Bagian 7 - Karma Jalur Instan

36 12 19
                                        

Bahu Alya mendadak turun. Ia mencungkil-cungkil sisa kue tanpa berniat memakannya.

"Jadi maksudnya, Bu Alya belum tahu latar belakang Mas Abian?"

Alya mendesah. Dilemparnya garpu ke atas meja. Dentingnya membuat beberapa pengunjung kafe menatap Alya karena kaget. Alya hanya menutup wajah dengan kedua telempapnya. Desahan panjang perlahan terdengar.

"Mbak Vina bisa nggak sih, jangan panggil aku Ibu Alya Ibu Alya kalau di luar resto? Kita kan lagi jalan bareng, Mbak," protes Alya. Mbak Vina hanya tertawa.

"Iya, iya. Sori. Adik Alya, deh. Adiknya Mbak Vin yang paling cantik dan paling sukses," jawab Mbak Vina. Kini, gantian malah Alya yang tertawa.

Seketika, tawa Alya hilang. Raut wajahnya mendadak kusut. "Aku bahkan nggak tahu nama lengkapnya, Mbak. Ya Tuhan. Kacau sekali aku!" makinya terhadap diri sendiri.

Mbak Vina hanya menggeleng lalu meraih tangan kanan Alya. "Kamu nggak perlu khawatir, Al. Mungkin Abian memang seperti itu. Tidak suka membicarakan hal-hal pribadi jika tidak ditanya. Kalau kamu penasaran, sebaiknya langsung tanyakan saja. Siapa nama lengkapmu, apa pekerjaanmu, bagaimana orang tuamu, aku ingin mengenalmu lebih jauh. Tidak ada salahnya 'kan bila bertanya?" Mba Vina mengelus-elus punggung tangan Alya.

Alya bungkam. Satu setengah tahun bukan waktu yang lama untuk mengenal orang dengan baik. Namun, bukan waktu yang singkat juga jika hanya sekadar ingin mengetahui nama lengkapnya.

Di mana Abian tinggal, apa pekerjaannya, siapa teman-temannya, semua Alya tak tahu. Sedangkan Abian sudah mengetahui hampir 80 persen kehidupan Alya. Hanya kisah kelam masa kecil saja yang masih ia tutupi.

Obrolan mereka terhenti saat ponsel Alya berdering. Abian menelepon setelah dua hari menghilang tanpa kabar.

"Iya, halo."

"Kok lemes, Al? Ada apa?" tanya Abian. Bagaimana hati Alya tak meleleh jika Abian selembut ini?

"Nggak apa-apa. Capek aja sama kerjaan."

"Sekarang lagi di mana?"

"Di kafe dekat kosan sama Mbak Vina. Kenapa? Mau nyusulin?"

Abian tertawa. "Maaf ya, Al. Sekarang aku lagi nggak di Jakarta. Ada urusan di Bandung."

"Urusan apa?"

"Ya adalah pokoknya."

Alya mendesah. "Ya sudah deh, aku tutup ya teleponnya."

Telepon terputus. Alya mencebik, lalu menempelkan kening di atas meja.

"Sabar, Al. Kenapa lagi sih?"

"Ternyata Mas Abian lagi ke Bandung, Mbak."

"Ngapain?"

Alya menggeleng pelan. "Aku udah tanya, tapi nggak dijawab."

Ingatan Alya kembali ke masa-masa kuliahnya. Saat ia berusaha menutup rapat-rapat kisah hidupnya. Ia tahu, tidak mudah jika membagi kisah hidup dengan orang lain. Namun, kenapa rasanya semenyedihkan ini?

Apakah ini bagian dari karma karena perbuatannya di masa lalu.

Ah, Anye, Rendy, Bagus dan juga Inu. Maafkan aku.

 Maafkan aku

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
THEATRICACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang