chapter19

23K 1.1K 17
                                        

Saran aja nih yah, kalian sambil putar link YouTube yang aku bagi di atas.
________

HAPPY READING YEOROBUN 💞
-------

Setelah selesai ngaji klasikal malam Aza dkk minus Khanza jalan-jalan ke lantai dua. Mereka menemani Ganeth yang lagi-lagi mau caper ke santri baru.

"Sumpah gue malu tau, bolak-balik ke sini Mulu" ucap Aza sambil menutupi mukanya dengan kitab.

"Bentar doang elah Za" ucap Ganeth.

"Ayok cepetan, hujan-hujan gini tuh enaknya di kamar. Bukan malah kayak gini" ucap Aza di sertai anggukan Lala dan Zayin.

Saat ini memang area pondok sedang di guyur hujan deras, di sertai kilat juga petir yang menyambar.

Jlebb

"Aaaaahhhhh"

Tanpa di duga tiba-tiba saja mati lampu. Para santri berlarian menuju ke kamarnya masing-masing, beberapa kali juga Aza tertabrak bahkan hampir jatuh, tak lama ia langsung memepet Ganeth, begitu juga Lala dan Zayin.

"Gimana nih?" tanya Lala.

"Sumpah gue merinding, takut..." Ucap Aza tak jadi melanjutkan ucapannya.

"Ga usah di lanjutin Za, gue ikut merinding," sahut Ganeth.

Puk

Seseorang menepuk bahu Aza. Refleks ia melotot kaget, namun masih tak bersuara. Melihat para sahabatnya yang biasa saja, Aza yakin mereka tak menyadarinya.

"Azaa" panggil seseorang di belakang Aza.

Aza menengokan kepalanya perlahan-lahan ke arah belakang. "Aaaaaaaaaa" jerit Aza keras yang mengakibatkan sahabatnya ikut menjerit juga.

"Ini aku Nurul" ucapnya dengan lilin tepat di depan wajahnya yang nampak datar.

"E-ehh kenapa mbak" tanya Aza dengan wajah memerah menahan malu, untung saja gelap.

"Temenin mbak ke aula atas yuk, katanya ada anak yang ketinggalan" ucap mbak Nurul sambil melirik lantai tiga.

"Serius mbak ke aula atas, mati lampu gini?" Tanya Aza ragu, sumpah demi apapun aula atas ini loh, mati lampu lagi.

"Ayok, temenin Mbak."

Aza menatap para sahabatnya, ke aula dalam keadaan mati lampu itu sama aja uji nyali, apa lagi sekarang di tambah hujan, cocok sudah di jadikan latar film horor.

"Gimana?" tanya Aza pada ke-tiga sahabatnya.

Awalnya mereka sama-sama ragu, namun melihat wajah memelas mbak Nurul mereka akhirnya terpaksa mengangguk. Aza meminjam satu lilin lagi dari salah satu kamar, jadi dua lilin dengan lima orang.

Aza dan Ganeth memimpin di depan, sedangkan Mbak Nurul, Zayin, dan Lala di belakang dengan membawa satu lilin yang di pegang Mbak Nurul. Menaiki tangga dengan perlahan-lahan, di iringi suara gemuruh hujan dan petir yang menyambar.

"Sumpah serasa uji nyali gue" ucap Aza memecah keheningan.

"Iya, merinding gue" sahut Zayin di belakang.

"Emang berapa anak yang di atas Mbak?" Tanya Lala penasaran.

Melihat Mbak Nurul yang hanya diam, Lala bertanya lagi. Kali ini sedikit lebih keras.

"Satu" jawab Mbak Nurul lirih.

Sampai di pijakan tangga terakhir, Aza dan Ganeth menghentikan langkahnya sejenak. Sepi dan gelap hanya menyisakan lorong yang kosong. Menambah kesan mencekam.

Ijbar [Selesai]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang