04. Elosibushz

522 438 62
                                        

✩₊˚

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

✩₊˚.⋆☾ Happy Reading ☽⋆⁺₊✧

Dua hari telah berlalu. Kerajaan Xuineverald mengalami kerugian fatal dan luka yang mendalam setelah penyerangan malam itu. Banyak korban jiwa berjatuhan. Tak hanya bangsawan di Xuineverald, tamu undangan dari kerajaan tetangga pun ikut jadi korban.

Kekacauan tersebut benar-benar menguras seluruh energi Esmeralda. Sejak malam tragedi itu, Esmeralda hampir tidak pernah menyentuh tempat tidurnya. Meski matanya sembap dan hatinya hancur, Esmeralda dipaksa kuat oleh keadaan. Ia harus mengurus pemakaman kedua orang tuanya di tengah hiruk-piruk kondisi kerajaan, sekaligus mengisi kekosongan takhta yang ditinggalkan mendiang Raja Hecxan.

Tak ada pesta megah atau sorak-sorai rakyat untuk menyambut penguasa baru. Penobatan Esmeralda sebagai pemimpin Xuineverald yang baru hanyalah sebuah upacara formalitas singkat yang dihadiri oleh dewan kerajaan.

Esmeralda tidak punya waktu untuk meratapi nasibnya lebih lama. Tumpukan urusan kerajaan yang mendesak, mulai dari memulihkan pelindung sihir hingga menangani para korban terus menyita waktunya. Untunglah ada Zion selaku sekretaris setia mendiang sang ayah yang kini datang membantunya. Ia senantiasa berada disamping Esmeralda dalam menjalankan tugas yang tidak ada habisnya.

Namun, di balik kesibukannya, Esmeralda tetaplah seorang ibu yang hancur. Setiap kali ia sendirian, bayangan wajah mungil Aëron dan Aïres selalu datang menghantui, membuat pertahanannya runtuh. Seperti saat ini, setelah baru saja menyelesaikan rapat panjang dengan para pemimpin kerajaan di Ëlixatertä mengenai insiden penyerangan dan rencana penyelamatan kedua anaknya, Esmeralda hanya bisa terduduk lemas di ruang kerjanya. Isak tangis yang sedari tadi ia tahan akhirnya pecah juga.

Rasanya ia ingin sekali membuka portal menuju Elosibushz saat ini juga untuk menjemput si kembar. Tapi, akal sehatnya masih bertahan. Ia tahu tindakan gegabah itu hanya akan membuat portal tidak tertutup sempurna dan justru menjadi jalan masuk bagi makhluk kegelapan ke dunia mereka. Dengan sisa kekuatan sihirnya, ia bahkan baru saja selesai memulihkan dan menggandakan pelindung di sekitar Xuineverald serta kerajaan tetangga demi mencegah tragedi serupa terulang kembali.

Di tengah keheningan ruangannya yang hanya diisi oleh suara sesenggukan, tiba-tiba terdengar suara ketukan pelan di pintu kayu yang besar, membuyarkan kesedihan yang sedang ia rasakan.

"Yang Mulia Ratu," suara lembut Isabella June, sang kepala pelayan, terdengar dari balik pintu.

Esmeralda langsung menyeka sisa air mata di pipinya dan menarik napas dalam-dalam, berusaha menata kembali ekspresi wajahnya agar terlihat baik-baik saja. "Masuklah."

Pintu kayu besar itu terbuka perlahan, menampakkan sosok Isabella. Wanita yang usianya jauh lebih tua dari Esmeralda itu melangkah masuk, lalu membungkuk memberikan salam hormat.

"Ada apa, Isabella?"

Isabella berdiri tegak, namun tetap menundukkan pandangannya. "Semua pekerjaan untuk hari ini sudah selesai, Yang Mulia. Apa anda mau beristirahat?"

𝐀𝐞̈𝐫𝐨𝐧 & 𝐀𝐢̈𝐫𝐞𝐬Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang