Happy reading
✳️✳️✳️
Levin melakukan kegiatan wajibnya di pagi hari sebelum melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai tenaga pengajar di kampus, yakni berjoging mengitari kompleks tempat tinggal keluarganya. Jika biasanya ia melakukannya seorang diri, tapi tidak dengan pagi ini. Barry ikut dengannya joging mengitari kompleks. Bukan Levin yang mengajaknya, tapi Barry sendiri yang ingin ikut. Seperti biasa, aktivitas pagi Levin selalu diiringi oleh musik kesukaannya melalui earphone bluetooth yang terpasang pada telinganya. Menurut Levin ikut tidaknya Barry bersamanya, rasanya tetap saja sama. Tidak ada yang istimewa. Ia selalu menikmati kegiatannya seperti hari-hari biasa.
Tidak tahan dengan kebisuan di antara mereka, Barry pun menghentikan gerak kakinya. Ia mendengkus sambil mengembuskan napas dengan sedikit keras, walau yakin tidak akan didengar oleh Levin karena telinga kakaknya tersebut telah tersumpal earphone. Sejak mulai menggerakkan kakinya, sang kakak sedikit pun belum ada mengeluarkan sepatah kata. Hanya dirinya sendiri yang dari tadi mengoceh tidak jelas dan berakhir tanpa mendapat tanggapan. Ia tidak habis pikir jika laki-laki yang menjadi kakaknya tersebut irit sekali bicara, sangat bertolak belakang dengan dirinya. Walau lebih banyak berbicara, bukan berarti juga ia laki-laki bermulut perempuan. Semakin hari ia kian menyadari bahwa kakaknya tersebut bukan hanya irit bicara dengan para anak didiknya di kampus, ternyata terhadap dirinya di rumah juga.
"Kenapa para penghuni kampus terutama kaum hawa sangat mengagumi sosok kulkas berjalan seperti Kakakku ini ya? Bahkan, kedua sahabatku sendiri sangat mengelu-elukan Kak Levin, terutama Sandara," Barry bergumam sambil berkacak pinggang. "Apakah mereka semua sudah tidak bisa berpikir jernih lagi? Padahal menurutku tampang Kak Levin biasa-biasa saja. Dibandingkan dengannya, paras wajahku satu tingkat di atas Kak Levin." Kini sebelah tangan Barry telah mengusap-usap rahangnya sendiri.
Tidak ingin tertinggal jauh, Barry pun bergegas menyusul kakaknya tersebut. Tidak lupa ia mengangguk ramah dan menebar senyum manisnya ketika berpapasan dengan beberapa orang yang juga tengah melakukan olahraga pagi, terutama kaum hawa. Bahkan, perempuan-perempuan yang disapanya tersebut juga terlihat terpukau saat berpapasan dengan sang kakak.
"Pantas saja Kakak betah setiap hari joging, ternyata banyak bertemu dengan pengagum rahasianya," celetuk Barry setelah berjalan di samping Levin yang sedang memeriksa ponselnya. Ia ikut menyamakan langkah dengan laki-laki yang memiliki warna kulit cokelat keemasan tersebut.
"Aku tidak mengenal mereka," Levin menanggapinya tanpa mengalihkan perhatian dari ponsel yang sedang diperiksanya.
"Tapi sepertinya mereka mengenal dan mengagumi Kakak," ujar Barry walau menyadari Levin tetap fokus pada ponsel di tangannya.
Levin hanya mengangkat bahu tak acuh. "Bukan urusanku," balasnya singkat.
"Kak, apakah salah satu dari mereka semua tidak ada yang menarik atau mencuri perhatianmu?" Barry menyuarakan rasa penasaran sekaligus keingintahuannya.
Tanpa menghentikan langkah kakinya, Levin melirik Barry yang berjalan di sampingnya melalui sudut matanya. "Tidak ada," jawabnya kembali singkat dan tanpa intonasi.
"Benarkah?" Barry menyangsikan jawaban kakaknya tersebut. Entah kenapa jawaban yang diberikan oleh sang kakak mengandung sebuah dusta. "Satu pun tidak ada?" tanyanya memastikan.
Levin menjawabnya dengan anggukan pelan dan kembali memasukkan ponselnya ke saku celana selututnya. "Sepertinya Mama sudah hampir selesai menyiapkan sarapan," ucapnya sebelum melanjutkan berlari kecil dan bergegas menuju rumahnya yang sudah terlihat.
Barry hanya menghela napas melihat anggukan kepala Levin, kemudian ia pun menyusul kakaknya tersebut menuju rumah dan mengakhiri aktivitas pagi mereka sebelum melanjutkan melakukan kegiatan masing-masing.
KAMU SEDANG MEMBACA
Secret Romance
RomanceTidak hanya terkenal memiliki sikap dingin dan mimik angkuh di area profersionalnya, di lingkungan keluarga serta sosialnya pun demikian. Namun, tetap saja sosoknya sangat dielu-elukan oleh kaum hawa. Bahkan, banyak perempuan yang bermimpi ingin men...
