[7] Kecelakaan

12 3 0
                                        

“Khanza, tolong panggang dulu rotinya ya. Tante mau bikin toping nya sama puding dulu, oke?” ujar Tante Meli kepadaku. Yup, sekarang kini aku berada di rumah Ayah. Aku tidak ingin Tante Meli menunggu lama-lama, jadi aku langsung pulang tadi. Menyangkut soal Bara, tadi Zoelva dan Bara berencana buat mengantarku. Tapi aku tidak mau, toh, aku juga bawa sepeda sendiri. Nanti siapa yang bakal bawa coba?

“Iya, Tan.” aku pun mengambil loyang persegi panjang besar yang berisi adonan kue brownies yang berada di meja makan. Aku mulai membuka oven, dan menaruh loyang itu, lalu menekan tombol yang tepat untuk memanggang nya. Dan....hanya menunggu saja.

“Semoga yang dapet arisan nya kali ini Tante ya. Aku berharap banget bakalan di traktir makan bakso nya Pak Ucup.” ujarku sembari terkekeh.

“Nggak bosan-bosan ya makan bakso nya Pak Ucup? Mending buat beli baju atau lensa. Kan nanti kamu tambah cantik.” balas Tante Meli.

Tuh kan! Lagi-lagi yang di bahas fisik sama Tante Meli.

“Yah Tan....Aku sayang banget sama kacamata ini. Toh, kata temen-temen aku udah keliatan cantik pake kacamata.” ucapku.

“Ya..kan biar tambah.....”

“Gila! Sial banget deh! Bisa-bisa nya, hiks!” ucapan Tante Meli terpotong setelah mendengar Cheryy keluar dari kamarnya dengan ekspresi wajah yang marah dan habis menangis. Dia kenapa lagi? Apa habis di putusin sama Pacarnya itu? Atau di selingkuhin?

“Nak, kamu kenapa nangis?” tanya Tante Meli sembari menghampiri Cherry yang duduk di kursi makan.

“Cher, kamu kenapa?” tanyaku basa-basi. Aku sudah tau, pasti ini karena ulah lelaki. “Apa karena di putusin Reno?” tanyaku lagi.

“Bu....bukan! Hiks! Kal....kalian g...gak bak...bakal ngerti! Hiks...hiks,” tangisnya semakin menjadi-jadi sembari terisak.

“Ya kenapa, Cher? Coba cerita. Kalo gini caranya, gimana kita ngertiin kamu kalo nggak tau ceritanya?” ujarku.

“Khanza bener. Cerita, Nak. Ada apa? Kenapa kamu sampe nangis begini?” Tante Melo terlihat cemas sekali melihat anaknya menangis dan sedih.

“Nih, Ma. Liat sendiri!” ujar Cherry sembari menunjukkan layar handphone nya yang hidup dengan banyak tulisan.

Tante Melinda pun langsung mengambil benda pipih itu, dan melihat apa yang ada di dalamnya.

Kulihat setelah Tante Melinda melihat handphone milik Cherry, matanya langsung membulat sempurna, wajahnya mendadak jadi khawatir. Aku pun menengok layar handphone itu.

“Kamu di tolak jadi model di F-Campany? Kok bisa?!” panik Tante Meli setelah melihat layar handphone Cherry yang terdapat laporan yang berisi bahwa dia di tolak menjadi seorang model kecantikan di salah satu perusahaan besar.

Cherry mengangguk. “Ini semua karena berat badan aku nambah, Ma.” ia menangis.

“Padahal kan cuma satu kilo doang!”

*********

Setelah insiden Cherry yang ditolak, dan tugas ku yang membantu Tante Meli usai, aku pun langsung saja kembali di apartemen ku. Apartemen yang sudah menjadi tempat ternyaman di kehidupan ku.

Aku membaringkan tubuhku tanpa mengganti pakaianku, ataupun mencuci tangan dan kaki. Hari ini hari yang sangat melelahkan. Preman yang entah kenapa bisa menyerang ku, lalu melihat Bara dengan Zoelva.....hah rasanya. Aku tidak marah, aku juga tidak merasa sakit hati. Apa dayaku, aku tidak memiliki hak akan itu.

Merajut Rasa [HIATUS]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang