.
.
.
7 Tahun yang lalu.
Sunoo meremat jemarinya keras-keras.
Dihadapannya, supir truk yang menabrak mobilnya saat ini hanya menunduk dan terisak.
Seorang pria pertengahan 20akhir. Masih sangat muda.
Keadaanya tidak bisa dkatakan baik-baik saja.
Luka di wajah dan beberapa memar di tangan -yang juga pasti ada diseluruh tubuh- juga perban di kepalanya, sisa luka kecelakaan 4hari lalu.
Sudah sejak 10menit mereka terdiam di ruang kunjung tahanan.
Sunoo tidak ingin memulai pembicaraan, ia hanya menunggu, setidaknya bukankah supir ini harus meminta maaf padanya?.
Sejak semalam ia sampai dari Busan, ia bersikeras untuk menemui supir itu, tapi Nyonya dan Tuan Park menahannya. Ia ingin memastikan apa maksud dari kemungkinan kecelakaannya disengaja?
Mereka tau Sunoo pasti masih syok dan takut tidak bisa mengendalikan dirinya ketika bertemu.
Hingga pagi ini ia pergi bersama Tuan Park yang menunggu di luar. Baginya, ia tidak mau berurusan dengan pembunuh anaknya,.ia tidak peduli alasan apa dibalik tindakannya itu, yang ia inginkan supir itu dihukum atas perbuatannya.
Tapi Sunoo, ia masih bersikeras ingin tau, apa alasannya. Tidak. Sunoo tidak akan memaafkannya bahkan jika skenario buruknya supir ini hanya mengalami malfungsi rem.
"Maafkan saya"
Pria itu, meletakkan tangannya yang terborgol di atas meja setelah sebelumnya ia simpan di bawah, menutupi getaran gugup atau takut.
Sunoo menggertak kan giginya keras. Perasaan campur aduk yang menyelimutinya saat ini seperti luapan emosi yang sejak ia tau Sunghoon pergi, ia tidak tahu harus melampiaskannya pada siapa.
Siapa yang bisa ia salah kan untuk keadaan buruk ini.
"Aku sungguh minta maaf... Maaf"
Berulang kali pria itu meminta maaf. Kepalanya tetap tertunduk sambil menangis.
Sunoo menahan airmatanya.
Bukankah ini yang ia inginkan? Setidaknya permintaan maaf? Tapi hatinya tidak juga melunak.
"Kau tahu aku tidak akan pernah memaafkanmu."
Ucapnya dengan sedikit getaran diujung kalimat.
"Saya tahu. Tapi sungguh. Saya... Saya sangat depresi saat itu.. saya-"
"Omong kosong macam apa itu?."
Sunoo menjeda ucapannya. Sebuah tawa tanggung terdengar dari bibir Cherry itu.
"Depresi? Kau pikir hanya kau yang mengalami depresi? Kau pikir kau memiliki hak membunuh orang lain karena alasan depresi? Berhenti bicara omong kosong Ajussi! Katakan padaku siapa yang menyuruhmu?!"
Sunoo tanpa sadar berteriak. Tangannya memerah karena mengepal kuat.
"Ti tidak. Saya melakukannya atas kesadaran sendiri. Saya minta maaf.."
"Kau mengaku kemarin."
"Sa saya masih mengalami depresi. Jadi keterangan saya berubah-ubah"
"Kau-"
Sunoo berusaha menahan luapan emosinya. Meskipun dadanya terasa sakit karena banyaknya kata umpatan dan serapah yang ingin ia katakan, ia menahannya. Ia terlalu bingung harus darimana ia meneriaki pembunuh ini.
Sunoo masih sangat mengingat janjinya pada Sunghoon untuk mengurangi kata-kata umpatan.
Berikutnya, Sunoo menghela nafas beberapa kali.
"Kau yakin? Aku tahu kau memiliki seorang anak usia 9tahun dan kau sangat menyayanginya."
"Jangan menyentuh anak saya. Saya mohon"
Pria itu menangis sesegukan. Kali ini ia menatap Sunoo dengan jemari ia gesekkan memohon pada Sunoo.
Sebelum datang kemari, Sunoo sudah lebih dulu mencaritahu tentang si supir.
Pekerjaannya, keluarganya, kaitannya dengan Sunghoon.
Pria muda itu seorang supir truk pengangkut barang di pelabuhan.
Ia hanya tinggal dengan anaknya yang berusia 9tahun.
Dan ia sama sekali tidak berhubungan apapun dengan Sunghoon.
KAMU SEDANG MEMBACA
Coagulation ( Sungsun / Sunsun )
Fiksi PenggemarSetelah 7tahun, kecurigaan Sunoo mulai terbukti. Kecelakaan yang membuat ia kehilangan Sunghoon itu memang direncanakan! Bxb Mpreg *bagian 1 & 2 ada di book "Shut Up This Is Sungsun" dengan judul yang sama. Silakan dibaca dulu yah, atau kalo lupa j...
