teh manis, ekstra es, dan tidak boleh memakai sedotan hijau.

———

Aldrian kembali dengan pesanan Reina di tangan nya. Dia juga membeli pisang coklat dan 1 bungkus jelly, untuk menemani Reina saat kelas nanti.

Reina memakan dimsum nya dengan ceria, syukurlah hari ini dia mau makan. Karena tadi pagi, Reina benar-benar sulit untuk sarapan, dia terus mual.

Pria di hadapan nya, sedang sibuk memperhatikan nya makan. Reina melirik suaminya, kenapa dia menatapnya makan seperti itu.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Oct 16, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

My BlueTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang