chapter16

24.3K 1K 1
                                        


HAPPY READING YEOROBUN 💞
-----------

Bulan menggantung di langit malam, di temani ribuan bintang yang bersinar menemani. Burung-burung merpati terlihat beterbangan mengelilingi area pondok pesantren Assalam.

"Gue heran deh, kenapa setiap malem tuh burung selalu muterin area pondok" ucap Aza memulai perbincangan.

"Hobi kali" jawab Lala asal.

Saat ini mereka berdua sedang berada di komplek atas, tempat para santri baru. Aza menemani Ganeth yang katanya mau cari perhatian memilih calon adik.

"Gue kok merinding ya Za" ucap Lala mengelus bulu kuduknya.

"Perasaan Lo aja kali, ke aula atas aja ayok" ajak Aza.

Aula atas/aula putri. Tempatnya berada di lantai 3 melewati tangga yang cukup banyak, lalu berujung lorong panjang, dengan bangunan yang tidak di pakai di sampingnya dan juga bersampingan jemuran atas, yang katanya horor. Aula sendiri tempatnya paling pojok di antara bangunan itu.

"Untung rame ya Za nggak sepi" ucap Lala melihat banyak santri yang sedang meng Ghibah.

"Iya."

Aza masuk ke dalam aula di ikuti Lala. Menuju pojok ruangan, lalu mengalihkan pandangannya pada kaca yang menembus pemandangan dari segala penjuru.

Memperhatikan beberapa kakang yang sedang berjalan santai, menuju koprasi. Beberapa dari mereka bersenda gurau, ada juga sambil lari-larian. Juga para kakang yang sedang nongkrong di kedai kopi pinggir jalan.

Berbeda dengan Aza. Lala malah memandangi sosok yang tengah duduk di rooftop koprasi seorang diri. Dari posturnya saja dia sudah tau itu Alvin.

Namun seakan di komando tiba-tiba saja pandangan keduanya tertuju pada seorang kakek yang sedang menaiki sepeda dengan nenek tua di boncengan belakang. Tangan nenek itu memeluk pinggang sang kakek dengan erat.

"So sweet" pekik mereka berdua.

"Sampek tuwek" ucap Aza sambil mengangkat sebelah alisnya.

Dengan aba-aba tangan mereka mulai bernyanyi.

Sampek tuwek we ra bakal tak culno
Masio wis ra wancine, sayang-sayang Ning kene.
Siji-sijine wong sing gawe ayeme ati,,,, Gawe uripku seneng. Mesem saben wengi.

Huuuuuu.....uwooooo.....aaaaa
Wis tak angen-angen Kowe bakal dadi jodohku, ihhh

Seneng-seneng bareng, susah-susah bareng, nyanding sliramu, sayang sliramu
Wis tak angen-angen Kowe bakal dadi jodohku
Wis tak angen-angen Kowe bakal dadi pilihanku.

Tenang ra sah sepaneng, tenang aku wis seneng
Rene rangkulan aku, tak nggo sangu guruku
Mbesok miliho dino, Kowe bakal tak lamar
Ra sah nduwe roso, aku ninggalna awak e dewek wis dadi siji-sijine

Mereka bernyanyi hingga tak sadar jadi tontonan santri yang lain, terlebih santri baru. Aza menarik kerudung Lala hingga akhirnya mereka berlarian menuju kamar.

"Khanza gue punya ide cemerlang buat Novel Lo" teriak Aza begitu sampai pintu kamar.

Di dalam kamar mereka bertiga sedang makan pop mie. Dengan beberapa jajan chiki-chiki.

"Kok nggak ngajak sih" kesal Aza sambil merebut punya Ganeth. Sedangkan Lala merebut punya Zayin.

"Ide apa kak" tanya Khanza.

Ijbar [Selesai]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang