Madeline menatap rumah besar dengan gaya Eropa itu dengan pandangan muram. Ini adalah rumah tempat di mana ia dibesarkan selama hampir dua puluh tahun. Tapi sekarang ... rumah ini juga terlihat menyakitkan baginya karena di rumah ini lah dia harus mati di kehidupan sebelumnya.
Mengingat kematiannya kembali, membuat Madeline mengepalkan kedua tangannya erat. Rasa kebencian yang begitu kuat tersimpan jauh di lubuk hatinya. Belum lagi, jika dia harus melihat dua manusia yang sangat ingin ia musnahkan. Madeline tidak yakin, ia bisa mengontrol emosinya dan membunuh mereka saat itu juga.
Tapi Madeline tahu, dia tidak bisa gegabah. Dia harus menahan semuanya, demi permainan yang sempurna yang telah ia ciptakan.
Gadis itu mengangkat tangannya, dan memegang gagang pintu kemudian. Dan ketika pintu terbuka, yang pertama kali ia lihat adalah Javis dan Irene yang tengah tertawa bersama di ruang tamu.
Irene memukul-mukul pelan pundak Javis sambil tertawa, lalu Javis mencoba memegang tangan Irene untuk menghentikan pukulannya.
Mereka nampak begitu mesra, seperti sepasang kekasih yang berbahagia.
Melihat pemandangan ini, dan ketika mendengar suara tawa mereka, membuat percikan api kebencian bergejolak di dalam diri Madeline. Ia mengepalkan kedua tangannya erat dan mengigit bibir bawahnya, guna menahan amarah yang kini berkobar saat melihat dua orang yang paling ia benci.
Irene yang tanpa sengaja melihat Madeline di depan pintu masuk, seketika langsung menghentikan tawanya. Dia memberikan kode pada Javis untuk berhenti menggodanya.
"Kakak, kakak sudah pulang?" Irene bangkit dari duduknya, lalu menghampiri Madeline yang berdiri mematung di depan pintu. Senyum lembut tak pernah lepas dari bibir Irene, sehingga dia terlihat seperti Dewi yang berhati lembut.
"Maddy, kau dari mana saja? A-aku, datang ke sini untuk mencarimu tapi Irene mengatakan kau dua hari ini tidak pulang, ja-jadi aku menunggumu di sini karena cemas," kata Javis yang juga ikut menghampiri Madeline.
Sementara Madeline, hanya menatap mereka berdua dengan tatapan dingin. Sulit sekali untuk menahan amarah pada mereka berdua.
Ia melirik sekilas pada Javis lalu tersenyum sinis kemudian.
Dulu ... ia begitu bodoh dan begitu terlena dengan segala kelembutan Javis sehingga membuat ia mati dalam penyesalan yang tidak berujung. Dulu, ia berpikir menikah dengan Javis adalah anugerah. Ia selalu berpikir hidupnya Sempurna. Menikah dengan pria yang ia cintai, memiliki adik yang bisa ia percaya, ia tidak pernah kekurangan uang, dan sebentar lagi ia akan memiliki anak dari hasil pernikahannya.
Tapi ternyata, yang tidak ia duga, kehidupan sempurna yang ia pikirkan hanyalah tipuan semata. Suaminya tidak pernah mencintainya dari awal, dan adiknya adalah musuh yang menunggu kehancurannya.
Mengingat hal ini, hanya membuat Madeline tertawa miris. Untungnya, surga masih berbaik hati dan membuat ia hidup kembali.
Lihat saja, baik itu Javis ataupun Irene, ia tidak akan melepaskan mereka berdua dengan mudah.
"Kakak, kenapa kakak diam saja? Adakah yang menganggau pikiran kakak?" Irene bertanya penuh perhatian, ekspresi cemas tergambar di wajahnya.
Pertanyaan dari Irene barusan, membawa Madeline ke dunia nyata. Ia mengangkat wajahnya lalu menatap Irene tajam. "Tidak," jawabnya dingin.
Baik Irene dan Javis kompak mengerutkan kening mereka ketika mendengar jawaban Madeline. Pasalnya, Madeline yang mereka kenal tidak akan memperlakukan Irene dengan dingin. Madeline yang mereka kenal, akan bersikap seperti orang bodoh dan akan terus menempel pada Javis.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rebirth, spoiled by the CEO
DragosteDi kehidupan sebelumnya, Madeline telah mati karena dikhianati oleh suami yang paling dia cintai dan adik yang paling dia percaya. Dua orang yang paling berharga dalam hidupnya, bersatu dan menghancurkannya. Jantungnya digali, anaknya dibunuh, waja...
