Cerita ini dibuat berdasarkan realitas, alias mengikuti perkembangan zaman. Cerita ini juga mengandung kata-kata kasar, yang mungkin bisa membuat pembaca tidak nyaman.
Be a mature reader.
❦
Setelah selesai berbelanja di supermarket, Aldrian memasukkan beberapa kantong belanjaan ke bagasi mobil. Reina berdiri di samping, mengencangkan jaketnya karena udara malam mulai terasa dingin.
Saat Aldrian hendak menutup bagasi, dia tiba-tiba berbicara tanpa menoleh.
"Nanti malem ikut gue."
Reina yang sedang membuka pintu mobil, langsung menoleh. "Hah? Kemana?"
Aldrian menutup bagasi dengan satu tangan lalu berjalan ke sisi pengemudi. "Kumpulan sama yang lain."
Reina terdiam. Sejak menikah, dia sudah beberapa kali bertemu dengan teman-teman Aldrian, tapi selalu dalam situasi yang lebih tenang. Sekarang, kumpulan? Di mana? Dan apakah dia benar-benar harus ikut?
"Aku harus ikut ya?" tanyanya ragu.
Aldrian memasuki mobil dan menyalakan mesin. "Terserah. Tapi mereka pasti nanya kalo lo nggak ada."
Reina menggigit bibirnya. Dia tahu teman-teman Aldrian adalah tipe yang santai dan tidak terlalu memaksakan interaksi, tapi tetap saja… dia merasa canggung.
"Tapi aku nggak biasa nongkrong malem-malem…" ucap Reina pelan.
Aldrian menoleh sebentar, lalu kembali fokus ke jalan. "Lo udah nikah sama gue, jadi nggak ada yang bisa larang lo selain gue sendiri. Santai aja."
Reina mengerjap, mendengar kata-kata Aldrian yang begitu santai tapi tetap membuatnya merona. Jadi… dia boleh ikut hanya karena suaminya ini mengizinkan?
Tanpa sadar, Reina mengangguk pelan. "O—oke…"
Aldrian tidak merespons lagi. Tapi kalau diperhatikan, sudut bibirnya sedikit naik. Malam ini akan menjadi malam yang panjang.
———
Reina berdiri di depan cermin, merapikan hoodie abu-abu tua yang baru saja ia kenakan. Ia menatap pantulan dirinya, memastikan semuanya terlihat rapi. Celana hitam panjang yang ia pakai terasa nyaman, dan hoodie ini cukup hangat untuk udara malam.
Saat ia berbalik, Aldrian sudah berdiri di dekat pintu, mengenakan pakaian dengan warna yang sama—hoodie abu-abu tua dan celana hitam panjang. Reina menatapnya dengan sedikit terkejut.
"Kok… sama?" tanyanya, sedikit malu.
Aldrian hanya mengangkat bahu, mengambil kunci mobil dari meja. "Kebetulan."
Reina tidak yakin apakah ini benar-benar kebetulan atau Aldrian sengaja. Tapi melihat pria itu tampak santai, dia memilih untuk tidak banyak bertanya.
"Udah? Ayo jalan." Aldrian berjalan lebih dulu keluar kamar. Reina buru-buru menyusul.
Saat mereka keluar dari rumah dan menuju mobil, Reina tak bisa menahan senyum kecilnya. Mereka tidak berniat memakai baju couple, tapi sekarang terlihat seperti pasangan yang sengaja mencocokkan pakaian mereka. Dan entah kenapa, itu membuat hatinya terasa sedikit lebih hangat.
BMW X6 hitam milik Aldrian berhenti di depan sebuah kafe kecil yang cukup ramai. Meski tempatnya tidak terlalu besar, suasana di dalamnya selalu hidup, seolah sudah menjadi basecamp bagi mereka. Musik akustik mengalun pelan, dan suara obrolan para pelanggan memenuhi ruangan.
Begitu Aldrian dan Reina melangkah masuk, mereka langsung disambut oleh teman-temannya yang sudah duduk di meja favorit di sudut ruangan. Ilona, yang pertama kali melihat mereka, langsung bersiul dengan ekspresi jahil.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Blue
Teen FictionReina Arabella tak pernah menyangka hidupnya akan berubah drastis di usia 20 tahun. Ayahnya, sosok yang begitu protektif, tiba-tiba mengumumkan perjodohannya dengan Aldrian Devandra, pria yang terkenal dingin, tertutup, dan sulit didekati. Mereka be...
