9

838 127 8
                                        

.

Niki sedang mengantri makanan di kantin ketika seorang murid menuangkan air mineral ke atas kepalanya.

"Haha! Maaf ya, aku mencium bau tidak enak, dan setelah ku ikuti ternyata itu berasal darimu.!" Ucap seorang murid itu.

"Apa sih? Kau tidak mandi ya?"
Murid lain juga menimpali, tawa terbahak bergema di seluruh area kantin.

Niki hanya menghela nafasnya, perlakuan seperti ini sudah ia dapatkan sejak dulu, sejak ia keluar dari panti asuhan dan rumor ia anak seorang pembunuh menyebar.

Tapi ia tidak menyangka murid di SMA itu akan tau secepat ini.

Mengganti nama tidak merubah apapun ternyata.

"Hei, aku sudah berbaik hati ya, sana pergi ke kamar mandi dan tuangkan sabun. Saatnya mandi tambahan!"

"Tapi sepertinya baunya tidak akan hilang, kau menciumnya tidak? Seperti bau anyir darah!"

Niki menatap tajam murid itu. Ia tidak pernah terpengaruh asal tidak menjurus pada ayahnya.

"Apa yang kau lihat?! Berani sekali kau melihatku seperti itu hah?!" Murid yang bahkan tidak lebih tinggi dari Niki itu mendorong dengan keras hingga Niki menabrak meja belakang.

"Ei, jangan berlebihan, kau tidak lihat matanya? Dia bisa membunuhmu kapan saja!"

"Augh, tidak heran sih, dia memang anak pembunuh!"

Niki menonjok murid itu dengan sekuat tenaga nya. Ia sudah mencoba menahan sedari tadi tapi kedua murid itu sepertinya ingin melihatnya marah.

Ruang kantin berubah menjadi gaduh. Niki menghajar keduanya bergantian walaupun ia babak belur.
"Jangan pernah mengatakan apapun tentang Appaku!"

"Niki!"
Jungwon hendak melerai sebelum ditahan Sunghoon.
Pria berkulit pucat itu menggeleng.
"Kenapa? Niki bisa melukai mereka jika dibiarkan."

"Bukan urusanmu, kau lupa untuk tidak ikut campur?"

"Tapi..."
Jungwon melihat dengan cemas, ia khawatir Niki akan terkena masalah serius.

"Tenang saja, mereka tidak akan mati,"

"Bagaimana aku bisa tenang jika yang mengatakannya saja seorang Malaikat Kematian?"

"Ah, hanya informasi saja, tidak ada tugas di sekolah selama beberapa bulan. Dan hari ini aku petugas paling sibuk di Seoul sangat senggang, jadi aku memutuskan mengikuti keputusan berbahayamu karena keluar mengikuti Niki selama ini. Kau lemah tanpa tubuh, ingat?"

Jungwon mendengus kesal. Ia hanya bisa melihat pekelahian Niki dari jauh.
Jungwon bertambah kesal karena Sunghoon malah terlihat sangat antusias melihat Niki melawan kedua murid itu.
Pria itu bahkan sesekali berseru ketika Niki mendapat pukulan, sungguh tidak ada niatan untuk sekedar mendekat pada Niki dan menghentikannya.

Berakhirlah kedua nya hanya melihat Niki adu jotos tanpa bisa melakukan apapun, Termasuk ketika seorang guru melerai mereka dan membawanya ke ruang Guru.

Niki dan ke 2 murid itu mendapat hukuman. Mereka di skors untuk waktu yang cukup lama. 3 Minggu.

"Niki, kau tidak apa?"
Tanya Jungwon.
Ketiganya kini berada di taman. Niki harus pulang lebih awal karena ia harus menjalani hukumannya.

"Eoh, tidak apa hyeong."
Niki meringis. Sudut bibirnya sedikit sobek.

"Astaga, kau harus membeli obat luka, lihat ini pasti sangat perih."

"Tidak apa hyeong, tenang saja."

"Ck, anak ini lebih tangguh daripada yang terlihat, kau tenang saja dia tidak akan mati hanya karena itu."
Ucap Sunghoon yang langsung mendapat balasan berupa death glare mengerikan dari Jungwon.

Coagulation ( Sungsun / Sunsun )Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang