Chapter 2

207 11 0
                                        

Cerita ini dibuat berdasarkan realitas, alias mengikuti perkembangan zaman. Cerita ini juga mengandung kata-kata kasar, yang mungkin bisa membuat pembaca tidak nyaman.

Be a mature reader.

Keesokan harinya, matahari pagi menyinari Universitas Garuda dengan hangat. Aldrian baru saja turun dari motornya, melepas helmnya, dan berjalan santai ke arah gedung fakultasnya.

Hari ini seharusnya berjalan seperti biasa. Tapi satu hal yang masih terngiang di kepalanya—Reina.

Omongan teman-temannya tadi malam memang terdengar konyol, tapi sialnya, sekarang ia malah memikirkan gadis itu.

Tanpa sadar, langkahnya justru mengarah ke lorong tempat mading kampus berada. Tempat di mana minggu lalu dia melihat Reina berdiri, sibuk memperhatikan poster-poster olimpiade dan pertukaran pelajar.

Dan benar saja—di tempat yang sama, Reina ada di sana.

Gadis itu berdiri dengan tenang, mengenakan sweater oversized berwarna krem dan celana jeans. Rambut panjangnya diikat rendah, dengan beberapa helai berjatuhan di sekitar wajahnya. Ia tampak fokus membaca sesuatu di mading.

Aldrian berdiri tak jauh darinya, memperhatikannya sejenak. Harusnya dia pergi. Tapi sial, kata-kata Bagas kembali terngiang di kepalanya.

Aldrian menghela napas.

Bodoh amat. Dengan langkah santai, dia akhirnya berjalan mendekati Reina. Saat jarak mereka hanya tinggal beberapa langkah, Reina tiba-tiba menyadari kehadirannya dan menoleh.

Tatapan mereka bertemu.

Dan untuk pertama kalinya, Aldrian melihat dengan jelas ekspresi gadis itu saat melihatnya.

Reina Arabella. Gadis 20 tahun yang selama ini nyaris tak pernah masuk dalam radar Aldrian.

Rambutnya sedikit kecoklatan, mungkin karena pernah diwarnai, tapi tetap terlihat natural. Berbeda dengan kebanyakan mahasiswa lain, cara berpakaiannya sederhana—sweater oversized, jeans, dan sepatu sneakers polos. Tidak ada riasan berlebihan di wajahnya, hanya tampilan yang bersih dan alami.

Tapi yang paling menonjol dari dirinya adalah auranya. Tenang. Pendiam. Terlihat canggung, tapi juga penuh rasa ingin tahu.

Dan sekarang, mata gadis itu menatap Aldrian dengan jelas—terkejut, tapi tetap berusaha tenang. Seakan baru pertama kali benar-benar menyadari keberadaan pria yang dijodohkan dengannya.

Reina menelan ludah, mengalihkan pandangan ke arah lain sejenak sebelum kembali menatap Aldrian. Suaranya pelan, penuh kehati-hatian. “Kamu… ada perlu?”

Aldrian memasukkan tangan ke saku celananya, menatap Reina tanpa ekspresi. “Gak juga.”

Reina berkedip, jelas bingung dengan jawaban itu. Sebenarnya, Aldrian juga bingung. Kenapa dia malah berdiri di sini? Bukankah dia yang bilang kalau ini gak penting? Tapi, sialnya… sekarang dia sudah terlanjur ada di sini.

Aldrian akhirnya menghela napas sebelum akhirnya berkata, “Nomor lo.”

Reina mengerutkan kening. “Eh?”

My BlueTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang