05 || ᴮᴬᴮᴬᴷ ᴷᴱᴸᴵᴹᴬ

104 28 6
                                        

oleh G i l a n g

Coba sebut satu hal yang dapat membuat hidup Gilang bersemangat hingga hari ini

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Coba sebut satu hal yang dapat membuat hidup Gilang bersemangat hingga hari ini. Kalau jawabannya sebongkah rasa senang, ia akan mengenyahkannya dengan segera. Sebaliknya, lelaki seperempat abad tersebut lebih senang menggunakan pemikiran-pemikiran buruk serta negatif untuk menggembleng diri sendiri.

Kegagalan masa lalunya sebagai mahasiswa yang bergerak di bidang IT malah membuat jiwa terdalam miliknya berkobar. Ditolak perusahaan besar, Tetha Group, tak serta-merta menjadikan Gilang patah arang. Kembali bangkit setelah menampung amarah, tangis, dan gengsi hingga penuh, ia menggandeng beberapa teman lama masa kuliahnya demi membangun perusahaan kecil untuk dirintis.

Setengah jalan telah dilalui, Omega Technology Company, berhasil berdiri dengan entri pekerja lebih dari 100 orang. Tak berhenti sampai di situ, Gilang dkk kembali merekrut pekerja baru untuk bulan depan mendatang.

Saat ini, ditemani makanan ringan serta minuman, meja besar berbentuk oval itu dikelilingi oleh beberapa rekan kerja Gilang. Perusahaan Omega tidak pernah mengharuskan seluruh karyawannya untuk memakai pakaian serba rapi. Tidak, tidak sama sekali. Jadilah di sini, di setiap harinya dapat ditemui mode-mode pakaian kekinian berseliweran dikenakan. Katanya, bekerja dengan pakaian santai meningkatkan fokus lebih baik dibandingkan dengan seragam formal. Iya, begitulah kata Gilang.

Layar ponselnya benderang. Satu pesan atas nama Farhan mampu membuat matanya lebih membelalak terkejut. Ia bergegas, berdiri dan menyabet tas kecil beserta barang bawaannya.

"Gue pamit dulu ya, guys!" ucap Gilang sambil menepuk pundak perempuan di sampingnya, Anneliese. Kontan ia mengangguk namun sedetik kemudian menahan lengan Gilang.

"Ke mana?"

Gilang menatap seluruh rekan kerjanya secara bergantian, wajahnya begitu panik. "Adek gue masuk rumah sakit."

Anneliese tampak ikut terkejut. "Siapa—"

"Ntar gue kabarin lagi, Ann! Gue buru-buru! See ya!"

Perempuan itu mengangguk pasrah kala melihat Gilang sudah menghilang dari pandangannya. "I-iya, oke."

***

Setelah mengunci mobil, ia berlari cepat ke arah pintu kaca rumah sakit yang ia kunjungi. Hampir saja ia bertabrakan dengan wanita berambut pirang di ambang pintu yang sibuk menenteng sekantong boks kue berkemasan pastel di tangan. Setelah adegan minta maaf atas keteledoran, Gilang kembali melanjutkan perjalanannya menuju lift.

Kebetulan pun memihaknya, ia bertemu Ricky di dalam lift.

"Lo dapet kabar dari Shandy juga, Lang?" Begitu masuk, Gilang disambut pertanyaan oleh lelaki penyiar radio tersebut.

Samar, Gilang menggeleng lalu memasukkan ponselnya ke saku. "Enggak. Farhan yang kabarin gue barusan."

Ricky hanya mengangguk begitu mendengar nama tersebut. Bukannya apa-apa, kecanggungan beberapa jam lalu masih saja ia rasakan hingga saat ini. Terlebih nanti, ia harus satu ruangan dengan lelaki yang belum lama ini membuat perasaan getir di hatinya kian mengeruh.

Jerat-Jerat yang Tersuar Belum Tentu TersiarCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang