04| Hard to avoid

2.3K 244 4
                                        

   "Nah, karena kau pindah sekolah. Jadi, biar ku ajak kau berkeliling!" ucap Hanna sembari menarik Yohan keluar dari kelas.

Sepanjang koridor, banyak pasang mata yang memperhatikan mereka. Hanna tak peduli, dia senang sekarang lantaran ada Yohan yang jelas akan membuat hidupnya lebih berwarna. Walaupun dia tahu konsekuensinya adalah mendapatkan hukuman dari Yoojin.

Setelah selesai berkeliling, Hanna mengajak Yohan ke kantin untuk makan bersama. Tentu saja keduanya menjadi pusat perhatian.

   "Yohan, bagaimana bisa kau pindah?" tanya Hanna penasaran, sejujurnya aneh saja Yohan tiba-tiba pindah.

   "Ya, tidak ada alasan khusus aku pindah. Di SMA Jaewon sedikit membosankan jika tidak ada kau."

   "Haha, kan ada anak-anak yang lain."

   "Jay pindah sekolah ke luar negeri, sementara Zin sibuk dengan latihan boxingnya. Hyungseok sedang menjalani hidup menjadi trainne, tersisa Mijin, aku dan Haneul saja."

   "Woaah. Jadi mereka tidak memberitahukan hal itu padaku?" tanyanya sedikit kecewa.

   "Makannya jangan menghilang begitu saja dan mengganti nomormu. Anak-anak mencari kau ke mana-mana setelah beberapa hari tidak masuk sekolah."

   "Huhu, kakakku meminta aku pindah sekolah secara mendadak. Yah, setidaknya sekarang kita satu sekolah."

   "Kau benar."

Saat tengah asik mengobrol, semua pandangan seisi kantin kini beralih pada pintu masuk. Seorang pria berjaz hitam berjalan dan berdiri tepat di belakang Hanna. Yohan yang menyadari itu segera memberi kode pada Hanna untuk melihat ke belakangnya. Hanna tak paham, tetapi tepat berbalik. Betapa terkejutnya dia mendapati kakaknya berdiri dengan menampakan senyuman maut tersebut. Banyak yang akan terpikat dengan senyumannya, tetapi tidak dengan Hanna.

Dia tahu, dirinya sedang dalam masalah besar sekarang. Hanna mendadak terdiam dan menundukan pandangannya. Yoojin pun ikutan duduk tepat disebelah Hanna.

   "Oh, halo kak Yoojin!" sapa Yohan ramah.

   "Halo. Kau bersekolah di sini? Aku baru tahu!"

   "Aku baru pindah dan tadi Hanna membantuku berkeliling."

Hanna yang namanya di sebut, sudah gemetar. Dia sedang memikirkan nasibnya ketika tiba di rumah nanti. Tiba-tiba Yoojin merangkul dan meremas lengan Hanna, walau tidak ada yang perhatikan.

   "Tadi kakak sudah bilang pada guru kalau hari ini kau harus pulang cepat. Ingat, kita ada janji dengan nenek."

   "Bu-"

Hanna belum menyelesaikan kalimatnya, dia sudah membeku melihat bagaimana Yooji memberinya tatapan tajam. Hanna memilih untuk mengangguk saja.

   "Yohan, aku pulang dulu. Kalau kau ingin bertanya, tanya saja pada teman-temanku, Arin dan Bomi."

Yohan hanya mengangguk dan melihat Hanna pergi meninggalkan kantin. Di dalam mobil, Hanna tertunduk diam seribu bahasa. Raut wajah Yoojin benar-benar menunjukan ekspresi marah. Dia membawa mobil denhan kecepatan penuh, tak peduli jika harus ada yang tertabrak.

Setibanya di rumah, Hanna berjalan dengan lesu dan duduk di sofa. Yoojin yang baru masuk pun menyeret Hanna ke dalam gudang. Dia bahkan tak segan menampar adiknya itu dan mendorongnya ke tembok.

   "Beraninya kau tidak mendengarkan ucapan kakakmu. Bukankah sudah ku katakan untuk menjauh dari bocah itu!"

Yoojin mencengkram rambut Hanna dan mendekatkan wajahnya. Gadis malang itu sudah menangis sesegukan, darah segar juga keluar dari hidungnya, tetapi Yoojin sama sekali tak peduli.

The Step Brother-LookismCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang