"apa jadinya jika seorang dokter bedah fobia terhadap darah ?"
yuk !! ikutin ceritanya
#Rank 3 sajin (couple) 16/3/2022
#rank 1 sajin (couple) 10/6/2022
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
srruupp ah
"Enaknya...ini benar-benar enak bu". seru sana yang tak habis-habisnya menyeruput sup rumput laut kesukaannya.
sudah sangat lama ia menantikan momentum ini, berkumpul kembali dengan keluarga kecilnya dan makan bersama di atas balkon rumah yang terbuka dengan hembusan angin malam dan diterangi cahaya bulan.
tuntutan pekerjaan di seoul membuatnya mau tak mau harus meninggalkan ibu serta adiknya di busan dan menetap di seoul. dalam sebulan biasanya ia akan pulang ke tempat asal minimal 3 hari sekali, namun akhir-akhir ini ia hanya mengunjungi sekali sebulan sebab hari-harinya yang lain selalu dipadati dengan pekerjaannya.
ayahnya sudah lama meninggal disaat ia masih kecil, sadar akan ibunya yang selalu bekerja sendiri di kedai ayam milik warisan sang ayah. Membuatnya mau tak mau harus rajin belajar.
Ibunya tak pernah mengeluarkan uang sepersen pun untuk membiayai pendidikannya sedari bangku SMP bahkan ketika ia menempuh perguruan tinggi, semua itu karena usaha dan niat yang serius ditambah lagi IQ yang di atas rata-rata membuatnya selalu dibanjiri tawaran beasiswa dari perguruan manapun hingga akhirnya ia memutuskan memilih fakultas kedokteran dan di luar dugaan ia menyelesaikan kuliahnya dengan cepat dan magang di R.S Hankook, yakni rumah sakit swasta dan terbesar di korea yang seleksi masuknya sangatlah ketat.
"apa enak? Ayo makan lagi". ujar Ny.seo sang ibu seraya menambahkan sup di mangkuk sana.
"Ibu aku juga... ini sangat enak". Cengir Changbin yang juga ikut-ikutan meminta mangkuknya diisi kembali.
"ini makanlah"
Setelah menuangkan sup, sang ibu kembali menatap putri semata wayangnya ini. Ia sangat lega karena kedua anaknya bisa tumbuh sehat bahkan tanpa ditemani figur ayah.
"maafkan ibu". dua kata itu berhasil merebut atensi sana dan changbin.
"hem.. ada apa bu?" tanya changbin.
"Apa maksud ibu?" timpal sana yang ikut penasaran.
Sang ibu hanya menggeleng seraya tersenyum "bukan apa-apa..ibu hanya teringat mendiang ayah kalian, ia pasti sangat bahagia jika melihat kalian makan dengan lahap dan tumbuh sehat seperti saat ini". lirih sang ibu seraya meneteskan air matanya.
sana meraih tangan ibunya dan membawa kedalam genggamannya, ia mengelus lembut punggung tangan yang sudah dipenuhi kerutan itu.
"lantas kenapa ibu meminta maaf, hem?.. kita telah diberikan keberkahan dan kemudahan oleh Tuhan yg Maha Esa, seharusnya ibu berterima kasih dan bersyukur untuk itu". ujarnya pelan sangat lembut seolah tengah menenangkan anak kecil yang menangis.
changbin hanya menatap kedua wanita yang tengah berdrama ini seraya menyeruput kembali supnya, entahlah ia tidak terlalu mengambil pusing tentang ini, menurutnya itu hanyalah masalah di antara wanita dan hanya merekalah yang mengerti.