Di salah satu sudut sekolah, seorang lelaki termangu sambil memandangi lapangan basket sekolah yang sepi di depannya. Sinar matahari cukup terik siang ini, membuat lapangan basket yang biasanya ramai dengan siswa yang bermain basket itu kosong melompong.
Namun, seolah tidak takut kepanasan, lelaki berkulit sawo matang itu justru betah duduk di pinggiran lapangan. Wajah suntuknya makin mendung kala membaca balasan pesannya dari sang ibu. Pesan dua hari lalu yang baru dibalas siang ini.
Kemal :
Bun, aku bakal ikut seleksi kejurnas dua bulan lagi.
Bunda sama Baba bisa datang kan?
Bunda :
Bunda enggak janji ya Kemal
Bulan depan Bunda harus temenin Baba kamu buat tanda tangan MoU sama perusahaan di Makassar.
Tapi Bunda sama Baba pasti doain kamu.
Kemal menarik napasnya dalam-dalam. Pandangannya berpindah ke seragam hitam pencak silat di atas bangku beton di sampingnya. Sudah hampir delapan tahun dia jatuh cinta dengan pencak silat. Kakeknya lah yang mengenalkan dia dengan dunia pencak silat. Dunia yang sekarang membuat Kemal tahu tujuan hidupnya.
Sementara orang tuanya, semenjak Kemal kecil mereka justru sibuk selalu sibuk ke sana dan ke mari mengurus bisnis mereka. Belakangan, Kemal bahkan lupa rasanya memiliki orang tua.
Suara panggilan telepon dari Norman, teman satu tongkrongannya menyadarkan Kemal. Segera, dia angkat panggilan itu.
"Kenapa?" tanya lelaki beralis lebat itu. "Iya gue udah di luar kelas kok. Oke gue ke sana."
Kemal menutup telepon miliknya dan menarik napas dalam-dalam, enggan menikmati emosinya berlarut-larut. Apalagi Norman dan yang lain pasti sudah menunggunya di kantin sekolah untuk makan siang.
Setiba di kantin, bola mata Kemal langsung mengamati satu per satu meja di sana untuk mencari gerombolan teman-temannya. Suara riuh rendah yang memanggil namanya dari salah satu meja menyedot perhatian Kemal. Segera, Kemal memberitahukan mereka bila dia ingin memesan siomay terlebih dahulu.
Kantin berukuran luas dan memanjang itu memang terdiri dari beberapa stand makanan. Dari mulai ketoprak yang level pedasnya bisa request sesuka hati, mie ayam, bakso urat, warung makanan ringan sampai siomay ada di sini.
Namun, dari semua makanan, siomay lah yang menjadi favorit Kemal. Sebab bagi Kemal hanya siomay Mpok Nia yang ikan tenggirinya tidak kaleng-kaleng dan Mpok Nia yang tingkat keramahan dan konyolnya bak pemain srimulat.
"Mpok Nia!" teriak Kemal sambil melongokan kepalanya, sengaja membuat wanita berumur itu kaget karena ulahnya.
"Ayam-ayam-ayam," seru Mpok Nia latah.
Kemal terkekeh.
"Lu ngagetin orang aja. Mau pesan apa?"
"Ceilah, Mpok. Gitu aja ngambek. Cepet tua loh entar," goda Kemal.
Mpok Nia mencibir. "Gombalan lu kagak mempan sama gue. Udah anyep. Pesan apa? Yang kayak biasa?"
Kemal mengangguk. Logat Betawi Mpok Nia yang kental membuat Kemal teringat lingkungan di rumah kakeknya. "Satu porsi aja. Banyakin kol dan siomaynya tiga. Sama minta sambal pedasnya dua sendok ya Mpok."
"Tumben pesan satu porsi? Biasanya dua," goda Mpok Nia melirik Kemal iseng. "Yang kemarin ke mana?"
"Ditikung orang Mpok," jawab Kemal asal.

KAMU SEDANG MEMBACA
[KARYAKARSA] Ladinda dan Rumah Kata-Kata
Fiksi RemajaSpin off dari cerita "LADINDA DAN LELAKI PATAH HATI" . . "Mau taruhan? Hari ini kita mungkin merasa muak sama hidup. Capek, mau marah, atau mungkin nyerah kayak yang dibilang Ladin. Gimana kalau sepuluh tahun lagi? Kita enggak pernah tahu kan gimana...