Part yang cukup panjang:)
***
Yuna berdiri bersandar di belakang pintu kamarnya, menutup mata berusaha menahan segala emosi yang menguasai diri. Dunia benar-benar bercanda sekali hari ini.
Baru tadi pagi Yuna ribut dengan cabe-cabean. Siangnya memperbaiki hubungan dengan Jay. Agak sore sedikit sudah dihadapkan dengan ayah tidak berguna, bukannya mengayomi anak malah menambah beban.
Mau gila Yuna rasanya.
Tok tok tok!
Ketukan di pintu terdengar berulang. Tak dihiraukan oleh Yuna.
"SHIN YUNA, BUKA!"
"JANGAN SEMBARANGAN BERDUA DI KAMAR SAMA COWOK, YUN!"
"SHIN YUNA!"
Yuna tertawa sarkas. Untuk kesekian kalinya ia menertawakan bercandanya takdir.
Jay berdiri tak jauh dari Yuna. Hanya menatap gadis itu, masih bingung dengan situasi yang serba tiba-tiba ini. Tubuh Yuna merosot terduduk di lantai. Ia memeluk lutut menyembunyikan kepalanya di sana.
Ingin menangis, tapi merasa jijik harus menangisi ayahnya. Buat apa? Lelaki itu tidak pantas lagi untuk Yuna tangisi, kan?
"YUNA, BUKA!"
"GAK MAU!" Yuna menyentak balik membuat ayahnya terdiam.
"Dia cowokku, pewaris perusahaan juga. Kita gak goblok, kok, untuk nekat ngelakuin hal yang enggak-enggak. Dia juga mikir posisinya sebagai pewaris harus hati-hati."
Masih tak ada sahutan dari balik pintu.
"Ayah gak perlu tiba-tiba peduli gini. Aneh. Peduliin lonte itu aja, kerja keras ngasilin uang buat bayar cewek ngangkang. Aku bisa jaga diri aku sendiri."
Prang!
Jay dan Yuna sama-sama terjingkat mendengar suara benda pecah di luar. Disusul suara langkah kaki yang menjauh.
Yuna kembali tertunduk menyembunyikan wajahnya.
"Sebenernya Tuhan ngapain, sih, nyiptain gue?"
"Yuna..." tegur Jay.
Suara Yuna bergetar menahan tangis. Jay mendekat, berjongkok di sebelah Yuna. Memeluk bahu gadis itu dan menepuknya pelan.
"Aku capek, Kak."
"Kamu boleh nangis, Yun."
"Gak bisa. Aku gak mau nangisin Ayah lagi."
Jay menghela napas panjang. Ia mengangkat tubuh Yuna, menggendongnya seperti koala. Lalu ia baringkan tubuh yang lebih kecil darinya itu di atas kasur.
Yuna masih menutup matanya, berusaha agar air mata tak lolos keluar. Jay duduk di tepi kasur. Tangannya mengusap dahi gadis itu menyingkirkan anak rambut yang mengganggu.
"Aku kira Ayah benci aku karena masih cinta banget sama Bunda. Pikirku Ayah nyesel dulu milih selamatin aku daripada Bunda. Tapi sekarang apa? Apa alasannya Ayah benci aku?"
Jay hanya terdiam tak berani berkomentar.
"Kenapa aku baru tahu sekarang ya, Kak? Tahu gitu aku gak pernah sudi caper ke Ayah. Dipikir-pikir lagi goblok banget aku dulu mau ngelakuin ini-itu, dari kejar peringkat sampe dikejar polisi, demi dinotice Ayah doang. Tapi semua gak ada artinya. Emang anjing! Semua anjing!"
Tangan Yuna mengepal, memukul kasur di samping tubuhnya. Jay menggenggam tangan itu lembut. Yuna membuka matanya.
"Aku harus apa, Kak Jay..."

KAMU SEDANG MEMBACA
Love Me Like Crazy (I Love You, Crazy)
FanfictionYuna yang kesepian menemukan Jay yang berjuang sendirian. Yuna menemukan seorang teman dan Jay menemukan tempat ternyaman. Sama tahu, sama butuh. Warning: 17+, harsh word