Cerita ini dibuat berdasarkan realitas, alias mengikuti perkembangan zaman. Cerita ini juga mengandung kata-kata kasar, yang mungkin bisa membuat pembaca tidak nyaman.
Be a mature reader.
❦
Suara deru mesin motor besar menggema di area parkiran tempat billiard, menarik perhatian beberapa orang yang sedang nongkrong di depan pintu masuk.
Harley Davidson hitam milik Aldrian berhenti di salah satu sudut parkiran. Dengan gerakan santai, Aldrian mematikan mesin, menurunkan standar, lalu melepas helmnya. Rambutnya sedikit berantakan karena angin, tapi dia tidak peduli.
Begitu dia masuk ke dalam, suasana di dalam tempat billiard langsung menyambutnya dengan riuh. Lampu-lampu neon biru menerangi ruangan, dentingan bola-bola billiard saling bertabrakan di atas meja hijau, suara musik mengalun pelan di latar belakang.
Beberapa temannya sudah berkumpul. Ada yang fokus bermain, ada yang sekadar duduk-duduk menikmati minuman mereka. Tapi perhatian mereka langsung beralih begitu Aldrian masuk.
"Eh, akhirnya datang juga si calon suami!"
Tawa kecil terdengar dari sudut ruangan. Aldrian baru saja berjalan beberapa langkah, tapi sudah ada beberapa gadis yang menghampirinya, menyeringai menggoda.
"Gimana, Al? Jalan-jalan sama tunangan lo tadi?" Salah satu dari mereka menyenggol lengannya, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu.
"Jangan-jangan lo beneran jatuh hati nih?" goda yang lain, membuat beberapa orang ikut tertawa.
Aldrian hanya melirik mereka sebentar sebelum berjalan melewati tanpa menjawab. Dia terlalu malas menanggapi candaan mereka.
Bagas yang sedang bersandar di meja billiard ikut tertawa, melempar tongkat ke arah Aldrian. "Santai banget, bos. Lo keluar berdua aja udah bikin kampus heboh. Udah lo cium belum tuh?"
Aldrian menangkap tongkat itu dengan mudah, lalu menatap Bagas datar. "Bacot."
Tawa semakin pecah di ruangan itu.
Aldrian hanya menghela napas, lalu berjalan ke arah salah satu meja billiard yang kosong. Tanpa banyak bicara, dia mengambil kapur cue stick, menggosokkan ke ujung tongkatnya, bersiap bermain.
Tidak peduli seberapa banyak teman-temannya menggoda, dia tetap Aldrian yang sama.
Aldrian menunduk sedikit, merapikan posisi bola dengan ujung tongkatnya sebelum melakukan break shot. Dengan satu hentakan kuat, bola putih meluncur cepat, menghantam bola-bola lain yang langsung terpental ke berbagai arah.
Beberapa bola masuk ke dalam kantung meja, membuat beberapa temannya bersiul kagum.
"Skill lo masih nggak ada lawan sih," komentar Rizal yang duduk di kursi tinggi sambil merokok. "Tapi fokus lo lagi kacau nggak sih?"
Aldrian tidak menjawab. Dia hanya mengangkat sebelah alisnya sebelum kembali membidik bola selanjutnya. Dia tidak mau mengakuinya. Tapi memang, pikirannya terasa lebih berat malam ini.
Bukan karena pernikahan—sudah jelas dia tidak bisa menghindarinya. Bukan karena teman-temannya yang terus menggoda—itu juga bukan hal baru.
Tapi karena tadi… Reina terlihat begitu gugup.
Setiap kali dia bicara, gadis itu seakan ragu, suaranya pelan, tangannya terus memegang ujung bajunya, seolah dia tidak tahu harus berbuat apa.
Aldrian menghela napas dalam diam, lalu membidik bola lainnya. Kali ini tembakannya meleset.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Blue
Teen FictionReina Arabella tak pernah menyangka hidupnya akan berubah drastis di usia 20 tahun. Ayahnya, sosok yang begitu protektif, tiba-tiba mengumumkan perjodohannya dengan Aldrian Devandra, pria yang terkenal dingin, tertutup, dan sulit didekati. Mereka be...
