"Kamu pikir ujian skripsi itu bercanda? Mentang-mentang nilaimu bagus jadi mau seenaknya?" Pak Wira membanting tumpukan berkas di atas meja.
Alya bergidik. Tak berkutik sama sekali. Kumis lebat Pak Wira seakan mencekiknya. Sebagai dosen pembimbing, wajar jika Pak Wira marah. Wajar jika Pak Wira kecewa. Namun, yang membingungkan adalah alasan kemarahannya.
Bukan karena Alya tak hadir di sidang skripsi, tapi karena berkas skripsi yang dikirim ke penguji tidak sesuai format. Tidak ada abstrak, tidak ada lampiran daftar pustaka dan ada beberapa bagian lainnya yang hilang.
Padahal, Alya ingat betul. Ia telah mempersiapkan dan memeriksa lampiran berkasnya dengan matang. Tapi, ia tak peduli dengan hal itu. Toh, ujian skripsinya dijadwal ulang dua minggu kemudian. Keberuntungan yang hampir mustahil bagianya.
Setelah menerima segala caci maki Pak Wira, secepat kilat Alya melenyapkan diri dari kampus. Topi dan masker hitam ia gunakan untuk menyembunyikan wajah. Mengabaikan teguran dan sapaan teman-temannya yang diselingi tawa.
Hari-hari setelahnya, Alya terus menyembunyikan wajah. Bak buronan yang membunuh banyak nyawa. Membunuh banyak harapan serta kepercayaan sahabat-sahabatnya. Terutama Anye. Teman pertama yang ia miliki sekaligus jadi teman pertama yang harus ia hindari.
Bulan berganti, setelah melakukan revisi, mojok dengan dosen pembimbing, membuat jurnal Ilmiah hingga mengunggah skripsi ke website yang ditentukan dan menyerahkan skripsi cetak, Alya tak lagi datang ke kampus. Undangan wisuda ia abaikan.
Alya mendecih. Untuk apa ikut selebrasi jika tidak ada siapapun yang akan hadir untuknya.
Tidak ada siapapun yang akan bertepuk tangan saat rektor memindahkan tali toganya.
Tidak ada siapapun yang mengambil foto saat ia melempar toga dengan bahagia.
Tidak ada siapapun.
Alya tak ingin ibunya datang. Bukan karena malu. Namun, karena ia tak mau ibunya tahu apa yang ia alami akhir-akhir ini.
Ia tak mau ibunya jadi bahan ejekan mahasiswa-mahasiswa suci yang tak punya hati.
"Hei, jangan melamun." Mbak Vina menyenggol lengan Alya. "Mikirin apa sih? Undangan wisuda?"
Alya mengangguk. Lalu meneruskan mencuci piring yang kian menumpuk. Tak habis-habis.
"Kamu beneran nggak mau dateng?"
Tidak ada respons. Hanya suara air mengalir dan piring terantuk yang terdengar.
"Datang aja, Al. Kalau ibumu nggak bisa datang, kan ada Mas Abian."
Alya sontak mengebas tangannya lalu mengusap peluh. "Aku malu, Mbak." Alya menunduk.
"Buat apa malu? Nilai kamu kan bagus." Mbak Vina tersenyum.
Seandainya Mbak Vina tahu apa yang telah Alya lakukan. Menceritakan semua sama saja seperti membuka aib. Mengorek luka yang tak kunjung sembuh. Meninggalkan bau busuk yang membekas. Akan selalu diingat sampai kapan pun.
Alya si ratu drama. Alya si pembohong nomor 1 di dunia. Alya dengan segala imajinasi liarnya.
Namun, apakah tidak ada kesempatan untuk memperbaiki? Tentu saja ada. Lelaki bernama Abian berhasil mengembalikan semangatnya. Pelan-pelan membantu Alya melepaskan topeng yang selama ini merusak wajahnya.
Tidak ada kebohongan lagi yang ia buat. Yang jadi prioritasnya hanya mencari nafkah dan memberi ibunya pundi-pundi rupiah. Tak peduli pandangan orang terhadapnya. Gunjingan, hinaan bahkan caci maki dari teman-teman kampus yang menyamar sebagai pelanggan restoran juga ia abaikan. Alya kebal.
Tahun berganti. Karena kinerja dan kontribusinya di Family Resto, Alya dipercaya bertanggung jawab mengelola keuangan. Jabatan Asisten Manajer ia dapatkan. Waktu yang singkat. Ada yang bilang, karena koneksi. Namun, nyatanya Alya tidak merasa punya siapapun yang dianggap sebagai 'koneksi'.
KAMU SEDANG MEMBACA
THEATRICA
Chick-LitAlya Indira Biantari tak pernah menyangka dapat menikmati hidup sebahagia ini. Bayang-bayang masa lalu yang ia anggap aib selalu ingin dikuburnya dalam-dalam. Berawal dari satu kebohongan yang tak sengaja ia buat, kini hidupnya lebih sedikit berwarn...
