⌗ 𝐁𝐨𝐨𝐤 𝐎𝐧𝐞
【𝔓𝔞𝔯𝔱 𝔬𝔣 Ë𝔩𝔦𝔵𝔞𝔱𝔢𝔯𝔱ä 𝔘𝔫𝔦𝔳𝔢𝔯𝔰𝔢】
(Sedang proses revisi)
┌───────── · · · · ♡
Mulanya, Aëron dan Aïres adalah si kembar yang kelahirannya sudah tertulis di ramalan Ellyore sebagai pemilik tanda gurin setelah se...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
✩₊˚.⋆☾ Happy Reading ☽⋆⁺₊✧
Pagi itu, udara di aula istana Xuineverald terasa berat oleh campuran aroma wangi bunga perjamuan dan keringat dingin dari seratus ksatria muda. Dua minggu setelah kelulusan dari Akademi Belvídera, hari yang mereka impikan tiba, yaitu Penobatan Ksatria.
"Menurutmu, dimana Aïres sekarang?" Ryuu berbisik, jemarinya sibuk merapikan tatanan rambut yang sebenarnya sudah sempurna. Kegelisahan tampak jelas dari gerakannya yang repetitif.
Noam, yang berdiri di sampingnya, hanya mengedikkan bahu tanpa suara. Rahangnya mengatup rapat, matanya menatap lurus ke depan. Ia terlalu sibuk menelan kegugupannya sendiri untuk memikirkan hal lain. Ryuu kembali mengedarkan pandangan, mencari sosok yang seharusnya berdiri paling depan sebagai ketua divisi. Upacara hanya tinggal hitungan menit.
"Kalian!" Sebuah suara bariton yang tajam memecah konsentrasi mereka.
Laki-laki berbadan tegap menghampiri dengan langkah yang presisi. Seragam ksatria pedang miliknya berkilau, menandakan statusnya sebagai ketua divisi. Selaras dengan garis wajahnya yang tegas dan paripurna. Ia berhenti tepat di depan mereka, menatap Ryuu dan Noam bergantian dengan tatapan yang mengintimidasi.
"Dimana ketua divisi kalian?"
"Aïres?" Ryuu melirik Noam sejenak sebelum menjawab dengan nada ragu. "Tidak tahu, kami juga sedang menunggunya."
"Ada apa, Alan?" tanya Ryuu kemudian.
Alan Haverford tidak menyembunyikan picingan matanya. Alisnya bertaut rapat, menampakkan ketidaksenangan. Baginya, nada bicara Ryuu yang kasual adalah penghinaan terhadap hierarki yang ia junjung tinggi. Sebagai bangsawan tinggi sekaligus ksatria berpangkat lebih dari anggota divisi memanah seperti mereka, Alan merasa etika sedang diinjak-injak.
"Dilihat dari cara bicaramu." Alan menatap sinis, "Kau pasti bangsawan rendahan yang tidak tahu tempatmu."
Mendengar kalimat tak menyenangkan yang ditujukan pada temannya itu, Noam yang sedari tadi diam, mendadak merasakan darahnya mendidih. Rahangnya mengeras, menahan amarah yang memuncak. Ia menatap Alan dengan tatapan yang seolah ingin menembus baju zirah perak laki-laki itu. Ryuu tersentak, belum pernah ia melihat Noam sebuas ini.
Noam baru saja hendak melontarkan balasan pedas ketika sebuah bayangan berkelebat cepat. Sebelum ada yang menyadari kehadirannya, perempuan berseragam serupa dengan Alan sudah berdiri di belakang laki-laki itu. Dengan gerakan yang halus namun mematikan, ia melingkarkan lengannya di leher Alan, menekan titik fatal dengan ujung jari yang tenang.
"Coba katakan sekali lagi?" bisik perempuan itu.
Alan mematung. Wajahnya tetap tenang, namun otaknya bekerja keras memproses bagaimana ketua ksatria panah itu bisa menyelinap ke titik butanya tanpa suara sedikit pun.