⌗ 𝐁𝐨𝐨𝐤 𝐎𝐧𝐞
【𝔓𝔞𝔯𝔱 𝔬𝔣 Ë𝔩𝔦𝔵𝔞𝔱𝔢𝔯𝔱ä 𝔘𝔫𝔦𝔳𝔢𝔯𝔰𝔢】
(Sedang proses revisi)
┌───────── · · · · ♡
Mulanya, Aëron dan Aïres adalah si kembar yang kelahirannya sudah tertulis di ramalan Ellyore sebagai pemilik tanda gurin setelah se...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
✩₊˚.⋆☾ Happy Reading ☽⋆⁺₊✧
Semua kata selamat sudah berulang kali mereka berdua dengar. Dari keluarga hingga seluruh pelayan dan ksatria yang mereka jumpai. Sejak keluar dari kamar hingga di tempat mereka singgah sekarang. Aëron dan Aïres, dua tokoh yang tengah berulang tahun ke-9.
Si kembar cucu dari Raja Elves. Siapa yang tidak kenal mereka berdua. Kelahiran yang disambut penuh sukacita oleh seluruh rakyat Elves. Juga disambut antusias oleh kerajaan tetangga. Sang pemilik tanda gurin setelah sekian lama seperti yang tertulis dalam Ramalan Ellyore II & III yang turun bertahun-tahun lalu.
Ancaman dari para makhluk kegelapan masih membekas nyata dalam ingatan secara turun-temurun. Zaman kegelapan yang melanda dahulu masih membuat bulu kuduk berdiri ketika diceritakan lagi dan lagi. Entah kapan Ëlixatertä bisa bebas dari bayang-bayang makhluk kegelapan. Walaupun perbatasan wilayah mereka diberi pelindung sihir, terornya tetap tak henti datang silih berganti. Menghasut banyak makhluk sedikit demi sedikit setiap tahunnya, sehingga banyak korban berjatuhan. Mengenaskan.
Sudah lah, tidak ada habisnya membicarakan hal tersebut. Kita sudahi membahas makhluk kegelapan sampai sini.
Aëron dan Aïres duduk bersisian di bangku halaman belakang. Pandangan mereka tak lepas memperhatikan kesibukan luar biasa yang sedang berlangsung di depan mata. Para pelayan dan pekerja istana tampak lalu lalang dengan langkah terburu-buru, memastikan setiap detail untuk pesta besar malam ini tidak ada yang terlewat.
Sejauh mata memandang, persiapan tempat sudah mencapai titik sempurna. Sekitar sembilan puluh persen. Dekorasi mewah mulai menghiasi setiap sudut, menciptakan visual megah yang memang sengaja dipersiapkan oleh kakek mereka, Raja Hecxan, untuk menyambut para petinggi dari kerajaan tetangga serta keluarga besar kerajaan.
Keamanan pun tidak main-main. Seluruh pasukan ksatria telah dikerahkan dan disiagakan, baik di dalam lorong-lorong megah maupun di area luar istana yang luas, demi menjamin keselamatan seluruh tamu agung yang akan hadir.
"Sir Lius, apakah kau mau mengajari ku berpanah esok hari?" Aïres bersuara, pandangannya masih menatap halaman belakang yang ramai.
Basilius Daniro, lawan bicara Aïres ini pun hanya tersenyum tipis, diam sejenak sebelum angkat bicara. "Tentu, Putri. Saya sudah berjanji bahwa di umur 9 tahun Putri bisa belajar apapun tentang berpanah."
"Seharusnya sedari awal aku meminta untuk diajarkan, langsung kau ajarkan. Kenapa harus menunggu 9 tahun?" Bibir Aïres mengerucut, membuat pipi nya lebih menyembul.
"Aïres, memangnya kau tidak ingat bahwa Ibu dan Ayah lah yang menyuruh pengawal kita untuk tetap diam ketika kita minta di ajarkan berpanah dan sihir?" Aëron ikut bersuara menimpali obrolan saudara kembar dengan pengawalnya.
Mendengar itu semakin menjadi lah pipi gembul Aïres. Lius berusaha menahan senyumnya begitu melihat Aïres yang seakan-akan merajuk. Ditambah ia duduk di bangku yang agak tinggi membuat kakinya bergelayutan di udara.