⌗ 𝐁𝐨𝐨𝐤 𝐎𝐧𝐞
【𝔓𝔞𝔯𝔱 𝔬𝔣 Ë𝔩𝔦𝔵𝔞𝔱𝔢𝔯𝔱ä 𝔘𝔫𝔦𝔳𝔢𝔯𝔰𝔢】
(Sedang proses revisi)
┌───────── · · · · ♡
Mulanya, Aëron dan Aïres adalah si kembar yang kelahirannya sudah tertulis di ramalan Ellyore sebagai pemilik tanda gurin setelah se...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
✩₊˚.⋆☾ Happy Reading ☽⋆⁺₊✧
"Kita lewati hutan hitam ini!"
Ren sempat mematung sejenak, menatap rimbunnya pepohonan yang tampak seperti siluet monster di matanya. Ia tahu rencana Leon sangat berisiko, tapi tak ada pilihan lain. Jika ingin sampai ke perbatasan lebih cepat, mereka harus berani menerjang hutan hitam itu.
Sambil mengangguk mantap, Ren dan Leon mulai mundur perlahan, setapak demi setapak. Mereka mempererat dekapan pada Aëron dan Aïres, memastikan kedua anak itu aman dalam lindungan mereka. Mata mereka terus bergerak liar, waspada terhadap setiap pergerakan sekecil apa pun di sekeliling mereka.
Di depan sana, Aramis masih banyak bicara. Membahas ini dan itu, sibuk menyombongkan diri seakan kemenangan sudah berada dalam genggamannya. Padahal, bagi Ren dan Leon, ocehan itu tak lebih dari angin lalu. Mereka sama sekali tidak peduli, fokus mereka hanya satu, selamat.
Begitu tumit mereka menyentuh batas wilayah Hutan Hitam, dalam satu entakan kuat, keduanya berbalik dan melesat secepat kilat. Tawanya terputus saat menyadari ia baru saja dibodohi untuk kesekian kalinya. Amarahnya meledak. Jika dia tak mendapati Aëron dan Aïres ataupun salah satunya, ia bisa mati karena dituduh pendusta oleh Raja Bellshatan.
"Cepat! Kejar mereka!!!" teriak Aramis.
Tanpa menunggu perintah dua kali, seluruh pasukan kegelapan itu menghambur, mengejar bayangan Leon dan Ren yang mulai menghilang ditelan kabut tipis hutan hitam yang minim cahaya.
Aramis sendiri tidak langsung berlari. Ia berdiri di ambang hutan, lalu menggumamkan mantra. "Wahai hutan hitam! Kuperintahkan kau untuk menangkap Elves yang kini berada di wilayahmu!"
Hanya dengan satu kalimat, hutan hitam itu seolah terbangun dari tidurnya. Gemuruh hebat terdengar dari balik batang-batang pohon tua, membuat burung-burung gagak berterbangan tak menentu. Akar-akar raksasa mulai menggeliat liar di atas tanah, mencambuk dan bergerak agresif daripada sebelumnya.
Kini, hutan itu sudah berada dalam kendalinya. Barulah Aramis berlari masuk ke dalam hutan, menyusul pengejaran itu. Mengambil kembali miliknya.
Disisi lain, Ren dan Leon memang berhasil menghindari kejaran makhluk kegelapan. Namun, akar-akar raksasa yang mencuat dari balik tanah terus menerus menyerang, menghalangi setiap langkah pelarian mereka. Entah firasat mereka atau memang kenyataan, pergerakan akar-akar ini semakin mengganas. Leon bahkan hampir saja terjerat jika Ren tidak bertindak cepat menebas sulur kayu yang mengincar leher rekannya.
"Apa masih jauh? Aku tidak tahan lagi jika berada didalam hutan ini lebih lama!" keluh Ren.
Mereka terus dipaksa berlari dan menghindar. Sesekali, pedang dan sihir mereka harus bekerja ekstra keras memotong akar-akar yang merintangi jalan secara berkala.
"Hutan hitam ini luas, kita hanya perlu lurus ke arah barat untuk sampai di perbatasan!" balas Leon.
Sebenarnya, Ren paling tidak menyukai aktivitas yang membuatnya berkeringat, contohnya bertarung atau berlari tanpa henti seperti ini. Namun, ia menahan egonya. Ia tahu ini bukan waktu yang tepat untuk mengeluh.