⌗ 𝐁𝐨𝐨𝐤 𝐎𝐧𝐞
【𝔓𝔞𝔯𝔱 𝔬𝔣 Ë𝔩𝔦𝔵𝔞𝔱𝔢𝔯𝔱ä 𝔘𝔫𝔦𝔳𝔢𝔯𝔰𝔢】
(Sedang proses revisi)
┌───────── · · · · ♡
Mulanya, Aëron dan Aïres adalah si kembar yang kelahirannya sudah tertulis di ramalan Ellyore sebagai pemilik tanda gurin setelah se...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
✩₊˚.⋆☾ Happy Reading ☽⋆⁺₊✧
"Sir Lius!"
Laki-laki itu menoleh, menatap lawan bicaranya yang sedang berjalan kearahnya. "Ada apa, Elio?"
Elio justru menepis jarak di antara mereka. "Kau harus berjaga sekarang! Keadaan semakin tidak karuan!" bisik Elio.
Kening Lius berkerut dalam. "Maksudnya?"
Elio mencondongkan tubuhnya, suaranya nyaris hilang ditelan hiruk-pikuk musik pesta. "Dari tadi penyihir yang berjaga di luar istana terlihat panik. Mereka berlarian kesana kemari seperti sedang mengejar sesuatu yang janggal."
Lius terdiam, mencoba mencerna informasi itu, namun Elio belum selesai. "Apakah kau tidak merasakannya? Entah kenapa semakin lama istana ini semakin sesak dan panas," lanjutnya.
Lius mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. "Itu karena banyaknya tamu undangan, bukan?" Lius menyanggahnya.
Elio berdecak, frustasi. "Ah! Padahal kau ksatria, kenapa kau tidak peka dengan sekitar?"
"Ruangan ini sangatlah luas. Meski ada ratusan bangsawan yang hadir pun seharusnya tidak sampai terasa sesak seperti ini," lanjutnya.
Lius terdiam. Ia mencerna kembali apa yang dikatakan rekannya barusan. Setelah Elio menyinggungnya, ia juga baru menyadarinya. Ruang perjamuan ini berubah menjadi sangat tidak nyaman. Atmosfernya berbeda dengan awal perjamuan dimulai.
Benar kata Elio. Ada yang salah dengan istana ini.
"Ayo cepat! Kita tidak punya waktu untuk berdebat," ajak Elio sembari membetulkan posisi pedang di pinggangnya.
"Bukankah hal ini harus diberitahukan kepada Yang mulia Raja?" usul Lius, mulai cemas.
Elio menghela nafasnya kasar. "Sudah ada yang melakukannya. Tugas kita adalah berjaga, kau tahu itu?"
"Baiklah!"
Elio menepuk pundak Lius sebelum akhirnya ia melangkah lebih dulu mendahului Lius. Lius hanya bisa berdecak pelan, berusaha menepis rasa gelisah yang mulai merayap di benaknya sembari mengikuti langkah Elio.
"Astaga, Tuan Putri!" Langkah Lius tiba-tiba terhenti. Jantungnya seolah mencelos saat teringat pada Putri Aïres yang baru saja ia temui. Gadis kecil itu sedang berada di teras sendirian.
Lius berbalik arah tanpa memedulikan teriakan Elio. Ia mengejar keberadaan tuan Putri yang dilayaninya. Ucapan Elio tentang keganjilan di istana ini terus terngiang, membuat napasnya terasa memburu.
Namun, langkahnya perlahan melambat hingga benar-benar berhenti. Dari kejauhan, ia melihat seorang ksatria lain sudah lebih dulu menghampiri Aïres di teras. Lius masih menatap pintu menuju teras itu sejenak. Entah mengapa napasnya sedikit sesak dan dadanya dihantam rasa sakit yang belum pernah ia rasakan.