Bibirnya pucat membiru
Matanya gemetar menatapku
Tangannya dingin, sedingin salju
Kutanya padanya, "Ada cerita apa hari ini?"
Diam, beribu bahasa
Mengotak atik otak terlihat jelas di matanya
Kurasa,kasar tak perlu keluar
Gertakan tak perlu bersangkar
Karena dengan tutur kelembutan, amarah dan kebohongan pun mampu padam
Damai terdengar
Meski tersekat kerongkongan ini
Kilau matanya, sejujur hatinya yang berkata
Gemetar katanya, ssetakut mentari tersisihkan hujan
Aku menaruh kepercayaan,
Meski aku yang akan bodoh, atau dia yang akan benar-benar berkaca
Aku menaruh harapan,
Meski aku yang akan tolol, atau dia yang memegang huruf-hurufnya
Aku menaruh kesempatan
Meski aku yang akan tercuri atau dia yang akan menjaga jawabannya
Aku melihat kilau mata hati di matanya...
Karena itu aku berani berjanji padanya...
KAMU SEDANG MEMBACA
Sejak sajak hadir
PoezieDari sajakmu, lengkap tak lagi jadi syarat. Dari suaramu, merdu tak lagi jadi penentu. Dan dari sastraku, aku menemukan sesuatu yang telah lama menghilang.
