[REVISI]
Vante yang mencintai musik tapi tersadar jika suaranya hanya bergema sendirian, gemanya berwarna semu karena tidak ada gema lain yang melengkapi.
Pria muda itu kemudian bertanya-tanya.
Apa arti semua ini?
Saat menyadari hal itu, mimpi-mimpi...
Vante mengerutkan keningnya saat sekelebat bayangan seseorang baru saja terlihat berbelok dari koridor, pemuda itu memiringkan kepalanya bingung. "Siapa yang memakai jubah hitam dimalam seperti ini?" Gumammya pelan. Kaki jenjangnya melangkah mengikuti bayangan itu, berbelok dibelokan yang sama hingga terlihat sosok berjubah hitam yang terus berjalan melewati koridor. "Hei!" Vante menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kenapa sosok itu tidak berbalik. "Hei!" Ulangnya. Sama saja sosok itu juga tidak berbalik walau sedikit.
Seperti bergerak sendiri, tungkai Vante terus melangkah, mengikuti sosok itu dengan rasa penasarannya. Lantai kayu yang ia tapaki itu sesekali berderit saat kakinya melangkah. "Permisi!" Seru Vante. Ia terdam, nafasnya tertahan selama beberapa detik saat sosok itu berhenti beberapa detik sebelum kembali melangkah.
Vante terus berjalan, sampai sosok itu menghilang ditelan sebuah pintu besar yang sama sekali belum pernah dimasukinya. Ia menatap pintu itu dengan pandangan tidak yakin, tapi kemudian memutuskan untuk memasuki ruangan itu. "Astaga berdebu." Gumamnya pelan, Tangannya bergerak untuk menghalang debu yang mendekati wajahnya, ruangan itu gelap, dan berdebu. Ia menekan sakelar yang berada tepat disamping pintu, tapi na'as, sama sekali tidak ada respon dari lampu yang ada disana. Ia mengedarkan pandangannya pada ruangan itu, terlihat rak-rak besar berisi buku-buku yang hampir menutupi seluruh tembok. Alisnya mengerut, ini tidak terlihat seperti sebuah kamar tidur, ruangan ini jauh lebih kecil dari pada kamarnya dan kamar pemain lain, dan tidak ada kasur atau apapun, hanya ada sebuah meja besar ditengah ruangan itu.
Vante mendekat, menatap sekeliling nya dengan hati-hati, kakinya mulai melangkah mendekati meja yang berada disana. "Kenapa disini sangat berdebu?" Gerutunya pelan, tangannya mengusap meja itu denganhati-hati, kemudian menyerngit kecil saat mendapati tangannya penuh debu berwarna coklat. Kotor sekali.
Ia bergerak menyalakan sebuah lampu yang ada diatas meja itu, bersyukur saat lampu itu masih mengeluarkan cahaya dengan baik. "Buku?" Gumamnya pelan saat menyadari sebuah buku tebal berada tepat ditengah meja itu. Vante membolak-balik buku tebal itu bingung, tidak ada judul atau apapun diatas sampul buku itu. Ia menyipitkam netranya, rasa penasaran nya mulai menggebu-gebu. Pemuda tampan itu memilih duduk dikursi yang ada disana, dengan buku tebal yang ada ditangannya. Mulai membaca, dalam keheningan ruangan.
"Bukan dua, tapi tujuh." Ucapnya pelan, Gwaniel dan yang lainnya salah, bukan hanya dua tapi ada tujuh. Vante berdiri dari kursi itu, kemudian berlari melewati koridor dengan buku tebal itu ditangannya.
"Tolong panggil yang lainnya dan minta mereka berkumpuldi kamar Gwaniel. " Pintanya pada prajurit besi yang berdiri tepat disamping kamar Gwaniel. Vante menumpu pada lututnya, mengatur nafasnya yang tidak teratur karena berlari mengelilingi kastil besar ini.
"Ada apa?" Vante menegakkan tubuhnya saa Pemain lain datang dengan piama mereka yang melekat dengan indah dimasing-masing tubuh.
"Ikut aku, aku menemukan sesuatu." Katanya sebelum membuka pintu kamar Gwaniel.
"HEYY!!! AKU BARU SAJA SELESAI MANDI!!" Gwaniel dengan tampilannya yang bertelanjang dada memekik kencang saat enam orang itu memasuki kamarnya tanpa ketukan atau izin.
"Jangan berlebihan.... Kau masih pakai celana." Sahut Arsen dengan seringai jahilnya.
"Aku menemukan ini!" Vante memperlihatkan buku tebal yang ditemukannya, "Bukan dua tapi tujuh. Ada tujuh. Kita semua berasal dari dunia dan lapisan yang berbeda." Selorohnya serius, yang direspon dengan kerutan diwajah seluruh pemain.
"Dimana kau menemukannya?" Tanya Yulian, buku itu kini sudah beralih ketangan Pemuda itu. Membolak-baliknya untuk meneliti setiap sudut buku itu.
