Chapter IV

152 11 0
                                        

Di rumah mirip villa di pinggir kota menghadap gunung, dari luar bangunan tersebut berbentuk kotak hitam kebanyakan kaca. Tanpa garasi, hanya disediakan ceruk muat dua mobil di bagian kiri dan kanan. Di Seberang rumah itu ada pondok tempat peristirahatan didirikan di tengah taman. Di sanalah Lala menunggu tuan rumahnya bangkit dari liang kubur setelah hampir empat belas jam tidur sejak kedatangan mereka. Duduk santai di ayunan mengisi rongga paru paru dengan udara segar bebas polusi. Bersenandung bersama kicau burung mengambil potret menggunakan kamera polaroid. Membayangkan Mosca memegang gepokan uang yang dibuang seperti shuriken. Lala mengibas hasil potretnya hingga gambar mulai terlihat jelas, mencocokkan pakaian Mosca yang biasa saja bukan berasal dari merk terkenal begitu pula alat tata rias dan aksesoris kecuali produk berlogo apel di gigit, yang itu pun bukan kategori barang mewah. Prinsip minimalis? Lala lebih penasaran kemana perginya semua uang yang dihasilkan wanita itu. Selama dirinya berkeliaran di dalam sana belum ada tanda tanda barang pribadi yang menunjukkan sisi manusia wanita itu. Padahal, biasanya dari rumahlah bisa dilihat gambaran seseorang secara keseluruhan. Yang ini? Lala cuma bisa bilang kosong. Ia sendiri merasa tinggal di contoh hunian ketimbang hunian betulan.

Merasa mulai panas diputuskannya kembali kedalam, disambut oleh lorong muat dua orang, melebar dengan tangga hitam menggantung bermodal besi dari langit langit di sebelah kiri. Dibawah tangga tersebut adalah toilet dengan wastafel di taruh di luar berseberangan dengan pintu toilet. Lorong itu diapit oleh dua halaman luar, yang kiri ditumbuhi tanaman dan yang kanan memiliki kolam renang. Keduanya memiliki satu set kursi dan meja taman di sampingnya. Lala menelusuri lebih dalam tiba pada ruangan tak bersekat gabungan dari dapur di sebelah kiri dan ruang keluarga di sebelah kanan. Yang menjadi penyekat kedua fungsi tersebut hanyalah meja makan muat enam orang di tengah. Memadukan warna putih, turunan cokelat, didominasi warna hitam terutama di bagian dapur hingga meja makan. Menghasilkan nuansa pondok versi modern. Kalau boleh jujur sesering seringnya Lala pergi ke berbagai macam tempat, sesering seringnya ia menjajal berbagai kemewahan, ia masih belum terbiasa dengan yang satu ini. Melihat pegunungan di seberang sana tanpa gangguan dari teras dibalik kaca besar ruangan tersebut, tempat ini terlalu besar untuk dijadikan tempat hunian.

Lala mengambil segelas air mineral dingin naik ke lantai dua yang mengantarkannya ke zaman klasik. Dinding putih berpanel dengan pintu ganda hitam juga berpanel, tanpa sentuhan banyak hiasan dinding ruangan itu sudah asri sendirinya. Tiba tiba sosok Mosca keluar dari balik pintu ganda sebelah kiri yang terletak didalam kamar utama. Masih setengah sadar mengusap kepala mengeringkan rambut tak menghiraukan keberadaan Lala yang kini sudah melewati ambang pintu menoleh mengagumi ruangan bernuansa serba glamor berbahan marble hitam dan putih bersemburat kuning. Tak bisa dipungkiri, dagu Lala nyaris menyentuh lantai membayangkan Mosca membuang tinja sambil melihat gunung. Atau berendam sambil melihat gunung. Atau cuci tangan sambil melihat gunung. Yang tidak mungkin adalah mandi dibawah pancuran sambil melihat gunung karena tempat tersebut di selipkan di tempat tertutup sebelah kiri terjepit tembok berbahan batu alami. Yup! Masih belum terbiasa. Kali ini Lala membayangkan Mosca bangun tanpa busana menatap pegunungan. Bekerja dibalik meja di seberang ranjang yang diatur miring, cukup menoleh ke kanan pemandangan pegunungan sudah terlihat. Dan bayangannya menjadi kenyataan, Mosca menunjukkan lekuk tubuhnya membuka jubah kimono di depan Lala. Menaruh potongan kain lembab tersebut diatas ranjang minta di komplain. Tapi Lala tidak melakukannya melainkan mengobservasi lebih dalam. Mengamati dari pundak setengah kering masih ada tetes air menempel, turun ke tahi lalat pada pinggul, ia mendekat menempelkan gelasnya ke titik hitam mungil disana. Memberikan sengatan kecil pada otot otot tubuh bagian atas Mosca yang sedikit mengencang wanita itu menoleh melayangkan tatapan mengejek.

"Jangan bilang kau punya sisi yang tidak biasa."

"Entahlah, kau duluan yang telanjang di depanku."

Kiranya Mosca akan memasang wajah absurd, nyatanya wanita itu malah berbalik mencelupkan jari telunjuknya ke dalam gelas. Menjilat menggoda lalu tertawa mengejek Lala yang bangkar. "Sepertinya kau masih perlu belajar memenangkan pertempuran yang kau mulai. Kemana Lala yang liar yang pernah ku temui?" Mosca berbalik, masuk ke balik pintu ganda seberang toilet tempat pakaian disimpan. Diikuti Lala yang berusaha membalas ejekan tersebut namun akhirnya menyerah.

Adorable Bottom CEO [Mature]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang