[COMPLETE] ✅
Cinta pertama itu membekas tak terlupakan.
Segalanya menjadi lebih indah saat kita merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya. Itu yang dirasakan Nadine Azkia Dafira ketika melihat Abian.
Abian Zafran Adhitama, si idola sekolah tidak t...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Setelah seluruh perlombaan telah usai, tepat pukul dua siang pengumuman juara pun dilakukan. Seluruh siswa-siswi berkumpul di lapangan.
Tentu saja yang paling banyak memenangkan mendali adalah kelas Abian. Mereka adalah juara bertahan yang terkenal dengan kekreativitasnya apalagi si jenius Abian ada di sana.
Selesai pengumuman pemenang, maka berakhirlah acara olahraga SMA Gemilang. Semua murid diperbolehkan pulang setelah membersihkan kelas masing-masing.
"Aku mau ke perpus dulu ya, Dar. Kamu duluan aja," ucap Nadine kepada Dara saat mereke menuruni tangga bersama.
Dara menaikkan alisnya. "Masih mau ke perpus? Udah sorean, besok aja kali."
"Nyicil aja dikit. Waktu kami tinggal lima hari lagi, ntar nggak siap-siap."
"Dasar, yaudah deh. Gue duluan ya!"
Nadine mengangguk lantas melambaikan tangannya kepada Dara. Semakin lama keadaan sekolah semakin sunyi, Nadine sampai di perpustakaan lalu meletakkan tasnya di kursi.
Nadine menelusuri lorong perpustakaan yang sudah mulai rapi karena buku-buku telah diletakkan secara teratur, hanya tinggal beberapa rak lagi yang kosong. Nadine tidak menyangka bahwa sebentar lagi hukumannya selesai. Ia akan kembali menjalani rutinitasnya seperti biasa.
Yang lebih menyedihkan adalah, ia akan berpisah dengan Abian.
Saat Nadine sampai di lorong ketiga ia terperanjat oleh sosok Abian yang ternyata sedang menyusun buku di sana.
"Abian? Aku pikir kamu udah pulang," ucap Nadine lantas mendekat.
Abian melirik Nadine lalu mendengus.
"Kelamaan lo datangnya."
Nadine memilin jari-jarinya merasa bersalah. "Maaf, tadi aku kelamaan ngeberesin kelas, kamu udah lama di sini?"
"Lumayan." Pandangan Abian jatuh ke arah kaki Nadine. "Gimana lukanya?"
Nadine yang sedang menumpuk buku-buku otomatis ikut melihat kakinya. "Oh, udah nggak papa kok."
Abian mengangguk samar seraya mengangkat beberapa tumpukan buku yang mau ia bawa ke meja untuk dicatat.
"Sini aku bantu," ucap Nadine hendak mengambil alih tumpukan buku yang ada di tangan Abian.
"Nggak usah. Lo nyatat aja sana di meja," tolak Abian langsung. Nadine mengangguk lalu berjalan menuju meja.
Selang beberapa menit, Nadine dikejutkan oleh kedatangan Reyhan, bagaimana tidak? cowok itu melantunkan nama Nadine sekencang-kencangnya sementang tidak ada siapa-siapa lagi di sekolah ini.