🍃 Plan B - 16 -

5.7K 1K 542
                                    

•••

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.



Seharusnya, Lisa memahami lebih awal jika apa yang ia rencanakan, segalanya tak akan berjalan dengan mudah. Terlebih jika menyangkut masalah perusahaan, tentu jalan terjal dan batu sandungan, telah terletak di depan mata.

Seperti sekarang ini. Tepat di tengah jalan terjal yang ia lewati, batu sandungan seolah terletak tepat di tengah-tengah jalan terjal tersebut. Sebuah batu sandungan yang teramat besar, hingga seolah menutupi seluruh jalan yang akan ia lalui.

Lee Minjoon. Pria paruh baya ini, benar-benar seperti sebuah batu kokoh nan besar, yang siap menghadang segala langkah Lalisa.

Dengan sorot mata yang sama sekali tak mengendur, Lisa menatap presensi pria paruh baya di hadapannya itu. Kendati sorot mata tajam Lisa terasa begitu menusuk, namun sedikitpun, Lee Minjoon tak merasa terintimidasi. Pria yang sejatinya merupakan paman Lisa itu, justru menyunggingkan senyum samar, terlihat menyebalkan.

Menghela napas sejenak, suara Lee Minjoon menguar. Memecah senyap yang melanda.
"Baiklah Lalisa, paman rasa cukup. Pikirkan baik-baik. Jika kau merasa keberatan, mundur dari sekarang bukanlah hal yang mengejutkan. Dan paman, bisa bisa memakluminya."

Selepas berucap demikian, Lee Minjoon lantas berdiri. Dengan segaris senyum remeh di bibirnya, pria itu memutar tubuh dan beranjak meninggalkan Lalisa yang masih mendudukkan diri dengan rahang yang mengetat sempurna. Lee Minjoon sama sekali tak peduli. Karena baginya, ia telah melakukan apa yang harus di lakukan.

Cklek,

Menutup pintu ruangan Lalisa, Lee Minjoon sedikit tersentak kala mendapati presensi Jungkook, kini berada tepat di hadapannya. Dimana suami keponakannya itu, terlihat menyandarkan tubuh dengan kedua tangan bersedekap di depan dada. Dan kala pintu tertutup, Jungkook terlihat mengangkat kepalanya yang tengah menunduk. Membuat iris legam keduanya, seketika saling bertemu.

"Selamat siang, Presdir Lee..." Melepaskan lipatan tangannya, Jungkook sedikit membungkukkan tubuh sekejap. Memberi salam pada pria di hadapannya itu.

Berdehem pelan, Lee Minjoon menyunggingkan senyum seraya bersuara,
"Nak Jungkook, kau berada di sini? Bukankah, ini waktunya untuk bekerja?"

Mendengar pertanyaan Lee Minjoon, Jungkook tersenyum santun.
"Pekerjaan ku tidak banyak Presdir. Aku bisa menyelesaikan kapanpun aku mau..." Jungkook menjeda ucapannya sejenak.

"Presdir Lee sendiri, mengapa berada di sini? Bukankah ini waktunya untuk bekerja?"

Entah hanya perasaan Lee Minjoon, atau memang Jungkook tengah menyerangnya. Namun, rasanya sangat menyebalkan saat suami keponkanannya itu, melemparkan pertanyaan yang sama dengan dirinya.

Kembali menyunggingkan senyum, --menekan segala emosi yang telah tersulut,-- suara Lee Minjoon kembali menguar. "Ah, paman hanya mengunjungi perusahaan keponakan ku."

BLANK SPACE [DI NOVELKAN] ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang