34 👑

2.2K 240 8
                                        

Sebulan berlalu Taehyung masih teguh pada pendiriannya begitu pula dengan Jungkook, sementara pihak yang diuntungkan jisoo selama sebulan ini kembali mencoba merayu Jungkook dengan segala tipu muslihat.

"yang mulia hamba bawakan teh krisan ini untuk yang mulia, hamba dengar yang mulia sulit tidur akhir-akhir ini" jisoo tersenyum duduk dihadapan Jungkook dengan sepasang cangkir berisi teh krisan yang dibawanya.

"terima kasih tapi aku sedang tidak ingin minum teh, aku hanya butuh waktu untuk sendiri" jelas Jungkook dengan wajah lesu.

Jisoo merasa terhina, senyuman manis itu tiba-tiba menghilang.

"yang mulia, anda tidak bisa terus seperti ini anda sudah tidak tidur selama tiga hari anda bisa sakit" ujar jisoo sendikit menegas.

"kubilang pergi, pergi sebelum aku benar-benar marah" Jungkook menyuruh jisoo pergi, jisoo yang merasa sakit hati lalu pergi meninggalkan Jungkook dengan keangkuhannya.

Sementara itu disisi lain Taehyung justru menikmati waktunya bersama tae-il, nyonya kim dan namjoon. Namun terkadang Taehyung juga merindukan kehadiran Jungkook dan terkadang ia berpikir apakah ia terlalu keras pada Jungkook tentang keinginannya menjadi ratu chosun?

Entahlah yang pasti Taehyung mulai luluh pada pria itu, memang pada awalnya Taehyung tidak begitu tertarik dengan hubungan dan semata-mata hanya ingin mempunyai kekuasaan namun pada akhirnya ia tau bahwa Jungkook lebih penting dari itu. Maka dari itu ia berniat baik ingin menemui Jungkook ke istana namun namjoon dan nyonya kim mencegahnya mereka bilang bahwa ia tidak akan bisa mencapai tujuannya jika ia mengikuti kata hatinya. Mungkin yang dikatakan mereka ada benarnya Taehyung akhirnya mengurungkan niatnya untuk pergi.

Bulan menggantikan peran matahari untuk menghiasi langit, namun Jungkook masih setia duduk diperpustakaan istana dengan setumpuk kertas yang harus ia baca, wajahnya memucat karena selama tiga hari ia tidak bisa tidur, terlihat lingkaran hitam dan kantung mata disekitar matanya. Selama sebulan ini tak ada lagi gairah bahkan untuk sekedar jalan-jalan ataupun menunggang kuda, sebulan ini ia gunakan hanya untuk mengurung diri dengan dokumen istana.

"yang mulia hamba bawakan anda camilan" jimin membawa sebuah nampan berisi camilan malam.

"taruh saja disana" suruh Jungkook.

Jimin menatap dua nampan berisi makan siang dan makan malam yang mulia raja yang bahkan tak disentuh sama sekali tergeletak diatas meja.

"yang mulia tidakkah anda menyiksa diri anda sendiri?" tanya jimin kemudian meletakkan nampan yang ia bawa ke atas meja bersama nampan yang lain.

"aku pantas mendapatkannya, sekarang apa ada dokument lain yang harus aku baca? Bawa saja kemari" ujar Jungkook.

"tapi yang mulia...anda sudah membaca setumpuk dokument yang harusnya anda selesaikan untuk beberapa hari" jelas jimin.

"itu bagus bukan? Aku menyelesaikannya dengan cepat" Jungkook tersenyum tipis.

Tiba-tiba setetes darah mengalir dari hidung Jungkook menodai sebuah dokument.

Jungkook terkejut begitu pula dengan jimin.

"omo, yang mulia..." jimin hendak menyeka darah yang keluar namun Jungkook mencegahnya, pria itu mengusap darahnya dengan hanbok miliknya.

"gwenchana, gwenchanayeo" Jungkook masih bisa tersenyum dengan darah yang mengalir dari hidungnya.

"yang mulia..."jimin menatap penuh iba.

"aku hanya butuh istirahat sebentar" Jungkook bangkit dari kursinya dan hampir terjatuh ke lantai jika saja jimin tak menangkapnya.

"yang mulia...yang mulia! " panggil jimin begitu ia melihat Jungkook tak sadarkan diri.

❇❇❇

Jungkook terbaring lemah diatas ranjangnya ia masih belum sadar sejak dua jam yang lalu. Taehyung menggengam tangan Jungkook erat, bukan ini yang Taehyung inginkan, pria manis itu mengecup dan menggenggam tangan Jungkook erat.

Begitu mendengar Jungkook tak sadarkan diri Taehyung lekas bergegas menuju istana dengan kudanya tak perduli meski ia harus menunggang kuda ditengah malam yang sunyi dan gelap ia hanya ingin berada disamping Jungkook disaat seperti ini.

"yang mulia raja tidak tidur selama tiga hari, ia bahkan hanya makan sehari sekali selama berhari-hari aku harap anda bisa memaafkan apapun yang dia lakukan pada anda yang mulia" jelas jimin.

"benarkah...? Pantas saja dia terlihat sedikit lebih kurus, maafkan hamba yang mulia" Taehyung menitihkan air mata penyesalan.

Setelah memberitahu apa yang terjadi jimin berjalan pergi menunggu diluar kamar membiarkan Taehyung menemani Jungkook.

Taehyung menunggu begitu lama sampai-sampai ia tertidur disamping Jungkook sembari mendekapnya.

Beberapa menit kemudian saat Taehyung tengah terlelap tidur tiba-tiba kelopak mata Jungkook terbuka, hal pertama yang ia rasakan adalah tubuhnya sedikit terasa berat karena lengan Taehyung menindih dadanya.

"tae..." panggil Jungkook lirih.

"eungg.... yang mulia?" Taehyung menyergap kaget.

"ku kira kau tidak akan datang" ujar Jungkook lirih.

"hamba mencemaskan yang mulia" Taehyung menunduk menyesal.

"aku baik-baik saja" Jungkook tersenyum tipis.

"apanya yang baik-baik saja hiks...hiks..." Taehyung menitihkan air mata.

Jungkook mengelus kepala Taehyung lembut, Taehyung tersenyum manis sembari mengusap air matanya berbaring disamping Jungkook dengan nyaman, Taehyung menempatkan wajahnya ke curuk leher Jungkook menghirup aroma maskulin dari pria itu membuat Taehyung merasa nyaman. Tinggal bersama Jungkook membuat Taehyung merasa aman dan nyaman ia tak perlu lagi harus waspada seperti sebelumnya saat ia tinggal sendiri ataupun bersama nyonya kim.




❇❇❇




"tae..." Jungkook menatap Taehyung yang sedang menyuapinya.

"ya yang mulia?" Taehyung menatap onix Jungkook penuh tanya.

Taehyung berhenti menyuapi Jungkook sesaat. Jantung Jungkook berdebar menatap bibir Taehyung yang kemerahan dan berkilau.

Jungkook menarik belakang kepala Taehyung padanya hingga jarak bibir mereka begitu dekat. Jungkook kembali menatap bibir Taehyung yang terbuka dan terkatup bingung sebelum akhirnya ia memberanikan diri memangut bibir kenyal nan lembut itu.

Taehyung meletakkan mangkok yang ia pegang ke atas meja sebelum memasrahkan diri menikmati ciuman Jungkook yang begitu lembut. Lidah Jungkook menyelusup masuk mengoral rongga mulut Taehyung yang terbuka menciptakan benang-benang salivah yang kental.

Bunyi kecipak menggema didalam kamar sang raja chosun setelah puas bermain dengan bibir Taehyung kini sang raja beralih ke telinga Taehyung, pria perkasa itu menggigit telinga Taehyung hingga memerah, bulu kudup Taehyung meremang merasakan sensasi aneh pada dirinya. Taehyung meleguh saat lidah Jungkook bergerak dari telinga hingga ke tulang selangkanya. Tubuh Taehyung bergetar saat jemari Jungkook membuka hanboknya.

"eungg...yang mulia..." dada Taehyung naik turun saat jemari  Jungkook memainkan areolanya.

Jungkook tersenyum lalu menyudutkan Taehyung untuk berbaring, Taehyung menurut tanpa ragu, pria manis itu menatap Jungkook lekat.

"bolehkah?" tanya Jungkook.

Taehyung mengangguk mengiyakan, jemari lentik Taehyung bergerak meraih wajah tampan Jungkook mendekat. Seulas senyum tercipta dibibir yang masih memucat, setelah mendapat izin Jungkook bergerak memeluk Taehyung yang berbaring dibawahnya dengan pasrah.















To be continued...

PLAYING THE CROWNTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang