CHERISH 01 : HALAMAN PERTAMA

753 125 32
                                        

─ CHERISH 01 : HALAMAN PERTAMA.

"Loh nduk, wes biar ibuk aja yang tata."

Kahiyang melontarkan senyum seolah menjelaskan semua baik-baik saja. "Nggak apa, bu. Pasti Ibu capek seharian wira-wiri. Resepsinya juga sudah selesai, Iyang nggak ada kerjaan."

Kalau boleh jujur, Kahiyang merasakan sekujur tubuh remuk redam. Ia membutuhkan istirahat. Namun disisi lain tak dapat menepis rasa iba kala melihat ibu dari sang suami kini─ Ibu Jabar ─ masih terlihat sibuk meski malam menjemput. Di tambah lagi umur beliau tak bisa dikatakan muda.

"Jabar kemana?"

"Mas Jabar lagi nemuin temen-temennya di depan." Jawab Iyang masih menata piring yang telah selesai di pakai. Kemudian di masukkan dalam dus yang telah disediakan, mencegah supaya piring tak cepat di hinggapi debu.

Ibu Jabar sempat melirik Kahiyang bingung, "Teman yang mana? Bukannya sudah datang semua tadi, sewaktu acara?"

"Mas Jabar bilang teman guru di tempat ngajar, buk e."

Tidak heran. Profesi Jabar sekarang alhamdulillah sudah mapan. Pencapaian besar yang ia raih empat tahun silam. Dirinya lolos menjadi pegawai negeri sipil.

Bukan mudah untuk berada di titik sekarang. Barangkali berdarah-darah, belajar tiada henti terus ia lakukan sampai saat ini. Hingga kerja kerasnya terbayar membuat lebih dari kata puas menyambangi batin Jabar.

"Kamu ndak mau bersihin bedak mu dulu ta nduk? Supaya sebentar lagi enak to. Langsung tidur."

Riasan wajah memang masih melekat pada wajah Iyang. Bahkan sanggul pun masih tetap dalam keadaan utuh, sama seperti awal ditata.

Lebih-lebih lagi Kahiyang tak nyaman terlalu lama memakai sanggul. Rasanya pusing. Iyang juga tak suka mengenakan riasan tebal. Selesai acara Iyang sekedar berganti pakaian lantas terburu membantu Ibu Jabar sebab tak tega melihat beliau bekerja seorang diri.

"Bentar lagi aja buk. Nunggu ini selesai dulu."

Tak ada balasan sautan. Mertua dan menantu baru itu fokus pada kegiatan masing-masing.

Mau di katakan Iyang tak dekat dengan Ibu Jabar juga tidak. Bahkan di pertemuan beberapa kali sebelumnya Ibu Jabar tak segan mengatakan kepada Iyang agar menganggap ia seperti ibu sendiri.

Kahiyang memperhatikan sekitar. Keramaian sudah tak sebanyak pagi hari tadi. Selain karena malam semakin larut, di kondisi pandemi sekarang membuat Jabar dan Kahiyang pun tak mengundang banyak tamu.

"Saudara yang lain udah pulang ya buk? Kok rasanya sepi banget."

"Iya nduk. Soalnya rumah mereka rata-rata jauh."

Percakapan akhirnya mengalir alami. Ibu Jabar berbincang mengenai silsilah keluarga. Dari siapa saja yang Kahiyang lihat. Sempat sewaktu acara pertukaran cincin Ibu Jabar membawa Kahiyang berkumpul bersama keluarga besar. Tujuannya agar nanti tak lagi sungkan berbincang ria.

Kahiyang mengangguk-angguk mengerti. "Jadi tadi yang Iyang lihat itu─"

"Kok belum istirahat?"

"Emm?" Iyang lekas mengerjapkan mata. Ia mendongak, menatap Jabar yang telah berganti memakai kaos hitam polos.

"Aku cari kamu." Tatapan menuntut Jabar sedikit membuat nyali Iyang menciut takut.

"Ini─ aku bantu ibu bentar."

"Udahlah Bar. Kamu juga ngapain disini, katanya ada teman kamu di depan." Ibu Jabar paham alasan ucapan Iyang mendadak gagu.

Jabar beralih menatap sang Ibu, "udah mau pulang. Ini aku mau ke depan buat nganter."

CHERISHTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang