[REVISI]
Vante yang mencintai musik tapi tersadar jika suaranya hanya bergema sendirian, gemanya berwarna semu karena tidak ada gema lain yang melengkapi.
Pria muda itu kemudian bertanya-tanya.
Apa arti semua ini?
Saat menyadari hal itu, mimpi-mimpi...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Tolong!!! Tolong aku!" Pekikan itu terdengar bersaman dengan pintu kamar yang dibuka, Vante sipelaku muncul dengan wajah pucatnya, bulir keringat membasahi seluruh tubuh pemuda itu. Nero, sipemilik kamar yang sebelumnya duduk dikursi santainya dengan sebuah buku, lantas berdiri dengan cepat menghampiri Vante yang terlihat nyaris ambruk."Ada apa denganmu?" Tanyanya kepanikan, ia membantu Vante berjalan kearah kasur besar milknya, kemudian mendudukkan pemuda itu disana. "Vante! Vante! Kau baik-baik saja?"
Vante yang datang dengan wajah ketakutannya, masih dengan piama biru navy yang basah karena keringat tentu saja membuat Nero kepanikan bukan kepalang. "Ada apa denganmu? Kendalikan dirimu, aku disini menemanimu." Nero masih berusaha menenangkan, ia tidak tahu apa yang terjadi dengan pemuda yang kini duduk dikasurnya.
"Nero, seseorang, tidak- sesuatu akan datang." Gumam Vante tidak jelas, hal itu tentu saja membuat Nero mengerutkan keningnya. "Kita harus mencoba, sayapku, sayapku harus terbentang secepatnya." Vante meremas rambutnya dengan tangan bergetar, sungguh, pemuda itu terlihat sangat ketakutan saat ini, tidak karuan.
Nero berlari keluar dari kamarnya dengan langkah lebar, tidak, ia tidak bisa mengatasi semua ini sendirian, ia butuh pemain lain, seperti Gwaniel yang berilmu, atau Rain yang mengetahui sesuatu, atau mungkin Yulian yang biasanya mengobati. "TEMAN-TEMAN!! SEMUANYA! TOLONG! GWANIEL! YULIAN! SEMUANYA! TOLONG!" Ia berteriak kencang, meraup kasar rambutnya saat tidak mendengar balasan. "Tolong beritahukan yang lain jika aku membutuhkan mereka." Ucapnya pada prajurit tanpa jiwa yang ada tidak jauh dari kamarnya. Prajurit besi tanpa jiwa itu dengan cepat bergerak begitu mendengar perintah Nero, hilang dikoridor besar yang sudah gelap.
"Vante, tenang. Aku disini, kami akan melindungi mu." Nero menempatkan kedua tangannya dibahu Vante, kemudian meremah bahu tegang itu, berusaha menenangkan.
"Nero! Ada apa?!" Nero menghelas nafasnya, sedikit lega karena setidaknya dia tidak sendiri sekarang. Gwaniel yang sampai pertama berlari kecil mendekati nya dan Vante, meneliti Vante yang masih bergetar dan menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Ada apa dengan nya?" Ulang Gwaniel khawatir.
"Aku tidak tahu, dia datang dengan keadaan seperti ini dan terus mengatakan sesuatu akan datang." Nero menggelengkan kepalanya tidak tahu. Lagi-lagi menghela nafas lega saat pemain lain akhirnya berkumpul dikamarnya.
"Sebelum berkuda kami pergi kekamar Vante, kami ingin mengajaknya berkuda bersama, tapi dia tertidur." Aelios angkat bicara, diangguki Rain dan Arsen.
Yulian yang sedari tadi terdiam meneguk ludahnya kasar. "Wanita itu berhasil bertatapan dengan Vante. Wanita itu mengirim mimpi buruk. Aelios ambil cairan merah muda yang ada di ruang ramuan." Aelios mengangguk dengan cepat, kemudian berlari keluar dari kamar Nero secepat mungkin, sedangkan Yulian mulai mendekati Vante. "Kalian! Ambil jarum besar yang ada didalam buku catatanku.". Yulian menunjuk Rain dan Arsen , membuat kedua pemuda yang ditunjuk mengangguk dengan cepat dan memacu langkah mereka untuk memenuhi perintah Yulian. "Racun tatapan, wanita itu memiliki tatapan beracun. Vante menatapnya, lihat ini." Yulian menekan tengkuk Vante pelan, sedetik kemudian semua orang yan tersisa disana menahan nafas mereka karena terkejut, urat-urat leher Vante yang berada disana seketika berubah menjadi warna hitam.