Cerita ini dibuat berdasarkan realitas, alias mengikuti perkembangan zaman. Cerita ini juga mengandung kata-kata kasar, yang mungkin bisa membuat pembaca tidak nyaman.
Be a mature reader.
❦
Di kampus, Aldrian menenteng jaket almamaternya dengan santai sambil berjalan menuju kantin bersama Reina. Suasana masih ramai meskipun event besar-besaran itu sudah hampir selesai. Beberapa mahasiswa masih sibuk mengurus persiapan penutupan, sementara yang lain menikmati sisa-sisa keramaian di sekitar panggung.
Saat mereka mendekati area dekat panggung, Aldrian melihat teman-temannya sudah berkumpul. Bagas, Rizal, dan Ilona sedang duduk santai di kursi plastik, sementara Gibran tampak asyik berbicara dengan Shakila—yang, anehnya, ikut serta kali ini.
"Tumben?" Aldrian menyindir begitu mereka sampai, matanya melirik ke arah Shakila yang biasanya lebih suka tempat sepi.
Shakila mendengus pelan, lalu menyesap es tehnya dengan santai. "Gue dipaksa."
Gibran langsung memasang tampang tak berdosa. "Bukan dipaksa, Sayang. Cuma di bujuk baik-baik."
Bagas tertawa, sementara Rizal hanya geleng-geleng kepala. "Bujuk apanya? Lo ngasih dia coklat sama janji traktir boba, kan?"
Shakila hanya mendelik malas, tapi tidak membantah.
Reina tersenyum tipis melihat interaksi mereka, lalu duduk di sebelah Ilona. Sementara itu, Aldrian dengan santainya duduk di kursi kosong, lalu meregangkan bahu.
"Hari terakhir, ya," Rizal bersuara, matanya menatap panggung yang mulai sepi. "Lo puas nggak, Al?"
Aldrian hanya mengangkat bahu. "Lumayan lah. Cuma capek doang."
Bagas terkekeh. "Capek karena event? Atau karena kegiatan lain, nih?" godanya dengan senyum penuh arti.
Reina yang sedang menyesap minumnya tiba-tiba tersedak pelan. Dia melirik Aldrian dengan waspada, takut suaminya akan membalas godaan itu. Tapi Aldrian hanya tertawa kecil, tak membantah maupun mengiyakan.
Gibran ikut bersiul menggoda. "Liat aja tuh bini nya, langsung panik."
Reina mendengus, lalu menundukkan wajahnya dalam diam. Astaga, kenapa mereka harus mengungkit hal itu di sini?!
Thalia yang duduk di seberang Aldrian sedang sibuk menggulir ponselnya, tapi kemudian matanya menangkap sesuatu. Sedikit bekas cakaran yang masih terlihat di lengan Aldrian meskipun tertutup kaos.
Dia mengangkat alisnya, lalu menyeringai. "Wah, ‘kucing’ lo galak ya, Al."
Aldrian hanya menoleh santai, menyandarkan punggungnya di kursi dengan ekspresi tak terbaca. "Gue nakal," balasnya ringan.
Reina yang baru saja ingin menyesap minumnya langsung membeku. Wajahnya perlahan merona. Dia tahu persis apa yang dimaksud Thalia—terlebih setelah membaca chat di grup ‘Pecinta Jomok’ tadi malam.
Gibran langsung tertawa. "Pantes aja lo kemarin ngetik gitu di grup. Cakaran di mana-mana, ya?"
Rizal mengangguk setuju. "Gue kira lo cuma bercanda, ternyata beneran."
KAMU SEDANG MEMBACA
My Blue
Teen FictionReina Arabella tak pernah menyangka hidupnya akan berubah drastis di usia 20 tahun. Ayahnya, sosok yang begitu protektif, tiba-tiba mengumumkan perjodohannya dengan Aldrian Devandra, pria yang terkenal dingin, tertutup, dan sulit didekati. Mereka be...
