Aza tak menyangka akan di pertemukan kembali dengan Altha, di saat dia sudah hampir melupakan laki-laki itu. Terlebih fakta mengejutkan, Altha merupakan penerus utama pondok pesantren yang ia tinggali.
Aza cukup tahu diri, ia sudah biasa menelan ke...
Yes, sesuai dengan sub judul di atas, malam ini elkyeee mau menginfokan bahwa cerita Mubayyin bakalan publish. Jadi Mubayyin ini bercerita tentang kisah Ian dan Ana. Kisah yang kalian tunggu-tunggu kan?
Yuk segera kepoin mereka di ig@elkyeee001
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Blurd
Usaha Ana dalam mencari keberadaan sang ayah membuatnya harus tinggal di pondok pesantren, dan berada dalam pengawasan Ian, tetangga sekaligus ustad di pesantren itu.
Walau di awal merasa terkekang dan tidak membuahkan hasil, namun kedekatannya dengan Ian membuat perasaan yang tidak seharusnya muncul dalam hati Ana. Membuat gadis itu berharap lebih atas kebaikan Ian, laki-laki menjaganya sejak kecil.
Hingga kenyataan pun menyadarkan Ana, bahwa hubungan mereka hanya sebatas kakak-adik, terlepas dari hal itu Ana pun tak punya kuasa untuk maju, lantaran orang yang ia cintai di jodohkan dengan perempuan lain, oleh abah kyai, guru mereka sendiri.
^^^^^
"Cepet sini!" Seru Ian yang melihat kepala Ana melongok dari pintu.
Ana menggeleng cepat. "Rame, malu." Balas Ana, selain di kedai kopi terlihat beberapa kakang yang sedang duduk di depan bengkel dan juga koprasi depan.
Ian menyerahkan plester luka ke Zaynal. "Pegang bentar." Kemudian mendekat ke arah koprasi. "Mau kamu yang ke sana, atau Mas masuk ke koprasi." Ujar Ian bertanya.
"Ana yang kesana aja deh, tapi gak ada sendalnya." Keluhnya lagi, melihat sekitar yang memang tidak ada sendal.
Ian melepas sandalnya dan meletakkan di depan Ana "Udah ayok keluar."
Ana tertegun, kemudian mengikuti Ian dari belakang dan duduk di salah satu kursi di kedai kopi.
"Tangan kamu kenapa? Kamu mainan pisau." Ujar Ian sambil mengolesi antiseptik di luka ana.
"Di kira gue anak kecil kali, mainan pisau." Racau Ana pelan.
"Mas denger loh yah." Ucap Ian sambil melirik tajam, lalu berdiri mengambil coklat panas yang ia pesan.
Lagi-lagi Ana menggerutu kesal, sangat lirih hingga Ian hanya melihat mulut Ana yang sedang komat-kamit. "Tangan kamu kenapa?" Kini giliran Zaynal yang bertanya, duduk di bangku yang tadi di tempati Ian.
"Kena pisau tadi di dapur." Jawab Ana lugas.
"Pinter, Mas tanya gak di jawab giliran Zaynal yang nanya jawabnya cepet banget." Seru Ian di belakang Zaynal.
"Bodo amat, Ian." Ucap Ana di barengi dengan wajah meledek kepada Ian.
Ian meletakan coklat panas di meja dekat Ana. "Udah sana masuk, jangan begadang, besok sekolah." Ucap Ian, sebelum Ana beranjak pergi ia mengelus pucuk kepala Ana sebentar, entahlah itu kebiasaannya sejak kecil. "Kalo lagi beraktivitas hati-hati ya." Ucapnya menatap Ana lekat.
"Siap, Ma- Abang."
Apakah Ana punya cukup keberanian untuk bisa bersama Ian? Ayok segera baca untuk mengetahui kelanjutan ceritanya.
Segera publish di Karya karsa : Kamis, 26 September 2024 Wattpad : Sabtu, 28 September 2024
Jangan sampai ketinggalan yah! See you di cerita Mubayyin