"Aku menemukan ini diruangan yang ada tepat diujung koridor bagian timur kastil " Pemuda itu membasahi bibirnya cepat, "Aku sudah membacanya sampai halamam duapuluh tujuh, disini dijelaskan jika ada tujuh lapisan yang berbeda dialam semesta ini. Enam lapisan berisi manusia, hewan, dan tumbuhan. Sedangkan lapisan terakhir diisi Dewa, Iblis dan makhluk-makhluk yang biasanya ada di legenda." Jelas Vante.
"Itu artinya perkataan Bibi Anne sebuah kebohongan?" Gwaniel bergumam pelan, air wajahnya terlihat risau.
"Kita berasal dari lapisan yang berbeda? Seharusnya berada disalah satu dari enam lapisan, tapi berada dilapisan terakhir? Kenapa?" Nero memincingkan matanya, mendadak pertanyaan-pertanyaan yang entah memiliki jawaban atau tidak menyerangnya.
"Ada dua alasan. Satu, saat angin berhembus kearah barat daya, saat itu pintu dua dunia ini terbuka, dan kedua, karena kita dibutuhkan disini." Sahut Gwaniel. Mereka semua terhenyak, terkunci dengan pikiran mereka masing-masing yang berputar mengenai dunia ini dan alasan kenapa mereka disini.
"Victory?"
Vante mengernyitkan dahinya, "Disini tertulis,'tertanda Victory' " Aelios menunjuk sudut bawah halaman terakhir buku yang ada ditangan Yulian itu, tertulis nama Victory yang terlihat sangat kecil
• • •
"Bagaimana?" Semua mata menoleh kearah pintu, saat pintu itu terbuka dan menampilkan Nero dengan tampang lesu nya.
"Dia tidur." Jawab Nero pelan.
"Foto ini, diambil dari sisi ini. Tepat disini." Gwaniel memposisikan dirinya tepat ditengah jendela kamar Vante. Mereka berada dikamar Vante, merasa jika foto hutan hitam itu adalah petunjuk penting untuk mereka.
"Bukan Vante yang mengambil foto ini, dia sama sekali tidak tahu jika disini juga ada camera." Ucap Aelios, diangguki yang lainnya, terhitung lima puluh hari Vante berada disini, anak itu hanya pergi ke perpustakaan, pacuan kuda, aula, ruang makan, kamar pemain lain, ruang utama kastil, halaman luar, dan kamarnya sendiri. Anak itu bahkan tidak tahu jika ada sebuah ruangan yang berisi kamera antik dikastil besar ini.
"Ada pemain sebelumnya." Semua berbalik menatap Yulian yang duduk dikasurVante, mata pemuda itu menatap lurus kearah jendela.
Gwaniel diam, memutarotaknya, begitu juga pemain lain yang mulai menyadari sesuatu. "Ma-maksudmu sebelum kita ada pemain lain?" Yuliam mengangguk, ia sudah berfikir tentang hal ini sejak lama, saat ia masih menjadi pemain baru seperti Vante.
"Bibi Anne beberapa kali memanggil ku dengan nama asing saat aku pemain baru, dan kurasa beberapa buku yang ada diperpustakaan adalah milik mereka."Yulian benar, mereka juga pernah dipanggil dengan nama asing oleh Bini Anne.
"Sebelum kita, ada pemain lain yang menulis buku-buku yang berisi penilaian nya tentang dunia ini. Dia meminta kita untuk melanjutkan apa yang harusnya mereka selesaikan." Sahut Aelios tiba-tiba, semua mata membulat kearah pemuda itu.
Sesuatu terlihat bercahaya dileher nya, seperti tatto bergambar Cello yang bercahaya terang. Netranya berubah menjadi biru gelap, menatap lurus kedepan. "Ada apa dengan lehernya?" Tanya Rain pelan. Pemuda yang biasanya ceria dan tersenyum lebar itu kini berwajah datar, dengan suara rendah yang sangat jarang terdengar.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
HAIIII!! HALLLOOOOOORRRRR!! HOW ARE U?! LAIWJENDJDIDIDUS FINALLY!! LAMA BANGET, YAH? SOK NGARTIS BANGET NGGK SEH??!! HAHAHA.... FINALLY!! akhirnya aku libur kawan-kawan... sejenak aku bisa terlepas dari tugas-tugas kampus!! Ayyeyy! So.. aku udh berjanji pada diri ku untuk melanjutkam story-story ku yang udh berdebuh ini!! XIXIXIXI! Udah, ah... gitu ajaaa!! Nanti Kiya balik lagiiii!! See u guys!! Hope u guys enjoy!! last!! DON'T FORGET TO VOTE AND COMMENT!! KOMEN YAH! KOMEN! AWAS AJA KLO KALIAN DIAM-DIAMAN! paypayyyyyyyyyy!!! Love u!!