"Maaf banget ya Om, aku-"
"Berhenti panggil gue, Om!" Sanggah cowok itu yang terdengar sedikit kesal.
"Upss, sorry. Maksud gue, denger ya Kak. Gue gamau jadi adik lo, dan plis gue mau pulang," Ujar Clara, sedikit memaksa.
"Btw, kita belum kenalan. Kenalin, gue Atalaric Mahawira. Lo bisa panggil gue Aric," Kata cowok itu dengan santai sambil mengulurkan tangan sebelah kanannya.
Ga nyambung banget emang.
Tapi Clara pun menjabatnya, seraya berujar. "Clarissa Wulandari, dan lo bisa panggil gue Clara. Udah kan? Gue mau balik."
"Belanjaan lo gimana?" Tanya Aric, yang membuat Clara tersadar bahwa dirinya tidak memegang barang belanjaannya lagi.
"BELANJAAN GUEEE!" Pekik Clara saat matanya menatap barang belanjaannya yang sudah acak-acakan, dan berserakan dijalan.
Seperti telur yang sudah pecah, serta tomat yang bergelinding hingga ke tengah jalan, begitupun dengan macam-macam sayuran yang lain yang berhamburan dari kresek nya.
Sebenarnya, tadi itu kenapa? Kok bisa sampe separah ini? Clara pun memutuskan untuk menghampiri barang belanjaannya itu.
"Huaaa, ibu maafin Clara..." Rengek Clara tanpa sadar, sambil memasukkan kembali tomat serta sayuran itu kedalam kresek jinjingannya, dan membuang telur nya ke tempat sampah terdekat, karena telur nya sudah tidak bisa diselamatkan.
Clara pun bangkit dengan wajah sedihnya yang tertunduk lesu.
"Hey, you okay?" Tanya Aric sambil mengibas-ngibaskan tangannya, didepan wajah Clara.
"Ini semua gara-gara lo tau ga?! Ngapain sih lo ngejar-ngejar gue segala? Bikin gue panik!" Ujar Clara, mendongak menatap Aric dengan sewot.
"Sorry," Ringisnya sambil mengusap belakang kepalanya.
"Minggir! Gue mau balik! Dan gue harap, gue ga pernah ketemu lo lagi!" Pungkas Clara sebelum beranjak pergi dari sana.
"Eits, tunggu dulu." Aric kembali berhasil menahannya.
"Gue anterin pulang mau?" Tawar Aric. Cowok itu merasa kasihan melihat Clara. Bagaimanapun, ini semua juga salahnya.
"Gausah."
"Sekalian gue mau tanggung jawab sama lo," Ujar Aric terdengar ambigu.
"Tanggung jawab buat apa? Gue ga hamil."
Aric berdecak, "Bukan itu maksudnya. Gue ganti semua belanjaan lo."
"Ga perlu, gausah."
"Gue ga terima penolakan. Pokoknya ini semua gue ganti, dan lo gue anter pulang."
"Maksa banget sih lo!"
"Emang! Udah, ayo!"
Aric pun menyeret Clara menuju motornya. Cowok itu pun naik terlebih dahulu, "Buruan naik, Clara!" Titah Aric dibalik helmnya.
"Pegang belanjaan gue!" Clara memberikan dulu barang belanjaannya pada Aric, untuk bisa naik keatas motor tinggi itu.
Setelah memastikan Clara duduk dengan benar, Aric pun mengembalikan kresek jinjingannya, dan mulai menjalankan motornya untuk pergi ke supermarket 24 jam.
KAMU SEDANG MEMBACA
GEOVANO
Random[SEBAGIAN CHAPTER DI PRIVATE, FOLLOW SEBELUM MEMBACA] Semuanya bermula saat Clara tiba-tiba dipilih oleh Geovano untuk menjadi pasangan lelaki itu. Sejak saat itu, Clara tidak bisa lepas dari Geovano. Si cowok tampan, most wanted sekolah yang hidup...
