'Tertanda Victory' II

274 49 2
                                        


Vante meremas kuat rambutnya, ugghhh ia rasa segalanya menjadi lebih sulit. Setelan kejadian pernyataan tentang kekuatan aneh itu, Aelios berubah menjadi lebih pendiam. Seperti bukan seorang Aelios pemuda murah senyum yang kelebihan energi. Ia termenung diruangan bagian timur itu, berusaha merangkai semuanya menjadi satu dan menyelesaikan semua ini secepat mungkin.

Semakin hari, rasanya semakin banyak pertanyaan yang bermunculan tentang semua hal, tentang kastil ini, dunia luar kastil, kenapa mereka disini, kenapa harus mereka yang memiliki garis takdir ini? Bagaimana keadaan mereka di dunia yang seharusnya? dan apa yang akan terjadi jika sayapnya tidak terbentang sebelum sabit selanjutnya?

Vante tidak mengerti. Sesaat sebelum ia terbangun ditempat ini, dirinya ingat betul jika mobilnya menabrak pembatas jalan, jadi bagaimana keadaan Vante seorang solois terkenal saat ini disisi seharusnya? Apakah ia sudah mati? Jika benar begitu, bisakah ia mengatakan jika kastil ini adalah kehidupan setelah kematian untuknya? Dan bagaimana dengan pemain lain? Kenapa mereka bisa berakhir disini untuk waktu yang lama? Apakah mereka sudah mati? Ia baru menyadari nya, ia sama sekali tidak pernah mengetahui tentang kehidupan pemain lain didunia yang seharusnya, mereka tidak pernah membicarakan hal itu. "Victory, sebenarnya kenapa kami disini?" Ia bergumam diruangan yang sepi itu, menatap lekat - lekat potret Victory yang ada dibuku. "Dimana kau sebenarnya?"

Victory mengatakan jika pemain lain tidak disini saat ia menulis buku-buku itu, belum ada jawaban kemana pemain lain, dan kenapa Victory ditinggalkan disini sendirian saat itu. Vante hanya bisa menduga jika Victory melakukan hal yang salah sehingga ia harus ditinggalkan karena pemain lain yang kecewa karenanya, tapi apakah hal itu cukup untuk membuat sebuah persahabatan yang cukup baik menjadi hancur lebur? Vante rasa tidak. Alasan itu terlalu sepele untuk pemain sebelumnya yang terlihat jauh lebih baik dari pada pemain saat ini.

Pemuda itu berdiri dari duduknya setelah mendesah pelan karena tidak kunjung mendapat jawaban. Ia berjalan kearah perpustakaan, mungkin ia harus menggeledah seluruh isi buku yang ada disana, berharap dapat menemukan sesuatu yang bisa menjawab pertanyaan nya.

"Vante!!" Sang pemilik nama itu menoleh, mendapati Nero yang sedang memanggilnya dengan isyarat tangan.

"Ada apa?"

"Yulian bilang mereka menemukan sesuatu." Ujar Nero. "Kita berkumpul dikamar Yulian, kau mendapat petunjuk?"  Vante menggeleng pelan sebagai jawaban, sama sekali tidak ada, tidak seperti beberapa hari yang lalu saat ia tiba-tiba seakan diberi tahu jika sebuah buku penting berada dibawah lantai,  kali ini ia tidak mendapatkan petunjuk apapun. "Tidak apa-apa, kita akan segera menyelesaikan ini bersama." Nero berusaha menenangkan Vante, menepuk pelan bahu pemain terakhir itu yang menurun karena lesu.

"Hmmm, semoga." Ucap Vante sebelum mereka memasuki kamar Yulian yang sudah diisi peman lain. "Kalian mendapatkan apa?" Tanyanya setelah ikut bergabung dilingkarkan pemain lain.

"Baiklah karena semuanya sudah disini," Gwaniel mengeluarkan buku itu dari dalam kemeja putih yang dikenakannya, "Dua halaman terakhir bukan sebuah halaman kosong, kalian harus lihat ini." Pemuda jenius itu berdiri dari duduknya untuk mematikan lampu kamar Yulian, bergerak menyalakan sebuah lilin yang sudah ia sediakan, kemudian kembali duduk dilingkaran. "Lihat ini." Katanya dengan nada sedikit bersemangat. Ia mendekatkan lilin yang menyala itu kearah buku, tiba-tiba saja kertas yang sebelumnya kosong itu mulai mengeluarkan huruf-huruf yang kemudian terangkai dan memenuhi dua halaman terakhir, tepat sebelum nama Victory tertulis diujung halaman.

Semua pemain membulatkan mata terkejut, "Kurasa Victory sangat jenius. Setelah aku membacanya, ini lebih terlihat seperti sebuah rahasia." Ujar Gwaniel, lebih terdengar seperti bisikan.

"Apa isinya?" Tanya Rain tidak sabar. Pemuda itu bahkan memperbaiki posisi duduknya karena ingin mendengar 'rahasia' itu.

"Isinya adalah alasan kenapa Victory sendirian dikastil ini." Jawab Yulian yang sedari tadi diam disamping Gwaniel. Vante yang sebelumnya menunduk menatap buku itu lantas mengangkat kepalanya dan menatap Yulian dengan alis menukik, terkejut.

GEMA : When The Wings Spread Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang