"I hope we can be together, dear"
Aku bersembunyi di balik pintu.
Teriakan Ibu bergetar dari dapur sampai kamarku.Mereka kembali bertengkar, aku tidak tau apa permasalahannya.
Ku putar musik keras-keras mencoba menghalangi suara-suara mereka.
Mengubur diri di bawah selimut dengan gemetar sampai air mataku keluar tanpa izin.
Saat itu aku masih kecil untuk mengetahui apa yang selalu mereka debatkan.
Ibu yang ingin aku mengikuti jalan karirnya sebagai pianis, dan Ayah yang menginginkan aku meneruskan bisnisnya.
Teriakan-teriakan itu masih bisa kudengar dalam kepala meski kini aku berdiri di depan halte bus sendirian di tengah hujan.
Kenapa hujan selalu mengingatkanku tentang dia?
"Kau menangis lagi, Nona."
Entah kenapa suara yang kurindukan kembali kudengar setelah ia pergi tanpa kabar.
"Tuan, kenapa kau selalu datang tiba-tiba?"
Aku bisa mendengar kekehan kecilnya yang bahkan terdengar menggoda itu.
"Setiap kali Nona di sini untuk menguras air mata, aku selalu berada di belakangmu tanpa kau sadari. Nona mengingatkanku pada diriku yang lalu, di mana aku selalu menangis karena luka-luka ku."
Seorang pendengar yang baik, kah?
¹³/⁰⁴/²²
KAMU SEDANG MEMBACA
𝗽𝗹𝘂𝘃𝗶𝗼𝗽𝗵𝗶𝗹𝗲 [ ᴅᴀᴢᴀɪ ᴏꜱᴀᴍᴜ ] ✓
Fanfiction"ᵇᵘᵏᵃⁿᵏᵃʰ ⁱⁿᵈᵃʰ ʰᵘʲᵃⁿ ᵐᵉⁿʲᵃᵈⁱ ˢᵃᵏˢⁱ ᵖᵉʳᵗᵉᵐᵘᵃⁿ ᵖᵉʳᵗᵃᵐᵃ ᵈᵃⁿ ᵗᵉʳᵃᵏʰⁱʳ ᵏⁱᵗᵃ ᵇᵉʳᵈᵘᵃ" 𝐬𝐭𝐨𝐫𝐲 𝐚𝐛𝐨𝐮𝐭• ·˚ ༘ ➳ 𝚔𝚎𝚍𝚞𝚊 𝚒𝚗𝚜𝚊𝚗 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚑𝚒𝚍𝚞𝚙𝚗𝚢𝚊 𝚝𝚎𝚛𝚘𝚖𝚋𝚊𝚗𝚐-𝚊𝚖𝚋𝚒𝚗𝚐, 𝚋𝚎𝚛𝚜𝚊𝚖𝚊 𝚝𝚊𝚗𝚙𝚊 𝚖𝚎𝚗𝚐𝚎𝚗𝚊𝚕 𝚗𝚊𝚖𝚊 𝚜𝚝...