Chapter VIII

104 5 0
                                        

Berkacamata tebal setebal bingkainya. Gigi di rantai. Sepuhan seadanya. Pakaian kolot era sembilan puluhan tetap berjaya. Rambut lurus panjang di capit dari belakang menahan rambut samping menyisakan poni bergelombang se atas alis. Sekretaris Jang sungguh merebakkan ingatan akan film telenovela asal Kolombia jaman itu. Ditambah setelan kerja terlalu formal yang mencolok diantara karyawan lain... Mosca lebih penasaran apakah Beatriz Aurora Pinzón dari timur ini sama terbully seperti serial drama karya Fernando Gaitán itu.

"CEO, senang bisa bertemu langsung dengan Anda." Separuh membungkuk.

Haruskah ditanya? Apa sebaiknya diabaikan saja? Kalau dilihat dari tingkat elastis kulitnya sudah sepantaran dengan dirinya? Benarkan wanita ini tidak di bully? "Pak direktur bilang ruangan ku dipindahkan, tunjukkan tempatnya."

"Ah! Ya!" Sekretaris Jang merentangkan sebelah tangan memandu. "Konon rencananya tim Anda akan dipindahkan kemari semua."

"Alasannya?"

"Pak direktur tidak bilang apa apa. Kabar baiknya tim kita di jadikan satu ruangan."

Ruangan baru Mosca terletak di lantai paling atas. Masih sama menghadap taman cuma lebih banyak kaca sebagai penyekat setiap fungsi ruangan. Tidak buruk... cahaya yang masuk memantul memberikan penerangan tambahan barang tidak dibantu cahaya buatan. Dibantu meja meja membentuk segi delapan berwarna putih beserta kursi kursi yang juga berwarna putih. Khusus untuk ruangannya meja persegi panjang berlaci. Tetap Mosca masih belum teryakinkan untuk selalu bekerja dari kantor.

Anggota tim Mosca menyapa ada yang melambaikan kedua tangan senang setelah sekian lama tidak terlihat. Artinya, ada sebagian laporan yang belum diterima. Tentu saja sekarang ia tidak sendirian. Ada Betty dari timur yang membantu. Mosca mengerahkan seisi ruangan berkumpul di ruangan ber papan tulis putih. Menjalankan tugasnya lalu pergi masih di kintil. Well, di kintil 1 orang masih oke. Di kintil dua orang... terasa berlebihan. Pamannya yang direktur saja tidak ada yang mengintili! "Bet, maksudku sekretaris Jang. Gantikan aku di pertemuan nanti, tidak terlalu penting jadi bisa sambilan yang lain."

"Emmm aku tidak menyarankan. Ada kepala bagian..." Sekretaris Jang menyebutkan siapa saja yang mengharapkan kehadirannya. Kumpulan orang orang membosankan tentunya bila di nilai dari respon atasannya. Tapi namanya tugas, ia tetap membeberkan pro dan kontra atas pilihan tersebut. "Jadi..."

"Kopi?" Sela Mosca sembari membalik tubuhnya menghadap sekretaris Jang. Memasang wajah serius jelas tak ingin mendengar lebih lanjut.

"... boleh."

Dari kejauhan Lala yang tengah mendinginkan kepala cemburu melihat Mosca berdiri akrab berbincang dengan orang yang tak pernah disinggung sebelumnya. Menunggu Hwan membeli kopi lalu memberikan satu gelas kepada wanita asing tersebut. Sangat tidak Mosca, menggunakan kalimat yang muncul di dalam kepalanya tersebut Lala menghampiri ketiga orang itu. Sudah di sapa duluan padahal masih dua langkah besar yang harus ia arungi. Binar di mata Mosca terang menyodorkan segelas teh khas thailand dingin kepadanya seakan memang sudah menyiapkan pembasah kerongkongan tersebut sejak awal. Berikutnya tas kertas berisi pakaian ganti, rasa cemburu Lala langsung sirnah begitu saja tanpa jejak. "Siapa dia?"

"Sekretaris Jang. Kedepannya kau akan sering melihat dia menemani Hwan ngintil."

Wow itu bukan kabar baik...

"Kalau aku di kantor."

Sekarang tidak buruk buruk amat. Lala membalas bungkukan sekedar formalitas belaka. Tiba tiba melingkari pinggang Mosca menandai teritorinya menarik wanita itu menjauh. "Mau ikut ke studio dengan ku?" Kontras dengan nada suaranya yang lembut, lirikan Lala memancarkan ancaman mengejutkan sekretaris Jang. Mosca yang tidak memperhatikan langsung jalan minta di pandu, Lala menaruh tangannya ke pundak Mosca. Berpaling dari sekretaris Jang yang masih terkejut meninggalkan tempat. Kebetulan bertemu dengan pembawa pesan dari produser saat tiba di lorong penuh pintu berbaris tempat studio studio di siapkan. Lagu pertama Lala gagal menjadi lagu utama. Butuh yang lebih narsis katanya. Atau Lala disarankan memilih lagu lagu buatan produser saja. Dan kecewa yang terpampang jelas hilang ketika pintu berbunyi tanda telah tertutup rapat. Dengan santai Mosca menunggu penjelasan tanpa bertanya. Memberi ganjalan dalam benak Lala akhirnya ia jujur membuka rahasia. Mengira Mosca akan menertawai kekonyolannya, nyatanya wanita itu antusias mengucapkan selamat bahkan bersedia membantu. Mengernyitkan dahinya yang bertanya tanya lebih kepada pekerjaan wanita itu. Maklum saja, workaholic tetaplah workaholic sekalipun pipi Mosca sekarang sudah mulai menggembung. Namun kernyitannya sekarang terjawab menggugah hatinya yang kini berbunga bunga. Meluangkan waktu bukanlah hal mudah, ia akan menganggap ini sebagai tanda keseriusan Mosca. "Kau mencintaiku?" Pertanyaan yang mengusir Hwan meninggalkan mereka berdua sendirian.

Adorable Bottom CEO [Mature]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang