"Demi Tuhan ingin sekali kujambak rambutmu itu" celetuk jisoo penuh kejengkelan
"Tidak usah khawatir kau tak sendirian aku pun merasakan hal yang sama. Perlukah kucabut hingga habis?" Tutur sana santai kemudian berjalan memasuki lift meninggalkan jisoo
Saat pintu lift akan tertutup jisoo menahannya kemudian ikut masuk. Mereka berdua berdiri diam saling menahan rasa kesalnya masing-masing.
"Apa ayahku sudah menjelaskannya padamu?" Jisoo membuka suara terlebih dahulu namun tak ada sahutan dari sana.
"Kau harus bersyukur karena kali ini aku memihakmu" merasa ucapannya tak direspon jisoo menatap tajam
"Sudah kubilang tampangmu itu seperti penipu jangan memihakku, itu mengerikan. Tadi kau seperti mengenal CEO itu dengan baik dan sekarang kau malah ingin memihakku, lucu sekali". ujar sana acuh tak acuh.
Aku sama sekali tidak memihak CEO sialan itu, dengar! Kejadian dua tahun silam saat diruang operasi itu semua manipulasi, sebenarnya anak itu meninggal sebelum operasi dimulai"
"Omong kosong macam apa itu" bantah sana, ucapan jisoo sungguh tak masuk akal. Padahal jelas pada saat itu bagian anestesi memberitahu detak jantung yang normal.
"Ethuanasia" melihat raut wajah sana yang tercengang jisoo kembali melanjutkan ucapannya "ya! Suntik mati"
Sana membekap mulutnya tak percaya, mendadak ulu hatinya kembali terasa nyeri.
Jisoo menghela nafas jengah kemudian merobek kertas dan menuliskan sesuatu.
"Periksalah sendiri, ini alamat perawat yang menjadi anestesi pada hari itu".
Ia menyerahkannya dengan kasar di tangan sana.Setelah mendapat informasi itu jelas sana langsung menuju alamat yang tertera pada secarik kertas ditangannya.
Setelah mendapat informasi itu jelas sana langsung menuju alamat yang tertera pada secarik kertas ditangannya. Dan disinilah ia berada sekarang
"Panti kasih"
ujar sana saat membaca tulisan di papan gapura pintu gerbang. Segera ia berjalan masuk
disana banyak anak kecil yang bermain memenuhi halaman.Saat mengedarkan pandangannya matanya bertemu dengan sosok wanita seusianya tengah membersihkan ruangan. Wanita itu tak bisa menyembunyikan raut keterkejutan dari wajahnya tatkala melihat sana. Ia tersentak dan menjatuhkan sapi dari kedua tangannya.
Setelah beberapa menit...
"Minumlah dulu" ujar seorang wanita sesaat meletakkan secangkir teh
"Shin Yubin.. kamu Shin Yubin kan. Perawat yang bertugas sebagai anastesi diruangan operasi pada hari itu" sesaat sana mengatakan itu, wanita yang ada dihadapannya langsung menjatuhkan diri bersimpuh dibawah kaki sana
"Sedang apa kau, lepaskan!"
"Maafkan saya nona.. maafkan saya, sungguh saya sangat menyesal sudah mengikuti kemauan mereka saya benar-benar tidak tahu apa-apa saya sangat menyesal sungguh" wanita itu berujar dengan sesegukan
Sana bangkit, wajahnya menggeram kesal "Maaf katamu? Setelah menghilangkan nyawa seorang bocah kau bilang maaf?"
Sana mencengkram kedua bahu wanita itu "siapa yang menyuruhmu.. katakan siapa yang menyuruhmu?"
CEO rumah sakit Hankook"
Habis sudah, entah kenapa mendengar hal itu tubuh sana serasa lemas hingga ia juga menjatuhkan dirinya lalu air matanya berjatuhan.
"Sungguh aku sangat menyesal, aku selalu memimpikan wajah bocah itu, ia selalu mendatangiku dengan berlumuran darah. Aku sangat menyesal hingga aku memutuskan berhenti dari rumah sakit itu dan mengurus panti ini"
Sana tidak menanggapi ekspresi apapun selain menangis dengan keras. Dalam lubuk hatinya ia juga merasa bersalah tidak bisa melakukan apapun untuk menolong Han seo
Pukul 21.00
Setibanya taksi di depan rumahnya, sana turun dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya. Dilihatnya jin yang baru keluar dari rumah dengan tergesa-gesa
Jin melambatkan langkahnya sesaat netranya bertemu pandang dengan sana"Dari mana? Aku hendak mencarimu.. kamu lagi-lagi tidak menjawab teleponku"
Sana hanya terdiam, untuk menjawab barang sedikitpun mulutnya terasa keluh. Entah karena angin malam ataukah karena bertemu jin matanya kembali memanas. Jin langsung berjalan mendekat dengan raut cemas
"ada apa? Kamu sakit?"
Sana menjatuhkan keningnya pada dada bidang itu. Sebelah tangannya mencengkram sisi jaket dari sang suami
"sebentar saja.. biarkan aku bersandar sebentar"
Dari nada bicaranya jelas terdengar bergetar, jin memilih merengkuh tubuh sana dibandingkan menanyakan lebih, ia membelai suram legam itu seraya berkata
"Tenanglah kau sudah dirumah"
Sana semakin mengeratkan pelukannya, menenggelamkan wajahnya dalam dekapan sang suami, rumahnya.
To be continued
Hello semua jangan lupa jaga kesehatan and be happy ILYSM
Ah ! Dan jangan lupa baca karyaku yang satunya "Hold me tight"
Thank you
Bye-bye 💞

KAMU SEDANG MEMBACA
The Meaning of My life [On Going]
Teen Fiction"apa jadinya jika seorang dokter bedah fobia terhadap darah ?" yuk !! ikutin ceritanya #Rank 3 sajin (couple) 16/3/2022 #rank 1 sajin (couple) 10/6/2022