Tut tut tut
Bunyi teko listrik begitu nyaring ditelinga, sana tak bisa melepaskan diri begitu saja, sang suami terus meremas jemarinya setiap mendengar penuturan dari seorang tamu wanita yang tak diundang.
Shin yubin, wanita itu terus bergetar ketakutan tiap mendapat cercaan pertanyaan dari jin, sana hanya diam, bahkan ia tak berani menanggapi sepatah katapun di saat sang suami yang biasanya dengan pembawaan tenang seketika berubah menjadi dingin dengan wajah merah padam pertanda amarah yang kuat.
Benar, jin baru saja mengetahui keterlibatan CEO dalam insiden kecelakaan dua tahun lalu yang tak lain juga penyebab sana menderita selama ini
"Sekarang apa? Berani berbuat maka harus berani bertanggungjawab" ujar jin dingin dengan amarah yang kentara
Sejenak wanita itu terlihat semakin ketakutan hingga akhirnya ia bersuara "saya siap bertanggung jawab, tapi sebelum itu saya sangat ingin mengungkapkan kejahatan CEO bedebah itu".
"kita harus punya bukti, bukan perkara yang mudah mencebloskan orang seperti itu di penjara" ujar sana yang pada akhirnya membuka suara
Jin yang mendengar hal itu spontan melirik ke arah sana, ia baru sadar bahwa sang istri yang biasanya bersifat frontal dalam menghadapi suatu masalah mustahil bisa setenang ini jika bukan karena sudah mengetahui hal itu terlebih dahulu. Jin menarik tangannya melepaskan genggaman di tangan sana dengan membuang muka. Sana yang menyadari perubahan emosi jin yang semakin memburuk ingin menyentuh kembali pundak sang suami namun secara tiba-tiba bel pintu kembali berbunyi.
Dengan sigap sana langsung menuju ke pintu, sesaat membukanya jisoo muncul dengan senyum tipis di depan pintu
"Boleh aku masuk? "
Jika biasanya sana selalu menanggapi kehadiran musuh bebuyutannya ini dengan sikap sinis, maka kali ini tidak. Yah setidaknya ia bisa sedikit melunak saat jisoo memberi jalan pada masalahnya dengan membuka jalan melalui keberadaan shin yubin. Sana memberi jalan mempersilahkan jisoo untuk masuk.
"Rupanya bukan hanya aku tamu disini" seru jisoo sesaat menyapa jin.
"Kenapa kesini?" tanya sana langsung pada intinya
"Aku yang memintanya kesini" jawab jin
Tak ada angin tak ada hujan jelas sana cukup terkejut mendengar jin mengundang jisoo ke rumah mereka, ia ingin langsung menanyakan mengapa namun hal itu urung dilakukannya saat raut kesal masih nampak begitu jelas dari jin.
"Aku sudah memberi tahu tentang shin yubin pada sunbae, aku juga yang meminta yubin datang kesini agar sunbae bisa mendengar dari telinganya sendiri siapa biang dari semua hal ini" terang jisoo yang mengambil duduk
"Sunbae memintaku kesini saat aku sudah memiliki bukti yang cukup kuat" lanjut jisoo yang menyodorkan flashdisk kecil keatas meja kaca.
Seraya mengamati flashdisk itu jin kembali bersuara "apa ini rekaman itu? "
"Ya, aku berhasil menemukan kembali rekaman percakapan CEO yang menyatakan dengan jelas keterlibatan dia dengan semua ini, mungkin ayah juga akan diseret dalam kasus ini tapi setidaknya kejahatan CEO tua itu bisa terbongkar sekarang kita bisa menyerahkan bukti ini ke kantor polisi" jelas jisoo dengan yakin
"Tidak! Menyerahkan kepada polisi sama saja dengan menghilangkan bukti. Dua tahun lalu kasus ini sempat dibawa ke polisi namun hasilnya nihil, Orang yang berpengaruh mereka lah yang memegang kendali" tolak sana dengan sigap
"Benar, untuk saat ini kita harus berhati-hati dalam bertindak, terimakasih sudah membantu" sahut jin dengan nada yang kembali ramah, tampaknya amarah itu sudah hilang, ya tentu saja, raut wajah jin kembali melunak

KAMU SEDANG MEMBACA
The Meaning of My life [On Going]
Teen Fiction"apa jadinya jika seorang dokter bedah fobia terhadap darah ?" yuk !! ikutin ceritanya #Rank 3 sajin (couple) 16/3/2022 #rank 1 sajin (couple) 10/6/2022