Ketiga orang itu sontak langsung melihat ke sumber suara, bahkan tanpa sadar Javis melepaskan genggaman tangannya pada Madeline saat melihat Kevlan datang.
Benar sekali lelaki itu datang untuk menjemput Madeline, karena tumben sekali gadis kecil pujaannya mengajak ia pergi ke pesta ulang tahun keluarga Reigan, tentu saja Javis tidak mungkin menghilangkan kesempatan emas ini.
Akan tetapi ia merasa gelisah karena Maddynya tak kunjung turun padahal gadis itu sudah nemberikan kabar kalau ia sudah bersiap sedari tadi, dan sesuai dugaannya Madeline sedang diganggu oleh dua makhlukh sampah seperti mereka.
"Kevlan!" Madeline langsung berlari ke pelukan Kevlan, sorot matanya berbinar karena orang yang selama ini ia tunggu akhirnya datang. Kevlannya, kekasihnya, penyelamatnya.
"Kau tidak apa-apa Maaddy?" tanya Kevlan lembut yang dibalas gelangan kepala oleh gadis itu.
"Syukurlah." Kevlan bernapas lega, lirikan matanya menatap tajam pada Irena dan Javis secara bergantian.
Kevlan sangat membenci Javis, karena baginya lelaki bajingan itu hanya memanfaatkan kepolosan Madeline saja.
"Kevlan kau tidak perlu ikut campur! Sebab ini adalah urusanku dengan KEKASIHKU!" Javis berkata sambil menekan kata Kekasih, sebab ia tau jikalau Kevlan mencintai Madeline seperti orang gila. Orang gila itu bahkan akan bersedia melakukan apapun untuk Madeline, yang membuat Javis tak paham apa yang dilihat dari Kevlan dari wanita yang sangat nengerikan seperti Madeline.
"Oh ya? Kemarin Madeline bilang ia sudah memtuskan hubungan denganmu," ujar Kevlan mengejek.
"Javis, apakah kau mengalami Dimensia? Aku sudah mengakhiri hubungan kita melalui chat karena aku sudah muak denganmu!"
Mendengar ucapan Madeline, buru-buru Javis membuka ponselnya dan melihat room chatnya dengan Madeline. Selama ini ia hampir tidak pernah membalas pesan chat dari Madeline karena baginya itu merepotkan.
Akan tetapi meskipun Madeline tidak pernah mendapatkan balasan dari lelaki itu, ia tetap mengirimkan ucapan selamat pagi, menyemangati hari-harinya, mesmastikan Javis sudah pulang ke rumah atau belum dan mengingatkan Javis untuk jangan lupa makan.
Semua pesan-pesan Madeline hanya mendapatkan 'ya' bahkan balasan seperti itupun sangat jarang. Hanya pada saat Javis dalam keadaan suasana hati yang baik baru ia membalas pesan Madeline.
Namun, pada saat ia membaca pesan perpisahan dari Madeline membuat Javis sedikit merasa tak suka, ada sesuatu dalam dirinya yang bereaksi seharusnya ini tak boleh terjadi. Tanpa sadar tatapan matanya berubah pada Madeline dan Irene melihat arti tatapan Javis Madeline dan Irene tak suka itu.
"Ka Maddy, kenapa kakak meminta putus pada ka Javis? Apakah ini karena aku ka? Kaka terlalu cemburu karena selama ini ka Javis selalu bersamaku? Ketahuilah ka yang dicintai ka Javis selama ini adalah kaka, ka Javis hanya menganggapku adik selama ini." Irene berkata panjang, suaranya dibuat sedih entah untuk tujuan apa.
Melihat Irene yang menyalahkan dirinya sendiri membuat Javis merasa tertekan, dia tidak ingin gadis pujaannya bersedih. Padahal, kalau bukan karena permintaan Irene yang menyuruh ia menjadi kekasih Madeline, sumpah demi Tuhan Javis tidak akan sudi melakukannya.
"Tidak Irene, ini bukan salahmu. Jikalau Madeline ingin putus denganku, biarkan saja dia, aku merasa bersyukur karena akhirnya aku terbebas dari wanita terkutuk seperti dia."
Buggh
Begitu Javis menyelesaikan perkataannya, Kevlan langsung meninju wajah Javis begitu saja, ia sangat tidak suka bila ada orang yang mengatakan hal buruk tentang Madeline dihadapannya.
"Tutup mulutmu! Maddyku bukan perempuan terkutuk seperti gadis pujaanmu itu, dia jauh lebih baik dari apa yang kau pikirkan, aku sudah menahan sabar untuk tidak mengotori tanganku karena memukul bajingan sepertimu, tapi kata-katamu semakin membuat aku tak tahan untuk menghabisimu sekarang juga!" Kevlan sudah naik pitam, emosinya tersulut karena ucapan Javis pada Madeline.
"Ayo Maddy, kita pergi dari sini, nanti kita terlamat pergi ke pesta nenekmu," ujar Kevlan seraya menarik lembut pergelangan Madeline, mereka berdua pergi begitu saja meninggalkan Javis yang masih merintih kesakitan sedangkan Irene menatap benci Madeline.
Kenapa? Kenapa Kevlan selalu berpihak pada Madeline? Apa yang kurang darinya sehingga lelaki itu selalu memuja Madeline, dari dulu ia selalu iri pada Madeline yang mendapatkan perhatian Kevlan penuh, karena sedari dulu juga ia selalu mencoba untuk mendapatkan perhatian Kevlan akan tetapi hanya tatapan dingin yang ia dapatkan.
Untungnya, Madeline yang bodoh jatuh cinta pada Javis, sedangkan Javis malah jatuh kepelukannya, Irena sempat merasa diatas awan karena berhasil merebut cintanya Madeline, akan tetapi sekarang kakanya yang bodoh itu sudah tidak menginginkan Javis lagi dan ini semua membuat Irene merasa muak.
***
"Silakan masuk, tuan puteri." Kevlan membukakan pintu mobil untuk Madeline, dan tak lupa ia sedikit membungkuk seakan-akan menyambut putri bangsawan sungguhan.
Madeline tersenyum manis. "Terimakasih Pangeran tampan," balasnya yang tak mau kalah.
Ujung telinga Kevlan sedikit memerah saat mendengar ucapan Madeline karena biar bagaimanapun Madeline hampir tidak pernah memujinya.
Melihat Kevlan yang sedikit tersipu malu membuat Madeline tersenyum geli.
"Apakah pangeran tampan kita sebegitu malunya dipuji oleh si putri cantik?" tanya Madeline meledek.
"Tidak, aku biasa saja."
"Oh benarkah? Kenapa mukamu memerah? Apakah tidak pernah ada yang memanggilmu tampan?" tanya Madeline kembali meledek.
"Menurutmu dengan wajahku ini tidak ada satu orangpun yang mengatakan aku tampan?" Kevlan membalas meledek, tentu saja ia percaya diri dengan penampilan dari dia kecil hingga sekarang dia selalu menjadi pusat perhatian kemanapun ia pergi, banyak gadis cantik yang mengejarnya, akan tetapi baik dulu maupun sekarang pemilik hatinya tidak pernah berubah, ia hanya mencintai Madeline seorang.
"Oh baiklah, pangeran tampan. Kalau begitu aku akan menjadi orang yang selalu memanggilmu tampan setiap harinya." Madeline menatap dalam Kevlan tangannya tanpa sadar menguyel pipi Kevlan.
"Tampan."
"Tampan."
"Tampan."
Madeline berkata seperti itu sambil terus menguyel-uyel pipi Kevlan ia gemas sendiri melihat wajah kaku pria itu yang jarang memiliki ekspresi di wajahnya.
Sementara sang empu, hanya diam ia sedikit menikmati gerakan tangan Madeline di wajahnya.
"Maddy, jika ada orang yang jahat padamu cukup beritahu aku, biar aku yang membereskannya untukmu, jangan melawannya sendirian, meskipun aku tau kamu bisa, tapi tolong tetap beritahu aku," ucap Kevlan seraya menggenggam lembut tangan Madeline yang ada di wajahnya.
Madeline terpaku seketika, selama ini ia baru merasakan diusahakan dan dibela sebegitunya oleh Kevlan. Tapi untuk saat ini ia tidak ingin melibatkan Kevlan terlalu jauh pada rencananya, karena ia takut. Takut jikalau Kevlan terluka lagi karena dirinya.
"Iya Kevlan aku pasti akan memberitahumu, kamu tenang saja," jawab Madeline menenangkan.
"Bagus, itu baru namanya gadis yang baik." Kevlan mengelus lembut puncak kepala Madeline.
Sementara Madeline menikmati kenyamanan ini, ia berharap semoga ia bisa menang dalam rencana besar yang ia buat.
***
Holaa guysss Madeline Update lama baget buset ini cerita gak update-update maklum author lgi mood nulis tiba-tiba guyss
Ayo semangatin authorr dong dengan vote dan coment cerita ini
Love you guyss❤️❤️
KAMU SEDANG MEMBACA
Rebirth, spoiled by the CEO
RomansaDi kehidupan sebelumnya, Madeline telah mati karena dikhianati oleh suami yang paling dia cintai dan adik yang paling dia percaya. Dua orang yang paling berharga dalam hidupnya, bersatu dan menghancurkannya. Jantungnya digali, anaknya dibunuh, waja...
