Selamat dan Selamat Tinggal

0 1 0
                                    

🎧Virgoun ft Audy – Selamat (Selamat Tinggal)

Malam ini malam Minggu, malam yang sangat dinantikan oleh muda-mudi yang dimabuk asmara. Banyak tujuan yang ingin mereka datangi bersama orang terkasih, ada yang pergi menonton, makan malam di restoran mewah, ada juga yang datang ke Pasar Malam. Seperti yang dilakukan oleh Nendra dan kekasihnya, Lusi.

Nendra yang tidak sedetik pun melepaskan genggamannya pada tangan mungil Lusi, begitu pun Lusi, tidak sedetik pun senyumannya luntur karena perilaku Nendra malam ini. Mereka pasangan yang bahagia dengan cara sederhana.
Pada akhirnya Nendra melepaskan genggamannya untuk bermain lempar gelang, tentu saja Lusi yang merajuk ingin ia memainkan permainan ini dan mendapatkan boneka besar yang dipajang di atas sana.

“Ayo dong, sekali aja. Siapa tau kita hoki, nanti bisa dapetin boneka itu.” Rayu Lusi dengan mata yang terus terpaku pada boneka merah yang ukurannya seperti anak kecil, apa tidak terlalu besar untuk dipeluknya? Itulah kiranya yang dipikirkan oleh Nendra.

“Benar ya, cuma sekali. Awas aja nanti kalau keterusan, gak aku ajak lagi ke pasar malam.” Setelah mendengar penuturan Nendra, Lusi mengangguk girang.

Satu persatu gelang Nendra lemparkan, percobaan pertama melesat. Percobaan kedua ia hanya mendapatkan permen satu biji, dan dipercobaan ketiga ia mendapatkan boneka sesuai yang diinginkan kekasihnya. Merinding. Semua orang yang ada disana memberikan tepuk tangan, karena tidak semua orang bisa mendapatkan hadiah utama dalam permainan itu.

Lusi memeluk bonekanya, Nendra merasa seperti sedang diduakan. “Kan, apa aku bilang. Kita lagi hoki, untung kamu nurutin kemauan aku.” Lusi memamerkan apa yang ia katakan sebelumnya, seolah-olah mereka benar-benar sedang tertimpa keberuntungan.

“Bukan hoki itu namanya, emang aku aja yang jago. Coba kalau bukan aku, pasti gak akan dapat.” Nendra membalas ucapan Lusi dengan percaya diri, sedangkan Lusi ia hanya tersenyum memperlihatkan matanya yang hilang kala tersenyum. Lucu. Itu yang dilihat oleh Nendra.

“Iya, pacarnya aku kan hebat.” Lusi selalu saja bisa membuat dirinya merasa dihargai dan diakui keberadaannya. “Kita beli arum manis, yuk?” ajaknya lagi yang tidak bisa Nendra tolak.

Keduanya berjalan menuju penjual arum manis yang sedang laris, pengantrinya kebanyakan anak-anak, karena memang ini jajanan yang mereka incar pada saat ke Pasar Malam.

“Kamu duduk aja, cari tempat. Biar aku yang antri, kan aku yang mau,” ujar Lusi memberikan saran pada Nendra.

“Masa aku ninggalin kamu di sini? Aku tungguin aja.” Lusi tidak bisa apa-apa kalau Nendra sudah membuat keputusan, mereka mengantri berdua, berdampingan.

Di samping Nendra berbicara, seorang perempuan terlihat memerhatikannya. Perempuan yang memakai luaran rajut dan rambut dikuncir dengan es krim dan aneka jajanan di sampingnya. Ia kenal suara itu, suara yang sangat ia kenal dan tidak akan pernah lupa. Suara yang selalu bernada lembut kala berbicara dengannya. Tapi, itu dulu, kini ia mempunyai cinta yang baru. Ia terlihat sangat bahagia. Ia senang tapi juga ada sesuatu yang sakit di dalam hatinya.

Giliran Lusi hanya menunggu satu orang gadis kecil saja, dan sepertinya sudah selesai. Gadis kecil itu berlari seraya tertawa karena bahagia akhirnya mendapatkan apa yang ia mau setelah menunggu lama.

Nendra memperhatikan gadis kecil itu, ia merasa pernah melihatnya. Tapi di mana? Ia merasa tidak asing dengan sorot matanya, seperti ia sangat mengenal mata itu. Tatkala gadis kecil itu berlari ke arah perempuan yang tersenyum. Nendra bergeming, tidak menyangka dunia sesempit ini.

Di sana, perempuan itu tersenyum. Perempuan yang sudah lama mengisi hatinya dan dengan tiba-tiba meninggalkannya begitu saja. Sarah. Itulah nama perempuan itu.

Sebenarnya tempat ini menjadi saksi bisu antara pertemuan pertama Nendra dan Sarah, keduanya tidak sengaja bertemu saat Sarah terpisah dengan teman-temannya. Kala itu mereka masih duduk di bangku SMA kelas sepuluh. Takdir memang lucu.

Kini, mereka kembali dipertemukan dengan orang yang berbeda. Nendra dengan cinta barunya, Lusi. Dan Sarah dengan buah hatinya, Nendra tidak tahu siapa namanya.
Nendra tersenyum, tangannya kembali menggenggam erat tangan Lusi, berharap mendapat kekuatan darinya. Lusi merasa heran dengan sikap Nendra, tapi tidak begitu dihiraukan. Sedangkan Nendra, hatinya berkecamuk melihat cinta lamanya di tempat mereka sering bertemu dan berbahagia.

Nendra selalu berpikir, andai Sarah tidak memilih pergi, mungkin ia tidak akan menemui cinta yang kini ia miliki. Cinta Lusi yang menerima ia apa adanya dan ia mengajarkan Nendra sisi lain cara memandang dunia.

Sarah pun begitu, dalam benaknya ia selalu berpikir. Andai dulu ia terus di samping Nendra, belum tentu ia dan Nendra akan merajut kisah yang indah. Mereka didewasakan lewat luka dari kisah yang mereka alami.

Meskipun keduanya berkecamuk dalam dunia masing-masig, dalam benaknya sendiri-senidiri. Ada satu yang akhirnya mereka sadari, meskipun hati dan bibir sulit untuk menerima dan mengucap, tapi dalam hidup akan selalu ada kata selamat dalam kata selamat tinggal.

Di tempat ini, Nendra kembali menemukan cinta lamanya bersama cinta baru di sampingnya. Sarah pun sama ia kembali mendengar suara yang sangat ia kenal berbicara pada kekasih barunya.

Keduanya tidak sempat bertukar pandang, hanya saja keduanya sudah saling melihat walau dalam diam. Nendra mengajak Lusi untuk ke tempat lain, ia tidak mau menyakiti wanita yang kini sangat ia cintai. Ia tidak ingin mengingat masa lalu, cukup Lusi ada di sampingnya, ia sudah bahagia.

🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤
Kira-kira lagu apa lagu apa lagi ya yang diangkat jadi cerita?

KERANGKA HIDUP - Kumpulan Cerita Pendek Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang