Enam sayap yang terbentang

430 60 2
                                        

"Lagi?" Vante mendesah pelan saat netranya terbuka dan menyadari sekitarnya kembali berubah

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


"Lagi?" Vante mendesah pelan saat netranya terbuka dan menyadari sekitarnya kembali berubah. Ruangan yang sama, Kasur yang sama, dan perabotan yang sama dengan mimpinya kemarin malam. Apakah ini wajar? Apakah sebuah mimpi memang biasanya terulang?

Vante bangun dari kursi santai yang ada disudut kamar itu, jika kemarin malam ia terbangun ditengah kasur luas ber alas seprai merah maroon, kali ini ia terbangun dikursi santai yang ada disudut kamar. Ahhh, ada yang berubah, Vante mendekati sudut lain yang ada diruangan itu, disana terlihat sebuah biola indah yang terpajang dengan indah. Ia ingat biola itu tidak ada disini sebelumnya.

Pemuda itu mengerutkan keningnya, ia sepertinya mengenal biola ini. "Biola yang ada dilukisan." Gumamnya pelan, biola itu adalah biola yang sama dengan biola yang ia pegang dilukisan yang ada dikoridor. "Eohh, suara itu lagi." Ia buru-buru melangkahkan kakinya keluar dari kamar saat kembali mendengar suara indah itu, masih penasaran dengan sosok pemilik suara indah yang mengalun samar-samar. "Eoh?" Vante menghentikan langkahnya, pemuda itu memiringkan kepalanya bingung, menajamkan pendengarannya. Kali ini tidak hanya sebuah suara, tapi beberapa alat musik mengiringi suara itu, membuat suara yang sebelumnya indah, menjadi bertambah indah.

Ia melanjutkan langkahnya, melewati koridor dengan rak-rak besar dan tujuh lukisan yang sebelumnya ia lihat. Ia berhenti sejenak, menatap lekat wajah-wajah itu satu persatu, masih sama, wajah-wajah yang ada dilukisan itu buram dan tidak terlihat, kecuali wajahnya sendiri. "Apa aku pernah pemotretan dengan tema ini?" Ia mengingat-ingat, apakah ia pernah melakukan pemotretan dengan konsep kerajaan merah maroon dan memegang sebuah biola.

Ahhh, ini salah. Vante menggelengkan kepalanya pelan, ia tidak pernah melakukan pemotretan dengan tema kerajaan klasik itu. Jadi bagaimana wajahnya bisa ada dilukisan itu? Dan apakah lukisan itu benar-benar sebuah lukisan? Ayolah, siapa yang melukis wajah seseorang untuk dipajang diabad ini? Camera dengan kualitas sangat bagus sudah sangat banyak.

Vante menoleh kearah koridor panjang yang sama sekali belum ia lewati, suara itu semakin jelas, seakan memanggilnya agar terus melangkah dan mengikuti suara itu. Kaki jenjangnya mulai melangkah, tubuh yang saat ini dibaluti piama biru navy yang terlihat mewah itu bergerak mencari asal suara itu.

"Eoh? Dari sini." Vante mendongak keatas, menatap pintu besar yang kini berada dihadapannya. Sangat besar, sampai membuat lehernya sakit karena berusaha melihat ujung pintu itu. Mungkin empat orang bisa berdiri menutupi pintu ini dengan tubuh mereka? Ahh tidak, mungkin lima orang, itupun hanya menutupi bagian bawah.

Tangan panjangnya bergerak menggapai gagang pintu mewah itu, mendorongnya dengan usaha yang cukup besar karena pintu besar itu nyatanya cukup berat. "Woahhhhh." Vante menatap takjub ruangan itu, sangat megah dan indah. Mata pemuda itu berbinar lebar saat menatap ruangan yang mirip dengan aula teater yang sangat besar.

"HEYY! SIAPA KAU?"

Vante mengerjap pelan, seseorang dengan suara rendah baru saja berteriak padanya. Ia menatap kearah panggung yang diisi beberapa orang yang terlihat seumurannya. Enam pemuda yang sepertinya sedang berlatih alat musik. Vante menggaruk tengkuknya yang gatal, sedetik kemudian mendekati panggung dengan penasaran, tungkainya melangkah dengan semangat kearah pemuda-pemuda itu. "H-hay, aku Vante. Aku ingin bertanya sesuatu, siapa yang bernyanyi dan bermain musik sebelumnya?" Bukannya bertanya mengenai kenapa ia disini, pemuda itu justru menanyakan siapa pencipta nada dan suara indah yang baru saja didengarnya.

GEMA : When The Wings Spread Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang