⚠️"Balaaa... beliin Salju laistik!" Salju mem-pout-kan bibir kecilnya sambil berkacak pinggang. Wanita mungil itu bediri di depan suaminya yang baru saja keluar kamar mandi dengan hanya handuk yang menutupi tubuh bagian bawahnya.
"Kesambet apa dah pagi-pagi minta laistik? Apaan tuh laistik? Stik kentang maksud lo?" Bingung Bara. Ini masalahnya Salju baru bangun tidur dan langsung meminta hal yang aneh-aneh. Ia takut jika istrinya itu tengah mengidam.
Salju menggaruk kepalanya sedangkan Bara melepas handuknya untuk mengeringkan rambutnya yang basah. Iya, dia memang habis keramas.
Bara telanjang? Tentu. Dia tak peduli. Toh telanjang depan istri. Jika istrinya terangsang ya Bara juga yang untung.
"Ihh laistik itu loh yang buat nonton konsel. Masa ngga tau? Ih Bala mah gob-"
"Iya lanjutin ngatain gue. Biar gue gempur lagi lo sampe lumpuh," kata Bara. Bara memang orangnya random. Kadang aku-kamu, kadang lo-gue. Pokoknya sesuka mulutnya sajalah.
"Mesum telus!" Salju mendengus sebal. Iya dia sudah paham dengan maksud Bara itu karena Bara seringkali mengucapkan dan melakukannya.
"Namanya juga laki-laki normal."
Tak menggubris ucapan Bara, Salju kembali merengek meminta apa yang sedang ia inginkan. "Beliin laistik!"
"Ck apaansih?" Bara mengeringkan rambutnya sendiri brutal. Ia melempar handuknya yang sedikit basah ke atas kasur lalu menghadap Salju masih dalam keadaan 'bare'.
"Beliin ih!"
"Biasanya beli apa-apa sendiri di online shop. Udah sana beli sendiri lagian gue ngga tau laistik-laistik apaan."
Salju menggaruk pelipisnya. Benar juga kata Bara. Kenapa ia harus repot-repot meminta Bara ya? Padahal akun belanja online-nya selalu Bara isi dengan saldo yang cukup banyak. Jadi, Salju tinggal memesan apa yang ia mau.
Gara-gara Irene sih.
"Hehe." Salju nyengir. "Ih kok Bala ngga pake baju?" Salju baru sadar. Ia melirik tubuh Bara dari atas sampai bawah. Ia malu sendiri melihat adik Bara yang masih tidur.
"Gimana gue mau make baju, lo-nya ngoceh terus." Setelah itu Bara mengobrak-abrik isi lemarinya guna mencari pakaian. Hari ini ia ada kelas.
"Ngapain berdiri disitu? Sana mandi! Kelamaan gue tinggal," ucap Bara ketika melihat istrinya masih berdiam diri di sampingnya seperti pengemis yang menanti diberi uang.
***
Bara mengemudi mobilnya dengan santai, sedangkan sang istri yang duduk di sebelahnya tengah mengotak-atik ponselnya. Kata wanita itu ingin membeli lighstick.
Bara jadi bingung. Padahal, setaunya dulu selama pacaran Salju tidak pernah segila ini dengan 'k-pop'. Tapi kenapa setelah menikah malah jadi begini?
Kesal? Tentu saja. Pasti nanti waktunya bermesraan dengan sang istri akan berkurang karena wanita itu asyik dengan hiburannya sendiri.
Ah, ini semua gara-gara Irene.
"Awas ya kalo kedepannya kamu sampe lupa sama suami sendiri gara-gara oppa-oppamu itu. Jujur aja, aku ngga suka kamu kayak gitu."
"Lebay deh. Salju gini juga kan buat hibulan tau! Bala jalang ada waktu buat Salju. Sekalinya ada waktu bikin aku capek."
"Kamu kan tau. Aku sibuk. Tugas banyak, belom lagi harus ngurusin kerja. Aku kalo ngga kerja mau nafkahin kamu pake apa?"
Salju cemberut. Ia jadi serba salah. Jika dipikir-pikir, Bara itu kasihan sekali. Harusnya sebagai istri, Salju melayani suaminya ketika kelelahan. Bukan malah meminta aneh-aneh seperti tadi pagi.

KAMU SEDANG MEMBACA
My Lisp Wife ( On Going )
RomanceSequel My Lisp Girlfriend yang belum baca cerita sebelumnya disarankan baca terlebih dahulu supaya ngga bingung. "Kamu tetap menjadi gadis kecilku yang menggemaskan." WARNING!!! CERITA INI MENGANDUNG ADEGAN DEWASA YANG DIBAWAH UMUR MOHON LEBIH BIJAK...