Maaf untuk salah pengetikan!
.
Sohyun berjalan dengan tanda tanya besar dikepalanya. Gang ini, mengapa Baekhyun ingin ia menemuinya di gang ini. Gang sempit, awal mereka bertemu.
Petang ini cukup gelap, mungkin karena mendung. Sohyun merapatkan jaketnya, cukup dingin. Lama ia menunggu Baekhyun tapi yang ditunggu tak kunjung datang.
Dari belakang, Sohyun mendengar suara langkah kaki. Ia menoleh mendapatkan seorang dengan pakaian serba hitam.
Panik, Sohyun jelas panik. Ia tak ada persiapan apa pun jika orang dihadapannya ini bertindak jahat. Mencoba untuk berpikir positif bahwa yang dihadapannya sekarang adalah Baekhyun. Ya, Baekhyun hanya ingin main-main, pikir Sohyun.
"Berhenti bermain-main dan katakan apa mau mu memintaku untuk datang."
Tak ada jawaban, pria itu tetap diam dalam posisinya.
"Bicaralah, kau membuatku takut. Akan ku hajar kau setelah ini. Menghilang dua minggu lalu meminta untuk datang di gang sempit ini kembali. Kau tau aku merayakan seratus hari kita sendirian-"
Srekkk
Pria itu memeluk tubuh Sohyun. Menutup mulutnya dengan selembar kain dan perlahan tubuh Sohyun mulai terkulai lemas.
"Mulutmu yang berisik. Tak akan lagi aku membantunya."
_____
Pening.
Yang dirasakan Sohyun saat pertama membuka matanya. Ia didudukkan di kursi dengan kaki yang terikat, tapi tangannya tidak.
"Orang bodoh yang menculikku. Kakiku diikat tapi tanganku tidak." Gumamnya.
Tangannya merogoh saku jaket guna mengambil suatu benda dari sana. Gelang dengan pisau kecil yang tergantung sebagai bandulnya.
Segera ia melepas simpulan tali yang mengikat kakinya. Sial, ini sangat erat.
Setelah berhasil melepas simpulannya, pria dengan baju hitam yang sama seperti sebelumnya masuk ke ruangan yang sama dengannya.
"Ini bukan Baekhyun. Sial, rencana apa ini?" Teriaknya dalam hati.
"Apa mau mu?" Tanya Sohyun kelewat santai.
"Niatku baik untuk melepaskan simpulan yang ada di kakimu. Oh, hanya kakimu yang terikat? Tanganmu tidak. Dasar, orang bodoh yang menculikmu."
"Dan orang bodoh itu adalah dirimu!"
"Santai Nona, kita tidak saling kenal tapi kau suka sekali mengataiku."
Akhirnya pria itu mengeluarkan suaranya. Agak parau dan terdengar tidak jelas, apa mungkin karena menggunakan topeng?
Pisau seukuran dengan pisau daging diletakkan pelan di lantai tidak jauh dari tempat Sohyun berdiri. Dahinya berkerut, bingung dengan pria dihadapannya ini.
"Orang suruhan Baekhyun? Katakan apa mau mu!"
Kekehan kecil keluar dari mulut sang pria. Lantas ia mendorong tubuh Sohyun dengan kasar sehingga tubuh sang wanita limbung jatuh terduduk kembali dikursi.
Tubuh sang pria menunduk menjajarkan wajahnya yang tertutup topeng dengan wajah indah si wanita.
"Tidur denganku malam ini."
"Brengsek!"
Sohyun menepis tangan si pria lantas meludah karena bibirnya yang baru diusap.
"Wow, santai. Hanya menghabiskan satu malam dengan kau mendesah pasrah dibawahku."
"Kau, lebih biadab dari pada iblis!"
Ddakk!!
Selakanganan pria itu Sohyun tendang hingga sang empunya mundur beberapa langkah dan menabrak tembok. Terdengar ringisan ngilu akibat tendangan di selangkangannya.
Ditengah situasi ini, Sohyun mengambil pisau yang dibawa pria itu tadi. Tanpa pikir panjang ia menusukkan pisaunya di bagian perut pria. Menembus ke lengan si pria karena masih memegangi selangkangannya.
"Satu saja tak cukup untukku."
Tiga kali, empat, dan pada tusukan ketujuh belas Sohyun mulai berhenti.
Tangannya melepaskan pisau yang berlumurkan cairan merah pekat. Tubuh pria itu terkulai tak bergerak bermandikan darah.
"Tuhan, apa ini!"
Dirinya terduduk di depan mayat pria tadi. Tangannya menyeka wajahnya, tertawa dengan hasil perbuatannya sebelumnya.
Topeng pria itu. Sohyun belum membukanya.
Ia arahkan tangannya untuk membuka topeng si pria. Membukanya dengan kasar, toh ia juga tidak akan merasakan sakit, pikirnya.
"Hah!"
Bersambung
Kurang satu chapter!!!!
KAMU SEDANG MEMBACA
My Psychopath | END✔
FanfictionKetika anak remaja disibukkan dengan sekolah, pr yang menumpuk, percintaan remaja, dan lain sebagaiannya. Berbeda dengan masa remajaku yang kelam dan penuh dengan problematika dari orang orang yang haus akan harta di lingkup hidupku. Seolah membiar...
