chapter 1

50.2K 1.6K 1
                                        

HAPPY READING YEOROBUN 💞
-----------

"Woii."

Aza begitu jengah mendengarnya, entah kenapa ia selalu berpapasan dengan Alvin. Mau berangkat sekolah ataupun pulang sekolah.

"Alvin jaga sikap dong, kita tuh sekarang lagi di luar. Dan lagi kamu tuh Gus," nasihat Lala pada Alvin. Karna kerap kali mereka mendengar santriwati membicarakan Alvin yang tak bisa jaga sikap.

"Iya maaf." Sesal laki-laki itu.

"Kenapa lo manggil?" tanya Aza sambil mengayunkan buku di tangannya.

"La, lo, la, lo. Inget gue tuh kakak kelas kalian, dan lagi kalo di pondok kalian tuh...." Alvin sengaja menghentikan perkataanya.

"Enggeh. Kalo di pondok sampean Gus, kita babu," sarkas Aza, ya walaupun pengucapannya sedikit kurang ajar tapi memang betul adanya. Seringkali ia di suruh-suruh oleh Alvin, yang notabenenya adalah anak pemilik pondok pesantren.

*******


Hari semakin sore, Altha yang bingung mau melakukan apa, akhirnya memutuskan membuka bacaan referensinya di handphone. Kuliahnya memang sudah selesai, tapi ia akan melanjutkan S2 nya di New York.

"Umi mau keluar mas, kang Hamdan ada di depan. Kamu tolong jagain Abil yah, bentar lagi juga Alvin pulang ngaji " Pinta umi Fatimah pada Altha.

"Enggih umi."

Kiranya setengah jam Altha begitu fokus pada bacaannya, hingga rasa lapar membawanya ke dapur. Untungnya sekarang adalah jadwal ngaji klasikal sore, jadi area dapur lumayan sepi dari para Mbak ndalem.

"Loh kok Abil ada di sini, kata umi lagi tidur" heran Altha melihat Abil duduk di meja makan sendirian.

"Abil lagi nungguin nasi goreng mas." ucap Abil dengan kepala yang di rebahkan di atas meja, nampaknya ia masih mengantuk.

Dengan sedikit malas Aza memasak nasi goreng untuk mas Abil. Tadinya ia akan pergi mengaji, namun tiba-tiba mas Abil menghampirinya dan meminta di masakan nasi goreng.

"Nih, habisin mas," ujarnya menyodorkan sepiring nasi goreng. Beberapa detik kemudian hingga Pandangannya teralihkan pada seseorang yang duduk di samping Abil. "E-eh ada Gus Altha, sampean mau juga?" tawarnya kikuk.

Aza memutuskan memanggil Altha dengan sebutan Gus, setelah mendengar bahwa Gus Altha merupakan putra salah satu kyai besar. Ya ga heran si orang Abahnya Alvin juga kyai.

"Boleh, saya juga lapar."

"Lah kok mau sih? Kan niatnya tadi cuma basa-basi. Huh gagal deh makan nasi goreng" batin Aza kesal.

"Muana mbaak itua mas Altha tungguin louh" celetuk Abil dengan mulut penuh nasi.

"Afwan Gus, bentar." Ujarnya mengambil sepiring lagi dan memberikannya pada Gus Altha, ia harap masaknya enak.

Beberapa santri terlihat keluar dari masjid, yang artinya ngaji klasikal telah selesai. Beberapa dari mereka sempat melirik Aza, mungkin karena Aza tidak ikut ngaji atau karena Gus Altha. Entahlah ia malas memikirkannya.

"Jamettt, Lala, tungguin." Teriak Aza saat melihat Ganeth dan Lala berdesakkan di tengah kerumunan santri. Dan lagi sebagian mereka ada yang jatuh Karena dorongan kuat dari Ganeth.

Lala yang merasa terpanggil pun menghentikan aksi Ganeth yang sedang mendorong-dorong orang di depanya. Entah sudah berapa kali mereka terkena amarah dari orang yang jatuh.

Ijbar [Selesai]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang