Madeline masuk ke dalam kamarnya, ia tidak lagi memperdulikan Irene dan Javis di luar sana. Langsung saja setelah itu ia melihat ke arah cermin yang terpasang di sana dan memperhatikan penampilannya secara seksama.
Gadis yang terpantul di cermin, memang cantik, akan tetapi gaya pakaiannya terlalu kuno. Kacamata tebal yang Madeline gunakan, membuat ia terlihat membosankan. Ditambah, wajahnya yang polos tanpa mengenakan make up apapun, membuatnya terlihat sedikit kusam.
Tanpa pikir panjang, Madeline buru-buru melepas kuncir duanya, dan melepaskan kacamata tebalnya begitu saja. Untuk membalas dendam dan membuat hidupnya ke tahap yang lebih baik, Madeline harus membuat perubahan yang bisa memukau orang-orang. Ia tidak bisa menjadi gadis yang tidak menarik perhatian begini.
"Irene, dulu kau mendoktrin aku untuk berpenampilan kuno seperti ini. Karena kau tidak ingin merasa tersaingi, tapi sekarang, aku tidak akan lagi mau menerima permintaan bodohmu itu dengan cara berpenampilan konyol," gumam Madeline seraya mengingat kenangan masa lalu. Akan ia pastikan, dalam hidup ini baik itu Irene, Javis dan ibu tirinya tidak akan pernah bisa mengekspolitasinya seperti dulu.
Madeline sebenarnya sangat cantik, fitur wajahnya begitu halus dan lembut, akan tetapi sayang, penampilanya yang terlihat seperti gadis kuno, membuat Madeline seperti gadis yang membosankan. Kali ini, setelah Madeline diberikan kesempatan untuk hidup. Tentu saja dia akan mengekspose kecantikannya dengan bebas tanpa harus mendengar omongan orang lain lagi.
Ia mulai mengambil bedak padat, dan mengaplikasikannya secara merata ke wajahnya, tak lupa ia menambahkan liptint ke bibirnya. Sehingga kini penampilan Madeline terlihat lebih fresh.
Wajah memang tidak pernah berbohong, karena Madeline sebelumnya sudah cantik, dan setelah ia menambahkan sedikit olesan bedak dan liptint kini ia terlihat lebih menarik.
Ia mulai mengganti pakaiannya ke pakaian yang lebih baik digunakan, sehingga kini penampilan Madeline sangat bagus dibandingkan dengan yang sebelumnya.
Madeline merasa puas dengan penampilannya saat ini. Ia tersenyum sinis dan berkata, "Mari kita lihat, apakah si medusa Irene akan merasa kepanasan setelah melihat aku yang merubah gayaku seperti ini?"
Memikirkan wajah Irene yang kepanasan ataupun terkejut membuat Madeline merasa tak sabar. Hal yang bagus bukan, jika Medusa yang satu itu kehilangan kesabarannya? Madeline ingin dengar, kata-kata apa yang akan Irene keluarkan ketika melihat ia yang mulai membangkang perintahnya. Apakah medusa itu akan merasa panik? Jika iya, Madeline akan merasa sangat senang. Karena semakin Irene kehilangan ketenangannya, itu akan semakin bagus baginya.
Karena begitu Irene mulai kehilangan ketenangannya, maka ... ia akan mulai menjadi bodoh.
Untuk itu, Madeline segera keluar dari kamar dan menemui mereka berdua.
***
Begitu Madeline sampai di ruang tamu, ia malah disuguhkan pemandangan yang hampir membuatnya bergidik. Memangnya apa lagi kalau bukan adegan di mana Irene dan Javis saling menatap dengan penuh cinta.
Melihat hal ini, membuat Madeline mendadak ingin muntah.
"Sayang, adik. Apa yang sedang kalian lakukan?"
Suara Madeline barusan, membuat Javis dan Irene menghentikan acara tatapan mereka berdua. Mereka buru-buru memutuskan kontak mata mereka berdua, dan mendadak salah tingkah satu sama lain.
Namun, tepat setelah mereka melihat ke arah Madeline. Baik Javis maupun Irene mendadak kaku. Mereka tidak pernah berpikir Madeline akan mengubah penampilanya seperti ini.
Javis merasa sedikit terkesima dengan penampilan Madeline yang baru. Sementara Irene, sudah mulai mengepalkan tangan kanannya kuat. Karena ia merasa tak suka dengan Madeline. Ia tau, bahwa Madeline sangat cantik, bahkan kecantikan yang Madeline miliki melebihi dirinya. Maka dari itu selama ini ia mendoktrin Madeline untuk jangan pernah berdandan dan selalu mengenakan baju-baju yang sudah ia pilihkan.
Hal tersebut semata-mata karena ia tidak ingin, kalah dari Madeline.
Rambut Madeline yang lurus namun sedikit ikal di bagian bawah menambah kesan keunikan tersendiri, juga bentuk tubuhnya yang ideal membuat Madeline semakin memukau.
Untuk urusan fisik, gadis itu memang pantas dijuluki sempurna, karena baik dari segi wajah dan tubuhnya tidak ada yang mengecewakan. Hal ini, membuat Irene benar-benar iri pada Madeline.
"Kakak, kau akan pergi kemana? Mengapa kau harus berpenampilan seperti itu?" tanya Irene lembut. Namun, jejak ketidaknyamanan terlihat jelas di matanya.
"Aku tidak akan pergi kemanapun, aku hanya ingin berdandan saja, apakah itu tidak boleh?" tanya Madeline yang tak kalah lembut. Ia masih harus berpura-pura bodoh, untuk membuat Irene dan Javis berpikir bahwa dia masihlah Madeline yang bodoh, dan masih bisa mereka manfaatkan.
Irene buru-buru menggelengkan kepalanya. "Ah tidak kakak, maksudku bukan begitu. Kau kurang cocok dengan penampilan seperti ini, aku lebih menyukai kakak yang berpenampilan seperti sebelumnya. Kalau kau berdandan begini, kau tidak terlihat bukan kakakku," ucap Irene yang sedikit merajuk.
Madeline hanya terkekeh sinis dalam hati tatakala ia mendengar jawaban Irene, ia tau betul Irene hanya takut kalah saing. Medusa itu tidak ingin melihat Madeline yang jauh lebih baik darinya.
Sungguh, perasaan iri yang ada di hati manusia begitu merepotkan.
"Tapi ... aku merasa lebih nyaman dengan penampilanku sekarang. Aku juga merasa jika aku terlihat lebih baik, bukan begitu sayang?" tanya Madeline seraya melihat ke arah Javis seakan meminta persetujuan, tak lupa ia memberikan senyuman manis sehingga kini pesonanya menigkat.
"Ya Madeline jauh lebih cantik sekarang," jawab Javis tanpa sadar, ia masih terlena dengan perubahan yang ada pada Madeline.
Mendengar jawaban Javis, Irene langsung menghadiahi Javis tatapan tajam. Seperti wanita yang tengah cemburu saat mengetahui kekasihnya baru saja menggoda wanita lain.
"Kau dengar sendiri bukan? Kekasihku sendiri mengatakan, aku terlihat lebih baik sekarang." Madeline tersenyum manis. Namun, senyuman manis itu nampak menyebalkan bagi Irene.
"Kalau begitu kakak, aku tidak bisa mengatakan apa-apa lagi jika kau lebih nyaman begini. Apapun keputusanmu, aku akan selalu mendukungmu," kata Irene yang mencoba untuk menahan gejolak amarah yang begitu kuat di dadanya.
Ia tahu, ia tidak bisa secara terang-terangan memerintahkan Madeline begitu saja. Ia harus menggunakan cara halus untuk terus menipu si bodoh Madeline. Dan lagipula, mengapa juga orang yang selama ini menuruti perkataannya mendadak membangkang? Apakah Madeline mulai sadar bahwa selama ini ia hanya dimanfaatkan?
Jika benar begitu, rasanya sangat tidak mungkin. Karena Irene sangat tahu sebodoh apa Madeline. Rasa-rasanya sangat tidak mungkin, Madeline tiba-tiba saja berubah hanya dalam waktu yang sangat singkat.
Ditambah, Madeline belum mencurigai hubungannya dengan Javis, ini masih aman menurutnya. Ia hanya, bersikap lebih lembut lagi agar Madeline mau menuruti perintahnya kembali.
Karena sampai kapanpun, ia tidak akan membiarkan Madeline lepas dari kendalinya.
Hello guys, apa kabar? Saya harap baik. Mohon maaf setelah sekian lama, saya baru update cerita ini. Ya, seperti yang kalian tahu, saya mengalami writer block, dan saya kehilangan ide untuk melanjutkan semua cerita-cerita saya. Tapi akan saya pastikan, saya akan konsisten untuk menulis kembali dan fokus menamatkan karya saya satu-persatu.
Oke thank you guys ❤️❤️❤️
See you next chapter ❤️❤️❤️
KAMU SEDANG MEMBACA
Rebirth, spoiled by the CEO
RomanceDi kehidupan sebelumnya, Madeline telah mati karena dikhianati oleh suami yang paling dia cintai dan adik yang paling dia percaya. Dua orang yang paling berharga dalam hidupnya, bersatu dan menghancurkannya. Jantungnya digali, anaknya dibunuh, waja...
